Lantai itu masih dingin
Dinding itu masih membisu
Daun pintu masih dengan derit mencekam
Langit-langit masih menatap cemooh
Cicak pun masih tak berdecak risau.
Tapi, sejak saat itu, terbit mentari tak lagi sama
Semburatnya melukis namamu
Bulir embun mengkilau rindu untukmu
Sejuknya udara mengabarkan cinta padamu.
Sejak saat itu, sepenggalahan tak lagi sama
Meski masih merangkak menembus pikuk menemui sunyi
Mendengar hembus angin mengantar kata-kata cinta untukmu, bercengkrama denganmu
Ah, betapa bahagianya menjadi angin.
Sejak saat itu, terik matahari tak lagi sama
Melupakan santapan yang terhidang
Meninggalkan cuap-cuap teriring gurau tawa
Mencari sunyi yang menenangkan.
Sejak saat itu, bias jingga tak lagi sama
Awan tak lagi berarak kelabu
Cuaca tak lagi mendung
Meski masih dengan rintik dan deras
Perjalanan pulang tak lagi senyap
Selalu ada yang menemani.
Harusnya
Sejak saat itu
Begitu
Tapi, mengapa tetap saja
Lantai tak begitu hangat
Dinding pun belum ingin bicara
Daun pintu bahkan terbuka lebar tak berderit
Langit-langit menatap tanpa ekspresi
Cicak kini berdecak mengganggu.
Pasti ada yang belum selesai
Ada
Pasti
Apa?
Sunday, May 15, 2016
Monday, May 9, 2016
Sin(cere)
Suatu hari saya diberi tugas nge-proof Juz 'Amma Super, ketemulah saya dengan kosakata sincere pada halaman sekian bagian suplemen kosakata. Di sana tertulis dengan huruf hijaiyah "ikhlaasun", bahasa Inggris "sincere", dan arti bahasa Indonesianya "ikhlas". Entah apa sebab saat melihat sepenggal kata itu saya seperti tertampar "plakk". Dan di kepala saya langsung muncul balon kata tertulis tanda buka-tutup kurung yang memisahkan kata "sin", tulisannya begini: sin(cere). Dan saya langsung merinding gak disko.
Tetap Positif Setiap Hari
1. Bangun pagi.
Menurut para ahli bangun pagi, bangun di pagi hari membuat tubuh terasa lebih segar dibandingkan bangun setelah matahari sudah terbit. Bangun pagi yang dimaksud di sini sekitar jam tiga, empat, dan lima pagi. Pada waktu-waktu tersebut udara masih segar, suhu udara mengandung lebih banyak oksigen karena hasil fotosintesis tumbuhan belum ternodai oleh polusi kendaraan. Mereka bisa kehilangan kesempatan menghirup udara segar jika kesiangan. Tidak hanya buruk bagi kesehatan, bangun siang juga dapat merusak mood, akibatnya kehidupan sosialmu pun terganggu. Contohnya, kamu bangun kesiangan, lalu terburu-buru berangkat ke kantor atau sekolah, takut terlambat sehingga tidak sempat sarapan, tidak ada asupan energi, tubuh menjadi lemas dan tidak bersemangat. Tidak cukup sampai di situ, sekarang buku PR-mu ketinggalan, tentu saja kamu kena hukuman. Ditambah lagi, beberapa alat tulis tidak dibawa, sebelum berangkat tadi tidak sempat memeriksa tas. Jangankan periksa isi tas, mandi aja kamu selesaikan dalam waktu kurang dari 5 menit. Kamu merasa gerah karena capek abis lari-lari ngejar bus sekolah, rasanya ingin marah pada semua orang. Itulah yang dimaksud dengan bangun siang dapat mengganggu kehidupan sosialmu. Mulai sekarang, biasakan diri bangun di pagi hari agar kamu bisa menjalani aktivitas dengan semangat, ceria, dan tetap positif.
Tuesday, May 3, 2016
Dongeng sebelum tidur
Pada suatu masa, seorang profesor berencana menciptakan sesuatu yang bisa (dan bersedia tanpa pamrih) mengerjakan apa yang dia inginkan. Lalu, diciptakanlah sebuah robot yang bisa bergerak sesuka mesin. Ya, seperti juga manusia yang bergerak sesuka hati, robot itu diberi kepintaran sehingga bisa melakukan apa saja sesuai kehendak mesinnya. Profesor sengaja membuatnya seperti itu agar ciptaan ini berbeda dari ciptaannya yang lain. Sekaligus ia ingin membuktikan sehebat apa ciptaannya.
