Wednesday, July 24, 2013

Dilarang Temenan?




Tambah satu lagi deretan temen gue—pake gue-gue-an dulu kali ini, bukan karena pengen gahol, tapi, biar kerasa aja emosi memberontaknya. Eh, emang siapa sih yang bilang bahasa gue-gue loe-loe itu gaul? Gak juga deh kayaknya. Lagian gak rela gue! Eh, kita lagi ngomong apa tadi? Oia, ulang! Ehm, Tambah satu lagi deretan temen gue yang sudah dilanggar hak asasi dan privasinya oleh pacarnya sendiri. Ini pacar lho! PACAR! PE…A…CE…A…ER…! Bukan suami, apalagi bokap, bukan! Hak asasi apa coba? Hak asasi internetan dan berselacar di dunia maya. Gue selalu shock dan shock lagi. Tapi, kenapa gue yag shock ya? Duh, gue nggak lagi iri ato dengki ya, karena mereka punya pacar dan gue enggak. Gue Cuma salah satu makhluk di bumi ini yang terdiskriminasi karena kelamaan ngejomblo, eit! Ini pilihan gue, bukan karena nggak laku. Oke, baiklah, itu memang kalimat yang gue pinjem dari komunitas jombloers di jagat ini. Tapi, ya sudahlah, kenapa pula mesti bahas gue! Kembali ke topik!
Gini, temen gue baru aja cerita, kalo di efbi ternyata dia nggak temenan sama satu pun temen cowok di kantor. Itu karena cowoknya nyuruh dia unfriend semua temen cowok kita di kantor. Dan sebenernya nggak cuma temen kantor, tapi temen di mana pun. Jadi, mayoritas temen efbinya temen gue itu, cewek. Ini gila! Sebagai sesama kaum cewek, gue ngerasa ini nggak adil. Bener-bener nggak adil. Apa coba haknya para cowok itu ngelarang-ngelarang ceweknya?
Apaaah?? Biar ceweknya nggak diganggu orang usil di jejaring sosial paling ribut itu? Oke, jadi maksud lo pengen ngelindungi cewek lo? Hmm, itu tujuan mulia sih, tapi, mau ngelindungi cewek lo dengan itu—ngelarang bergaul dengan cowok lain di jejaring sosial—nggak bakal mempan, sob! Bukan gitu caranya kalo mau ngelindungi pacar. Tapi, nikahin dia. Ya, dinikahin. Nikah! Kalo udah nikah semua kekhawatiran bakal ilang. Oke, ngomong emang gampang. Tapi, ya udahlah, kalo emang nggak bisa ngelindungi dengan nikah, ya biarin aja lah dia bebas dulu. Gue bener-bener nggak rela temen-temen cewek gue dikekang kebebasannya. Emang hak lo apa, sih? Wong babe ato bapaknya aja nggak ngelarang!
Ada lagi ceweknya sepupu gue, kasian banget. Nasibnya bener-bener memprihatinkan. Sialnya lagi, dia nurut-nurut aja tuh sama sepupu gue yang ganteng aja enggak, ups! Bener-bener nggak tega gue sama cewek itu. Dia nggak cuma dilarang bergaul dengan cowok lain di efbi ato jejaring sosial lainnya. Jangankan itu, parahnya, dia dilarang bikin akun. Jadi, dia nggak punya akun apapun, nggak tau deh email apa dia punya ato nggak. Duh, Gusti..! hari gini?!
Sekarang gini lho, wahai para teman cewek gue sebangsa setanah air, senasib sepenanggungan! Jangan biarkan kebebasanmu direnggut begitu saja oleh kaum cowok. Ini benar-benar ketidak-adilan yang nyata. Kalian dilarang bergaul sama temen-temen cowok (padahal cuma temen lho!) di jejaring sosial, sedangkan mereka dengan santainya nyolek sana-nyolek sini cewek-cewek dengan foto profil unyu-unyu. Parah lagi, kalo kalian dilarang punya akun sama sekali. Kalian nggak tau kan cowok kalian ngapain aja di jejaring sosial itu? Jadi, pliiis, jangan mu dibego-begoin sama cowok yang ngaku pacar kalian. Iya, kalo sama suami. Kalian harus nurut kalo sama suami. Tapi, kalo sama pacar yang entah bakal jadi suami kalian atau enggak, itu lho, yang bikin gue miris. Bagus kalo jadi nikah, lha kalo enggak? Duh, sedih amat hidup lo.
Come on, guys! Gue sayang sama kalian wahai kaum cewek se-jagat, jadi, tolong jangan membodohi diri kalian, tolong jangan termakan oleh rayuan gembel mereka yang bilang demi kebaikan kalian lah, bilang cemburu lah, karena sayang lah, bilang cinta lah, jangan mau kemakan! Kalo emang bener cinta, sayang, de es be, mereka bakal langsung datengin orang tua kalian. Melamar. Kalo ada alasan belum siap berumah tangga, ya siapin dulu atuh! Kaga perlu tuh pake muqoddimah pacaran dulu. Kaga ada manfaatnya, nambah dosa, iya!
Jadi, selama kalian belum jadi istri orang, kalian punya hak mencari pergaulan yang lebih luas, masih bebas bergaul sana-sini, jangan sampe terkungkung dengan label cewek setia. Setia itu cuma buat suami. Selain itu bukan setia namanya, tapi, menutup diri. Heiii… di jejaring sosial itu bukan berarti bergaul tanpa manfaat, bukan berarti nyari temen buat dicolek. Di efbi misalnya, kalian bisa join di group komunitas-komunitas dengan berbagai kegiatan positifnya. Ya, itu tergantung kamunya juga sih, tujuanmu berselancar di dunia maya itu untuk apa. Kalo emang mau cari cowok buat diajak chat ngalor-ngidul nggak jelas gitu sih selain buang pulsa internet, kalian buang-buang waktu aja. Oke, baiklah gue males bikin kalimat penutup. Semoga tulisan ini bermanfaat. Yuk dahdah, bay…bayy….


Monday, July 15, 2013

Resensi Novel



Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin




Author                  : Tere Liye
Peresensi            : Nina Pradani
Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit       : Juni, 2010 ( 2013 - cetakan kesembilan—waoW! )

“Dulu Anne pernah bilang, orang yang memendam perasaan sering kali terjebak oleh hatinya sendiri. Sibuk merangkai semua kejadian di sekitarnya untuk membenarkan hatinya berharap. Sibuk menghubungkan banyak hal agar hatinya senang menimbun mimpi. Sehingga suatu ketika dia tidak tau lagi mana simpul yang nyata dan mana simpul yang dusta.” Halaman 247.

Dari semua isi novel ini, saya paling setuju dengan sepenggal kalimat itu, dan memang itu inti dari keseluruhan ceritanya. Namun sayang, saya bahkan tidak setuju dengan judul novelnya, Daun Yang Jatuh Tidak Pernah Membenci Angin. Saya tidak pernah bisa setuju. Bagaimana mungkin seorang Tere Liye bisa tahu bahwa daun tidak pernah membenci angin. Apakah daun itu pernah curhat padanya? Apakah Tere Liye bisa mendengar daun itu berbicara? Apakah dia pernah bertanya pada sang daun? Bagaimana jika daun—yang memang tidak pernah melawan angin—itu sangat teramat benci pada angin, tapi dia tidak mampu berbuat apa-apa, bahkan untuk mempertahankan dirinya? Bagaimana jika ia hanya bisa membiarkan begitu saja angin menerbangkannya, meskipun harus terbang dengan perasaan kesal? Bagaiamana jika ia terbang dengan kebencian yang tak pernah mau didengar oleh angin?
Seberapa yakin Tere Liye dengan kalimat—yang sekali lagi, berhasil membuat saya untuk membeli novelnya—itu? Apakah dia sudah mewawancarai daun-daun yang ada di seluruh muka bumi ini? Bagaimana mungkin dia bisa yakin dan dengan pede-nya menjadikan kalimat itu untuk judul novelnya? Sebagai editor bacaan anak, saya akan mencari logika yang tepat dan masuk akal untuk kalimat aneh itu, jika tidak, anak-anak akan bertanya ini-itu. Sayangnya, novel ini bukan bacaan anak. Oleh karena itu, saya tidak berhak protes. Lagi pula, apa arti celotehan saya, jika novel ini sudah sedemikian laris manisnya, lihatlah! Hmpfh… Buat orang dewasa—apalagi yang sedang jatuh cinta—semua kalimat itu masuk akal saja. Dan mengibaratkan daun itu sebagai dirinya, angin sebagai orang yang dicintainya.
Hei, tunggu dulu! Saya kan sedang mau bikin resensi, kenapa jadi ngelantur gini sih? Bukan itu sebenarnya yang ingin disampaikan Tere Liye dalam novel ini. Sebaiknya mari kita buatkan ringkasan ceritanya dulu. Ringkasan ini akan lebih banyak mengutip kalimat langsung Tere Liye. Saya tidak akan terlalu banyak menggunakan kalimat sendiri, saya takut malah menyimpang dari maksud penulisnya.