Friday, April 22, 2016
Baper itu bikin Laper
Hari itu, kau melihatku, menatapku seolah-olah aku adalah makhluk terindah di bumi. Tadinya aku tidak ingin terlalu percaya diri, takut baper kalau kata abege zaman sekarang. Tapi, setelah kau menanyakan tentangku kepada wanita paruh baya itu, setelah kau menanyakan bagaimana cara membuatku senang, mau tidak mau aku harus bersiap-siap. Ya, apalagi kalau bukan bersiap-siap untuk kau bawa pergi. Hei, aku tidak menguping, kau memang menanyakan tentang diriku di depanku sendiri, dan itu sangat terdengar jelas. Apakah ini seperti sebuah acara lamaran? Aku tertawa dengan pikiranku sendiri.
Thursday, April 21, 2016
Kartini yang Gemar Baca dan Suka Menulis
Wat zijn
wij toch stom, toch dom, om een heel leven lang
een berg
schatten naast ons te hebben et het niet te zien, niet te weten.
(Alangkah bebalnya,
bodohnya kami tiada melihat, tiada tahu
bahwa sepanjang hidup ada gunung kekayaan
(Al-Quran) di samping kami).
Wij zochten
niet bij demenschen troost wij klemden ons vast aan Zijn hand.
(Kami tidak
perlu mencari pelipur hati pada manusia,
kami hanya
berpegang teguh pada Tangan Allah).
–Api Sejarah—
Raden Adjeng Kartini terkenang bukan karena dia berhasil
memenangkan nobel dalam bidang tertentu. Bukan pula karena menjadi ketua
organisasi, ketua PKK, ketua partai, anggota dewan yang terhormat, bupati, presiden,
atau apa pun sejenis itu. Disebutkan dalam deretan nama Pahlawan juga bukan
karena maju di medan perang melawan penjajah. Terkenal sebagai pelopor
kebangkitan perempuan juga bukan karena menjadi menteri pemberdayaan perempuan.
Bukan. Kartini justru terkenang karena tulisan angan-angan, cita-cita, pemikiran,
dan keinginan pribadinya.
Friday, April 15, 2016
belum berjudul
Abad ini, seorang anak yang baru lahir--masih bayi merah--tidak hanya mengenal (baca: dikenal) lingkungan keluarga untuk pertama kali. Ada lingkungan baru yang menyambutnya, lingkungan virtual yang melingkupi penjuru bumi, tak berbatas, yang diberi nama media sosial. Selang beberapa menit lahir, gambar si bayi sudah terpajang indah pada salah satu akun media sosial ayah, ibu, paman, bibi, tante, teman ibunya, teman ayahnya, atau anggota keluarga lain, atau bahkan yang tidak ada hubungan keluarga tapi turut berbahagia dengan kelahirannya. Lebih hebat lagi, para orangtua yang kreatif memberi caption dengan kalimat seolah-olah si bayi itu sendiri yang menulis; Halo, Om, Tante. Kenalkan namaku . Aku lahir dengan selamat tanggal ini, bulan ini, dan seterusnya. Betapa sejak lahir dia sudah canggih dan pandai menulis. (Hm, sepertinya tulisan ini terinspirasi dari beberapa teman yang akhir-akhir ini seolah janjian melahirkan bareng. Dan saya sirik).
Monday, April 4, 2016
Arema Cronus vs Persib
*Awas! Tulisan ini mengandung SARA.
Dilema, tentu saja. Apakah berhak seseorang yang sedang 'nginep' di tanah sunda tidak mendukung pemain dari tanah tersebut? Ternyata tidak masalah, dan justru perbedaan itu memang menyenangkan. Walaupun sambil nonton, sambil juga 'bergelut' dengan teman-teman kosan yang semuanya gadis sunda, kami sama-sama menikmati. Ditemani genderang botol air mineral, piring, sendok, bahkan sisir, sampai seabrek camilan, menyanyikan yel-yel yang tidak kami hafal liriknya. Suasana seperti ini yang disebut bahagia itu sederhana. Ditambah lagi bahagia dengan kemenangan Arema Cronus yang bahkan sudah membuat topi khusus bertuliskan UTAS, yang dibaca terbalik menjadi SATU. Karena itu, saya jadi mikir, betapa keyakinan itu memang penting. Lihat saja, mereka begitu yakin akan menjadi sang juara sampai sudah membuat dan menyiapkan topi itu sebelumnya. Atau mungkin mereka juga menyiapkan topi dengan tulisan AUD? Saya tidak yakin.
Wednesday, March 30, 2016
Aku si Smart
Kenapa aku yang harus selalu lebih dulu tahu apa yang gadis itu rasakan?
Semuanya harus dia ceritakan padaku. Aku bosan. Bosan mendengar keluh kesahnya,
bosan mendengar cerita sedihnya. Kalau cerita bahagia, sih, aku tidak terlalu
ambil pusing. Saat dia senang, aku pun terkadang turut merasa senang. Sialnya,
dia lebih banyak berkeluh kesah tentang kesedihannya ketimbang berbagi cerita
bahagia. Saat senang, dia tidak selalu menceritakannya. Tapi, aku sudah cukup
mengenalnya. Saat senang, akan sangat terlihat dari tingkah lakunya.
Monday, March 21, 2016
Tilang
Dari jarak sekitar sepuluh meter di depan, seseorang berseragam Polisi dengan rompi hijau ngejreng-nya terlihat berjalan agak ke tengah jalan. Saat itu jalanan kebetulan lenggang. Saya langsung cek ceklekan lampu depan.
Sial. Lupa dinyalain. Saya buru-buru menyalakannya dengan wajah sok santai padahal panik setengah mampus.
Saya tetap berjalan tanpa mengurangi atau mempercepat kecepatan. Berharap dugaan saya kalau Si Bapak Polisi mau nyetopin, itu salah. Tapi, ternyata saya memang ahli membaca pikiran orang. Emang keliatan, sih. Nggak perlu ahli baca pikiran juga, keleus. Dugaan saya bener. Si Bapak Polisi bener-bener mau nyetopin saya. Dan memang cuma saya dan bleki. Bukan dalam rangka razia rutin. Ini murni hanya mencegat siapa pun yang melanggar peraturan lalu lintas. Sepintas saya ragu, antara mau jalan terus, kabur maksudnya, atau berhenti.
Akhirnya, hidayah--bahwa saya harus jadi warga negara yang baik--itu turun juga, tepat pada saat keraguan melanda. Saya meminta si Bleki berhenti. Dia nurut. Anak pinteer.
"Selamat siang, Bu!" Suara tegas sambil memberi hormat. Dan tersenyum.
Tuesday, March 15, 2016
suatu hari di tokbuk
Tiba-tiba teringat suatu kejadian yang pernah saya alami saat sedang asyik bergumul di bagian rak buku anak Gramedia Merdeka. Ini saya lagi ngapain, ya? Kok, bahasanya bergumul, sih? Lagi-lagi, saya kesulitan menemukan padanan kata yang bisa menggambarkan kondisi saya saat itu. Ya, saya sedang melihat-lihat, membaca, membuka, menerawang, meraba-raba, membolak-balik, membanding-bandingkan, mengutak-atik, memotret, bahkan melepas wrapping buku-buku tanpa mau repot-repot minta izin ke pramuniaga di sana. Parahnya, saya tidak membeli satu pun buku-buku yang malang tadi. Setelahnya, saya harus sok tidak peduli dengan tatapan ingin membunuh dari teteh-teteh pramuniaga yang cantik, sopan, dan selalu tersenyum itu.
Di saat-saat menggenaskan seperti itu, tiba-tiba seorang wanita berjilbab--yang dari tadi juga melihat-lihat buku di sekitar saya--semakin mendekat, mendekat, dan mendekat ke samping saya, sampai berjarak sekitar 30 cm. Kan, serem. Kalau di film-film mungkin akan ada adegan tak sengaja mengambil buku yang sama, lalu saling tatap, terus rebutan. Ah, itu seringnya cewek sama cowok, sih. Harusnya dia cowok tampan rupawan, bersahaja, bijak bestari, dan berbudi pekerti luhur. Tapi, sayangnya dia hanya seorang wanita.