Telat Ngantor



“Macet, bos.”
“Kesiangan, bos.”
“Ada urusan mendadak, bos.”
“Harus ngater mamah ke pasar, bos.”
“Nenek meninggal.” Padahal neneknya memang sudah meninggal bertahun-tahun lalu.
Aaargh! Bukankah semua itu alasan yang tidak pernah bisa jadi alasan? Apa? Macet? Bukankah setiap hari kamu melewati jalan yang sama? Kenapa kamu baru sadar kalau jalan itu memang dan selalu macet? Setiap telat alasannya macet? Dan itu setiap hari. Huh! Bener-bener gak kreatif. Sudah tahu jalanan yang dilewati bakal macet, kenapa nggak mulai mengubah jam berangkat dari rumah, sepuluh atau lima belas menit lebih cepat dari biasanya. Come on! Itu bukan alasan yang keren.
Oke, sekarang apa lagi? Kesiangan? Sungguh, itu bener-bener alasan yang memalukan! Malulah pada satpam yang sudah berjaga. Malulah pada ayam yang berkokok. Malulah pada rumput yang bergoyang. Eh? Malulah pada OB yang sudah membuat kantormu cling pagi-pagi. Bagaimana pula posisi kamu di kantor ini bisa lebih baik dari OB! Duh, itu bukan alasan yang berkelas. Kesiangan tidak pernah menjadi alasan yang tepat di saat apa pun. Apaaah? Kamu ingin berkata jujur. Saranku, lebih baik kamu diam dan tidak mengatakan apa-apa dari pada mengatakan kesiangan. Bukannya apa, bos yang profesional tidak akan pernah bisa menerima alasan seperti itu, kecuali dengan mulai menyimpulkan kamu ‘pemalas’. Meskipun mereka terlihat memaklumi, label ‘pemalas’ setidaknya sudah terstempel di halaman pertama absensi pribadi si bos.

Friday, July 5, 2013

Review Film

Wedding Dress





Sudah nonton film wedding Dress? Kalo belum, saya rekomendasikan. Ini salah satu film yang harus ditonton, khususnya untuk para sutradara film Indonesia. Kenapa? Karena ekting pemain-pemainnya keren beuudd. Film ini berhasil bikin saya nangis. Bayangin! Cuma sebuah film! Oh, it’s so shame, embarassing. Seumur hidup, saya belum pernah nangis sampe tersedu-sedu cuma karena nonton film, se-menyentuh apapun film itu. Temen saya banyak yang meneteskan air mata waktu nonton film Titanic, dari mana coba sedihnya film Titanic? Adalagi yang nangis waktu nonton film Haciko. Emang sih menyentuh, tapi gak sampe bikin saya nangis kayak waktu nonton film ini. Film ini bisa ditonton segala usia, tua-muda, anak-anak, remaja, dewasa, bahkan kakek-nenek ato orang tua jompo.

Oke, kalian masih nggak bergegas buat nyari ato download film ini sekarang juga? Saya nggak tanggungjawab kalo kalian bilang kenapa nggak ngasih tau dari. Karena saya baru aja merekomendasikannya. Setidaknya saya berani jamin, kalian nggak akan menyesal membuang waktu 1 jam 46 menit untuk menghabiskan film ini.
Hedeh, saya nggak dibayar oleh siapa pun buat iklan ini. Jadi, nggak perlu ditanyakan itu, meskipun just kidding. Buruan nonton filmnya! Baiklah, masih belum bergegas juga? Sekarang saya buatkan reviewnya aja dulu.

Wanita itu terlihat sudah kepala tiga, bukan, bukan siluman, maksud saya usianya sudah sekitar tiga puluhan. Ia bekerja sebagai desainer gaun pengantin, mempunyai seorang anak perempuan sekitar 7 tahun, So Ra. Ayah So Ra sudah meninggal, jadi dia membesarkan So Ra seorang diri. Namun, ia tidak menyadari bahwa dirinya terlalu sibuk dengan pekerjaannya, sehingga So Ra tumbuh menjadi anak yang mandiri. Karakternya dingin. So Ra tidak memiliki teman. Teman-teman di sekolah dan di tempat les balet menjauhinya. Suatu ketika So Ra membuat seorang temannya malu karena ia tidak suka saat temannya itu meminum minumannya dan mengatakan temannya miskin. Sebenarnya, So Ra hanya merasakan kalo hal itu (berbagi minuman) termasuk hal yang jorok. Meskipun tak ada yang mau berteman dengannya, So Ra tak pernah ambil pusing.

Mama So Ra bukan tidak pernah memperhatikannya. Karaternya hangat dan sangat menyayangi So Ra. Ia memang tidak pernah memasak untuk So Ra, mereka selalu makan dan ikut berkumpul di rumah keluarga Paman Sora, keluarga itu baik dan dekat dengan mereka. Sampai suatu ketika, Mama So Ra tiba-tiba pingsan, tidak ada yang tahu ternyata selama ini ia menyembunyikan sebuah penyakit yang sudah stadium akut, kanker lambung. Ia sering muntah sembunyi-sembunyi dan menanggung penyakitnya sendiri. Bersikap seolah sehat, normal, dan ceria di depan orang lain.

So Ra terlalu cerdas untuk tidak mengetahui kalau mamanya mengidap penyakit mematikan. Anak itu akhirnya tahu meskipun seluruh keluarganya mencoba menyembunyikan. Tapi, apakah Mama So Ra benar-benar akan meninggal? Silakan ditonton sendiri lanjutan kisahnya. Sungguh, kalian akan dibuat menangis tersedu-sedu, karena ekting pemeran So Ra dalam film ini sangat menyentuh dan natural. Tidak seperti kebanyakan film yang sedihnya keliatan banget dipaksa, nangisnya dibuat-buat. Tapi, sumpah! asli, ektingnya So Ra keren banget. Dia nangis seolah tidak ingin nangis. Menangis beneran yang ditahan-tahan. Buat saya, di sini letak keistimewaannya. Selamat nonton ^_^


Tuesday, June 25, 2013

Baca, lagi ga pengen baca.

kegiatan membaca saat kita sedang tidak ingin membaca itu memang cobaan yang berat.
salah satu cara yang perlu dilakukan jika cobaan itu datang adalah dengan menghadangnya. kamu bisa menggunakan hobbi lain sebagai alat penghadangnya. yap! hobby menulis misalnya. seperti yang saya lakukan sekarang ini.
saya menggeser tab dan membuka blog karena mata saya cukup lelah membaca berisan naskah-naskah yang bermacam jenis, dari yang bagus sampe yang gak bisa dimengerti. entah karena saya yang bloon ato karena mata saya udah merem-melek, hal seperti ini yang harus saya hindari, karena kalo sambil merem-melek, naskah yang bagus bisa saja saya buang. semoga itu tidak pernah terjadi.

Wednesday, June 19, 2013

Hari ini

Duduk depan komputer, headphone di telinga mengalunkan Seconhand Serenade se-album, buka internet; situs toko buku, email, facebook, twitter, kbbi, google search., kubikel penuh tempelan pengingat apa yang kudu dikerjain, buku-buku dan kertas-kertas berserakan, kalo bosen kadang berdiri, jalan-jalan, corat-coret nyari inspirasi, kadang kaki diangkat, makan, ngemil, de el el, seterah deh mau ngapain, asal jangan kayang sambil bilang waow aja, karena itu emang gak perlu. Satu lagi, yang pasti gak boleh ketinggalan, ada malaikat yang selalu bisikin iqra..! iqra..! bacalaah! Bacalah! Hedeh..

Yap, emang kayak gitu lah dunia saya sekarang, dunia seperti ini yang sudah saya impikan sejak dulu. Dikelilingi bejibun buku, tiada hari tanpa membaca dan membaca, menjalin hubungan dengan penulis-penulis (bukan hubungan terlarang, kok…), mengoreksi tulisan, mencoret yang gak bener, menghapus yang gak kepake, mengganti yang salah tempat, ketawa kalo ada tulisan yang gokil, sedih kalo ada tulisan yang menguras air bak mandi, eh, menguras air mata, mengerutkan kening kalo ada tulisan yang aneh, stop, stop, stoop… intinya, wajah saya yang imut ini jadi penuh ekspresi deeh... :P
Akhirnyaaaaaa,,,, saya ngerasain juga otak mumet karena harus membaca naskah mentah kiriman pengarang dan penulis antah-berantah. Mulai dari penulis yang belum terkenal, penulis yang gagal terkenal, penulis yang gak terkenal-terkenal (padahal tulisannya bagus), penulis yang sudah terkenal di kaumnya, hingga penulis yang jam terbangnya sudah tinggi dan sudah makan asam-garam kepenulisan.
Bejibun naskah dengan bermacam karakter tulisan itulah yang bikin galau, kadang ada tulisan yang sudah bagus, tapi gak bisa terbit karena temanya lagi gak sesuai dengan agenda penerbitan saat itu, kadang ada juga tulisan yang menarik dan unik, tapi harus masuk ke folder ‘anda belum beruntung’ karena pertimbangan nilai jualnya yang bakal bikin teman-teman di bagian marketing ketar-ketir. Gak tega juga sih…. Iya, emang, semua itu harus dipertimbangkan. Bukan penerbitan milik mbah saya soalnya. Emang mbah saya punya penerbitan? Punya dong, penerbitan kambing dan bebek. Eh, oh, itu peternakan… udah ganti nama rupanya.

Friday, June 7, 2013

Ekspedisi Menuju Pantai Selatan

Laporan Perjalanan:
Genre: Nonfiksi

Kamis, 13 Mei 2010
Jonggring Saloka, nama itu masih terasa asing di telinga. Keberadaan pantai di bagian selatan pulau Jawa, tepatnya di Desa Mentaraman, Kecamatan Donomulyo pinggiran selatan Kabupaten Malang, Jawa Timur ini tidak banyak yang tahu. Yang terkenal dan banyak dikunjungi adalah seperti pantai Sendang Biru, Balekambang, dan Pantai Ngeliyep. Padahal Malang masih memiliki banyak pantai dan pemandangan laut lepas yang indah lainnya, salah satunya adalah Pantai Jonggring Saloka ini.