Adegan seperti ini, seandainya terjadi baru-baru ini, saya akan su'udzon kalau dia salah satu pasien LGBT yang gagal tobat. Untungnya kejadian itu udah lumayan lama, hanya tiba-tiba keinget gara-gara saya baru saja membaca sesuatu.
Di saat-saat menggenaskan seperti itu, tiba-tiba seorang wanita berjilbab--yang dari tadi juga melihat-lihat buku di sekitar saya--semakin mendekat, mendekat, dan mendekat ke samping saya, sampai berjarak sekitar 30 cm. Kan, serem. Kalau di film-film mungkin akan ada adegan tak sengaja mengambil buku yang sama, lalu saling tatap, terus rebutan. Ah, itu seringnya cewek sama cowok, sih. Harusnya dia cowok tampan rupawan, bersahaja, bijak bestari, dan berbudi pekerti luhur. Tapi, sayangnya dia hanya seorang wanita.
Adegan seperti ini, seandainya terjadi baru-baru ini, saya akan su'udzon kalau dia salah satu pasien LGBT yang gagal tobat. Untungnya kejadian itu udah lumayan lama, hanya tiba-tiba keinget gara-gara saya baru saja membaca sesuatu.
Tuesday, March 1, 2016
InterMEZO
Chemistry editing effect
“kamu tidak
perlu C12H22O11 untuk menjadi manis.”
“walaupun kita berada di TITIK APHELIUM,
aku tetap merasa kamu berada di TITIK PERIHELIUM?” #eeaaa
Biology editing effect
"hei, kamu bahkan berhasil menembus kornea, iris, pupil, retina, hingga saraf optikku."
"lancang, ya, kamu melukai pain receptorku, apalagi liverku, benar-benar kacau keadaannya."
:D :D :D
to be continued...
-Nina Pradani-
Monday, February 29, 2016
Review Buku
Judul : Tiada Ojek di Paris
Penulis : Seno Gumira Ajidarma
Tahun : 2015 (Cet. 1)
Penerbit : Mizan
Yay! Akhirnya saya
selesai juga membaca buku setebal 212 halaman ini. Butuh waktu empat bulan
untuk menamatkannya. Empat bulan. Rekor! Beli tanggal 6 November 2015 dan baru
kelar dibaca kemarin, 28 Februari 2016. Lama amat. Begini akibatnya kalau
sebuah buku ditulis tidak bersambung seperti novel. Membacanya juga acak, mana
yang judulnya paling menarik. Dan hanya untuk mengisi waktu senggang. Tapi
sepertinya, memang seperti itu tujuan pengemasannya. Sebagai teman ngobrol di
kala santai. Lalu, bagaimana ceritanya saya bisa menemukan buku ini? Seorang
teman (atau lebih tepatnya Guru) ‘memaksa’ saya untuk membacanya. Mungkin dia ingin menyindir saya, atau
‘membuka mata’ saya, atau ingin saya belajar dari banyak hal yang tertulis di
dalamnya, atau mungkin sekedar ingin berbagi referensi. Apa pun itu, yang jelas
semua tujuannya tercapai. Selamat, ya, Guru!
Thursday, February 25, 2016
Tiada Zebra Cross di Indonesia
Pernah
merasa berada di ambang kematian? Berdiri di pintu kematian? Satu saja kaki salah
melangkah, sekali lagi: satu langkah! Satu langkah salah itu berarti mati? Pernah
berada di sana? Saya baru saja mengalaminya. Dan saat menulis ini, saya masih
merasakan jantung berdetak lebih cepat. Sepertinya saya terpengaruh bacaan
semalam. Tadi malam saya membaca bukunya Seno Gumira Ajidarma, Tiada Ojek di
Paris—seperti malam-malam dan subuh-subuh sebelumnya—sampai di tulisan yang
berjudul Zebra Cross, kemudian saya tertidur.