Untuk mendapatkan pantai Jonggring Saloka ini membutuhkan tenaga yang kuat, waktu yang panjang, dan ke-nekat-an. Perlu jarak perjalanan yang berpuluh-puluh kilo. Saat ini, tidak ada yang mengunjungi pantai tersebut jika sekedar ingin rekreasi atau mengisi waktu libur. Orang-orang lebih memilih pantai Sendang Biru, Balekambang, atau Ngeliyep jika ingin berekreasi. Karena selain jaraknya yang sangat jauh, akses jalan menuju pantai Jonggring Saloka saat ini dalam kondisi yang sangat buruk. Akan sangat kesulitan jika ditempuh dengan kendaraan, karena kondisi jalan yang penuh dengan batu-batuan besar, licin, becek, dan sempit.


Something about My Job


Genre: Nonfiksi

Pernah denger perusahaan Penerbitan dan Percetakan di kota Bandung, PT. Grafindo Media Pratama. Hadehh… penerbitan apalagi ini??? Yang aku tau itu Penerbitan Erlangga, Yudhistira, Balai Pustaka, Obor, Gramedia, Gagas Media, Bukune, Dar!mizan, Repulika. Ya yang itu-itu saja. Tapi, ini! Grafindo Media Pratama?? aku taunya Andika Pratama yang artis itu. Haish! benar-benar kuper nihh. Aku pernah mengirim lamaran sebagai Editor di perusahaan ini, meskipun tadinya aku tidak terlalu familiar dengan perusahaan ini. Setelah aku mendatanginya untuk mengikuti tes tulis dan proses interview, barulah aku melongo dengan suksesnya.

Pikirku penerbitan yang memanggilku ini paling hanya penerbitan kecil-kecilan di pojok kota Bandung. Bukan karena aku meremehkan penerbitannya, tapi karena aku mengenal siapa yang mereka loloskan untuk mengikuti wawancara. Siapa lagi kalau bukan diriku sendiri. Apa coba yang mereka lihat dari email yang aku kirim dulu?? Walaupun sebenarnya waktu mengirim itu aku berharap-harap cemas sambil komat-kamit baca doa semoga ada kelanjutan, berharap banget ada panggilan wawancara. Tapi, setelah mendapat panggilan wawancara dan tes tulis, aku malah jadi gak yakin dengan perusahaannya. Hewwh… --‘

Wednesday, June 5, 2013

Kereta Senja

Puisi:

Gedung-gedung berlarian
Rumah-rumah berjejer pergi
Pepohonan melambai
Sawah-sawah melintas anggun
Leladang menghampar terbirit

Di ujung pandangku
Di komplek gunung itu
Siluet jingga menabur bumi
Sungguh, keindahan yang kubenci
Kau tau kenapa?
Karena Senja s'lalu bercerita perpisahan

Tapi, tetap kunikmati
Hampar atap berpadu luap asap
Indah taman di muka
Dengan kapal-pecahnya halaman belakang
Semua terlihat olehku

Menjulangnya gedung ruko
Beradu rendah dengan gubuk-gubuk reyot
Itu juga tampak nyata
Tanpa perlu membuka mata

Ladang melerai Bintang timur
Karena mengejar Pengirim Senja
Lihat! Di sana ada Pak Tani
Sedang berjanji pada Padi
Akan membunuh Tikus-tikus pencuri

Hei, menurutmu haruskah aku melompat
Menghampiri Pak Tani itu
Lalu, mengisahkan dunia sejatinya saat ini?
Haruskah aku turun dan berlari
Menceritakan juga pada Padi
Untuk tak merasa senang dengan janji?

Namun, urung
Aku belum ingin mati
Kubuka tirai
Aku masih di atas kereta ini
Membawaku ke kota baru
Meraih mimpi biru
Seperti langit di esok pagi.

Nina Pradani
30 Mei 2013, 5:20 pm.
@ K.A Mutiara Selatan (perjalanan Surabaya-Bandung)

Saturday, May 18, 2013

Cerpen:







LANGIT ANDALUSIA 2





Awan’s Blog: Posted by Awan at January, 11th 2013

Aku tahu
Kau melihatku
Kau buat ku bertemu bidadari itu
Setelah Kau biarkan luka
Perihnya kutelan
Ya, aku melihatnya
Tepat di atas tebing indah ini

Jilbab yang berkibar itu
Desau angin memanggilku
‘tuk mengganggunya
Yang tengah membidik titik-titik fokus

“Pemandangan yang bagus, bukan?”
Aku sadar, aku sedang menjelma
Menjadi perayu ulung
Basa-basi yang tak biasa kulakukan
Bidadari itu hanya tersenyum ringan
Ia tak terganggu
Masih membidik dengan kamera professional yang dikalunginya
Tapi, hei.. tunggu!
Wajah itu, bukankah pernah kulihat?

Kenapa dia begitu santai?
Kenapa dia seolah tahu ini aku?
Dia tahu aku mengenalnya?
Dan kenapa dia bersikap biasa aja?
Seolah kami datang bersama atau
Berjanji bertemu di atas kota tebing ini?
Hei, siapa dia sebenarnya?
Yang terpenting, dimana aku pernah melihatnya?

***

Wulan’s Blog: Posted by Wulan at April, 4th 2013

“Huft, gimana ini..?” aku merunduk, kedua tangan kubiarkan menggantung seolah memeluk meja makan tanpa hidangan itu. Karena merasa sakit di dahi dan hidungku, aku menempelkan pipi kiri. Aku sedang stres.
                “Ada apa?” Suara pria dengan karakter sedingin es, bahkan lebih dingin dari beruang kutub. Sialnya, suara itu tetap terdengar lembut di telingaku. Ya, dialah suamiku, pria tertampan di dunia yang baru menikahiku sebulan lalu. Makhluk paling dingin yang pernah kukenal. Maaf sayang, lirihku dalam hati. Saat ini, untuk mendongakkan kepala pun aku tak mampu, lelah. Padahal aku yakin dengan melihat wajahnya saja penatku pasti hilang. Yah, meski wajah dingin yang selalu ditampakkannya. Aku tahu, justru itu yang membuatku jatuh cinta. Tapi, aku tak mengerti kenapa setelah menikah, wajah dinginnya melumer padaku, hanya padaku, tidak pada wanita lain. Aku tak berharap itu terjadi. Tetaplah hanya tersenyum padaku.
                “Kenapa, hm? Pulang-pulang langsung lemes gitu?” Suaranya pelan tapi terdengar sangat jelas. Ah, dengar suaranya saja membuatku tenang. Tanpa dia membelai kepalaku seperti ini pun, suaranya sudah membelaiku. Senyumnya mengembang sempurna begitu aku mendongakkan kepala. Yah, kok senyum? Batinku aneh.

Thursday, May 9, 2013

Poem

Isa Alamsyah Nina Pradani kekuatan penulis adalah imajinasi, gak perlu nikah dulu untuk nulis ttg nikah
Demi kata-kata itu, gue pun menghabiskan malam ini dengan membuat puisi di bawah ini; (kayak bikin soal UN aja) Hemmz, kalau pun gak masuk list, tak apa, masuk di postingan blog aja. Gile! begadang semalem suntuk cuma berhasil bikin satu puisi doang??? imajinasi gue pada lari kemana ssih?? giliran ngomongin nikaah ajja pada kabur! ckck..

Tema: Menanti Suami (yang bertugas ke luar kota berbulan2)


JUST THE WIND

I stare the leafage falling
They're compliant flown
In the wind who no feelings
I'm here for a long waiting

I heard the rail snapping
Seems knocking that you're come
Make me running on. Then I know, it just the wind
I'm still here for waiting

I looked up to the sky, count the stars
Seems counting the day your return
I feel your shadow caress on. Again, it just the wind
And I'll be here though for a long waiting 'till I slept...

-Nina Pradani-


*ampuni saya ratu Elizabeth, kalo ada grammar yg salah*


Sebelum itu, gue buat puisi juga, TEMA: MERTUA
Tapi, masih belum qualified ternyata, hiks, it's not problem, Bukan Nina namanya kalo nyerah gitu aja.

Gamang

Lihat aku!
Siapakah bidadarimu?
Aku atau dia?


Senyumku pekat baginya
Tulusku kelabu tak diindahnya
Mengapa aku yang merampasmu?
Mengapa dia tak pernah bisa menerima baktiku?

Tuhan, dosakah aku?
Cemburu ini merantaiku.

TEMA: MERTUA

*ngepost sambil merem*


Isa Alamsyah Nina Pradani: isinya tidak menggambarkan temanya, baru tahu kalau dijelaskan> Masih kurang qualified
 
gue lupa kalo bikin puisi sama bikin cerpen itu beda, niatnya gue mau bikin pembaca penasaran dengan meng-ambigu-kan kata-kata pada puisi di atas, eh, ternyata tidak menggambarkan tema.

Belajar lagi!

Sunday, May 5, 2013

Puisi

'Aku dan Jendela itu'

Kau selalu punya banyak cerita
Menyimpan sejuta rahasia
Tak ayal kau berkisah padaku
Kapan pun itu
Tak pernah kenal waktu
Setiap aku di dekatmu
Kau selalu mengadu
Menjelas, kadang menipu

Memaksa senyum tersungging
Kadang juga tawa tergelak
Sering kau buat keningku bertaut
Dengan senyum maut
Kemarahanku tetap kau sambut
Jika dengki membaut
Tekadku pun kau buat menciut
Tapi tahukah? mimpiku dan langit terpaut
Itu semua karena kamu, Buku.
Kau memang jendela itu.

Thursday, May 2, 2013

Puisi

Kenapa KBM?

Ini gila!
Sumpah, ini benar-benar gila!
Sungguh, kemarin
Aku benci tak nyata
Aku muak dengan maya

Tapi, kenapa KBM?
Seolah nyata
Warna mereka ada
Tak hanya jingga
Mereka pelangi
Ya, pasti
Pasti karena mereka pelangi...

Kamis, 2 Mei 2013, 03:00 AM

Nina Pradani untuk Komunitas Bisa Menulis

Perlu, selipin pasir diantara bebatuan*




Bila A adalah semua hal yang membuat kamu frustasi,
dan A = X + Y + Z,
Maka X = ditanya kapan wisuda? Y = ditanya kapan nikah?
Z = ditanya kapan aku bisa melamarmu?
(Nina Pradani, diadaptasi dari Albert Einstein)

Sesial-sialnya, satu jam cuma enam puluh menit. (Anonim)
Sesial-sialnya, satu jam cuma enam puluh menit kalau lagi online, dan
Sesial-sialnya, satu jam kenapa terasa seabad kalau di kantor dan di kampus. (Nina Pradani)

Aku tak bisa memperbaiki rem sepedaku,
maka kubuat bel sepedaku dua kali lebih nyaring. (Anonim)
Aku tak bisa memperbaiki tulisanku yang sudah dikritik,
maka kubuat tulisan baru atau menulis ulang dengan memasukkan kritikan-kritikan itu.
Sungguh, aku tak rela memangkasnya. (Nina Pradani)

Otak adalah organ tubuh yang paling menakjubkan.
Dia mulai bekerja begitu kamu bangun di pagi hari
dan hanya berhenti waktu kamu ada di kampus.
(Nina Pradani, diadaptasi dari Robert Frost)

Kamu bisa menyeret kuda ke danau,
tapi tak bisa memaksanya minum. (Anonim)

Kalau belum menang di lomba ke-99,
Kamu akan menang di lomba keseratus. (Anonim)


Nina Pradani
:) Diadopsi dari Teenlit Ken Terate -Dokter, Pelukis, & si Cowok Plin-plan-

*Perlu, selipin Teenlit ditengah novel atau bacaan berat



Sunday, April 14, 2013

Cerpen (finishing)




Langit Andalusia




“Saya terima nikah dan kawinnya Langit Andalusiana binti Farhan Abdurrahman dengan mas kawin seperangkat alat Sholat dibayar tunai.”
“Bagaimana? Sah?”
“Sah, sah, Sah…” terdengar suara bersahutan dalam masjid itu.
“Alhamdulillah…” suara mereka kemudian hampir bersamaan.
Setetes air mata mengkristal bagai embun bening bergulir dari sudut mata gadis itu. Gadis yang sengaja didudukkan beberapa jarak di belakang pemuda yang telah mengucapkan kalimat sakral penuh penghargaan untuk calon bidadarinya. Bidadari itu mengenakan gaun semi gamis berwarna putih, jilbab yang juga dihiasi payet-payet putih terbentuk sempurna bak mahkota menutupi kepalanya. Cantik. Itu satu kata yang mampu menggambarkan keelokan lukisan Sang Pencipta yang sedang duduk diapit oleh ibunda dan adiknya itu.

***

Sunday, April 7, 2013

Tulisan pertama (mau ikut lomba)



Tulisan pertama, hm.. Tulisan pertamaku waktu SD, ya itu tulisan pertama. Waktu itu aku menulis puisi. Apa judulnya? Aku sudah tidak ingat lagi. Jadi, tidak mungkin aku ceritakan yang itu. Emm.. waktu MTs juga aku sebenernya sering nulis buat di Mading. Tapi, aku juga lupa nulis apa saja waktu itu, yang pasti bukan resep masakan atau tips mencontek yang baik, bukan. Well, aku akan menceritakan tulisan pertamaku waktu SMA aja, sedikit banyak aku masih ingat, insya Allah. Waktu itu aku lagi doyan-doyannya bikin cerita, lalu aku minta teman-teman di kelas untuk membaca dan memberi kritik, tapi aku tidak pernah mau terima kritikan. Terserah aku dong mau nulis kayak gimana, tulisan, tulisan aku sendiri kok, itu pikirku dulu. Tapi, aku senang sekaligus malu, mereka mau membacanya sampai selesai, pake ngantri malah. Sialnya, aku tidak tau mereka suka atau justru pengen muntah baca cerita-ceritaku. Aku juga tidak tau itu novel atau cerpen, soalnya kalo disebut cerpen terlalu panjang, kalo disebut novel juga terlalu pendek. Tuh kaan, mulai deh galau lagi.
Karena itu pula lah, waktu ada lomba membuat cerpen, teman-teman di kelas menyikut-nyikutku, menyebut-nyebut namaku, “Nina aja Pak, Nina aja. Dia suka nulis-nulis cerita. Ini kita udah baca lho pak. Pinter dia bikin cerita pak..” Kebiasaan yang susah dihilangkan waktu jaman sekolah itu adalah menyebut nama teman, walaupun diri sendiri pengen ditunjuk. “Siapa yang mau jadi ketua kelas?” “Joko pak, Joko aja. Dia rajin.” “Siapa yang mau bantu saya nulis di papan?” “Rani pak, Rani aja, tulisannya bagus.” “Siapa yang mau pulang duluan?” Naah.. kalo yang ini nggak ada yang nyebut nama teman “Saya pak, Saya!” “Kalau mau pulang duluan, jawab dulu pertanyaan saya!” Nah lho…
Oh, oke, kembali ke topik. Jadi, saat itu Pak guru bahasa Indonesia yang sekaligus merangkap wali kelas kami, langsung meminta ceritaku, katanya mau dibaca dulu. Wah, sial nih anak-anak. Tahukah kamu, aku nulis ceritanya dimana? Ya dibuku tulis lah, masa di buku gambar. Buku tulis yang cukup tebal dan sudah lecek itu akhirnya terpaksa kuserahkan tapi sambil merem, malu.
Keesokan harinya…
“Nina, ceritamu, terlalu wah. Buat cerita setting lokal saja. Tokohnya tidak perlu kamu bawa ke London.”
Gubrak! “Yah, tapi kan saya yang mau ke sana pak..” dalam hati. “Baik pak. Saya akan tuliskan cerita latar dan setting di kota ini saja.” Ini ucapan yang beneran keluar.
***
Tulisan saya yang diikutkan lomba mewakili sekolah itu, Alhamdulillah… akhirnya tidak lolos! Oke, mau cerita apalagi sekarang? Nggak ada, habis.


tiba2 buntu,,, :'(
 

Cerpen



Langit Andalusia


“Saya terima nikah dan kawinnya Langit Andalusiana bin Farhan Abdurrahman dengan mas kawin seperangkat alat Sholat dibayar tunai.”
“Sah, sah, Sah…” terdengar suara bersahutan dalam masjid itu.
“Alhamdulillah…” suara mereka kemudian hampir bersamaan.
Setetes air mata mengkristal bagai embun bening bergulir dari sudut mata gadis itu. Gadis yang sengaja didudukkan beberapa jarak di belakang pemuda yang telah mengucapkan kalimat sakral penuh penghargaan untuk calon bidadarinya. Bidadari itu mengenakan gaun semi gamis berwarna putih, jilbab yang juga dihiasi payet-payet putih terbentuk sempurna bak mahkota menutupi kepalanya. Cantik. Itu satu kata yang mampu menggambarkan keelokan lukisan Sang Pencipta yang sedang duduk diapit oleh ibunda dan adiknya itu.

Editan Cerpen sebelumnya "Badgirl itu Humairah"



Kesan pertama


“KAMU???!” keduanya berujar hampir bersamaan. 
            Untuk yang entah ke berapa kalinya di dunia ini, ungkapan bahwa Dunia hanya selebar daun kelor terbukti lagi. Aira tentu tidak lupa dengan pria menyebalkan itu. Orang yang dulu pernah jadi lawan duet dalam perjalanan karirnya sebagai badgirl. Dan sekarang dia harus mewawancarainya, itu berarti ia harus berbaik-baik padanya, dan sang menejer ini juga yang ternyata ditunggunya sejak tadi pagi, hingga baru bisa ditemui sesore ini. Menyebalkan bukan? ‘Oh mai God.. mimpi apa aku semalam? apakah aku salah baca doa keluar rumah tadi?’ Aira membatin.
Kalimat yang terakhir itu bohong besar. Apalagi tentang doa itu, ia sedang berdusta pemirsa. Doanya justru harus makin dimantapkan. Aira bukannya tidak senang bin bahagia bertemu setan ganteng ini lagi. Setelah pertemuan pertamanya di Toko Buku itu, setan ganteng ini terus saja menghantuinya, nggak pagi, nggak siang, nggak malam, nggak lagi di kantor, di kos, di pasar, di jalan, sebelum tidur, bangun tidur, lagi ngaca, lagi gosok gigi, bahkan lagi sholat pun setan ini selalu datang menggodanya, menari-nari di otaknya sampai-sampai terkadang dia lupa sudah tahiyyat awal atau belum, parah kan?

Saturday, April 6, 2013


“Responsibility”






Tipe : Short Story (Cerpen, Ina.edited)
Genre : Fiction
By : Nina Pradani

Judul di atas bukan judul bab di buku Kewarganegaraan, atau nama lamanya PPKN, atau namanya yang duluuuuu sekali PMP, bukan. Bukan pula sedang belajar adjective bahasa inggris. Aku ingin menceritakan kisahku, itu saja.