Pagi ini,
saya memutuskan untuk berangkat ke kantor sendiri, tanpa si Bleki, berjalan
kaki maksudnya. Saya ingin mencoba mempraktikkan nyeberang di Zebra Cross
dengan tenang tanpa menunggu sepi. Saya akan percaya kepada pengemudi kendaraan
(mobil dan motor) bahwa mereka akan memberikan jalan. Menyeberanglah saya di
jalan besar itu, namanya jalan Sukarno-Hatta, konon jalanan ini adalah jalan
terpanjang di Jawa Barat. Zebra cross pertama, Dari arah timur ada dua motor sekitar 30 meter
dari tempat saya berdiri, saya memberi aba-aba mengangkat tangan hendak
menyeberang, dan mereka terlihat menurunkan kecepatan. Saya pun menyeberang
dengan tenang. Sejenak berhenti di trotoar pembatas jalan dua lajur berlawanan
arah itu. Terlihat beberapa motor dan mobil sekitar 50 meter dari arah barat, di
depan saya kosong. Dari jarak itu saya melihat satu motor memang berjalan dengan
kecepatan tinggi. Saya memilih untuk tetap menyeberang dan yakin dia akan
menurunkan kecepatan. Tapi ternyata saya salah, pengemudi kendaraan bermotor
satu itu sama sekali tidak menurunkan kecepatan seperti yang lainnya. Dia malah
terlihat bingung antara mau lewat di depan atau di belakang saya yang sudah di
tengah-tengah. Melihatnya, saya juga jadi ragu. Sampai berpikir saya akan
ditabrak, wah, beneran ini bakal ditabrak. Saya bahkan sudah membayangkan posisi
jatuh, rasa sakit, tidak akan jadi masuk kerja, akan di bawa ke rumah sakit
mana, berita saya ditabrak akan menyebar, dan sebagainya. Sampai orang itu
meneriaki saya dan memutuskan lewat di belakang saya karena saya terus
melangkah dengan cepat. Saya masih bisa mendengar teriakan orang itu bahkan
saat sudah berdiri di trotoar seberang jalan. Jadi, sebenarnya dia masih bisa memberi
jalan kalau saja... mungkin dia akan kehilangan kontrak proyek senilai milyaran
kalau mengurangi kecepatannya, atau mungkin ada kucingnya yang sedang sekarat
dan tinggal menunggu dirinya hingga menghembuskan napas terakhir. Entahlah,
yang pasti, pembuktian saya mengenai fungsi zebra cross—yang bukan di bawah
lampu merah—itu tidak berguna di negeri ini.
Friday, January 29, 2016
Lyric: Paradise - Maher Zain
I remember when I first met you
Teringatku saat pertama berjumpa dirimu
I felt that God answered my call
Kumerasa Tuhan menjawab doaku
There was that one place I always thought about
Ada satu tempat yang selalu kupikirkan
And I just wanted to be there with you
Dan kuingin berada di sana bersamamu
The place that no eye has ever seen
Tempat yang tiada mata pernah melihatnya
The place that no heart has ever perceived
Tempat yang tiada hati pernah membayangkannya
I had a great feeling inside of me
Ada perasaan yakin dalam diriku
That one day I'll be there with you
Bahwa suatu hari nanti aku kan di sana bersamamu
CHORUS
And now that we're here, feeling so good
Dan karena kini kita di sini merasa sungguh bahagia
About all the things that we went through
Tentang segala yang tlah kita lewati
Knowing that God is pleased with us too
Tahu bahwa Tuhan juga meridhoi kita
It's not a dream, this is so true
Ini bukanlah mimpi, ini sungguh nyata
Feeling the peace all around
Rasakan kedamaian di segala penjuru
Seeing things we could never imagine
Melihat hal-hal yang tak dapat kita bayangkan
Hearing the sound of rivers flow
Mendengar suara sunga-sungai mengalir
And we know we'll be here forever
Dan kita tahu kita kan di sini selamanya
The feeling is indescribable
Perasaan yang tak dapat digambarkan
Knowing that this is our reward
Tahu bahwa inilah balasan untuk kita
Do you remember the hard times we went through?
Ingatkah kau dengan saat-saat sulit yang kita lalui?
And those days we used to argue
Dan hari-hari saat kita sering beradu
But there was not one thing that could bring us down
Tapi tak ada satu pun yang bisa hentikan kita
'Cause we always had in our minds
Kita di benak kita selalu terbayang
The place that no eye has ever seen
Tempat yang tiada mata pernah melihatnya
The place that no heart has ever perceived
Tempat yang tiada hati pernah membayangkannya
The place we've been promised to live in forever
Tempat yang tlah dijanjikan tuk kita tinggali selamanya
And best of all, it's just me and you
Dan yang terbaik, hanya kau dan aku
CHORUS
I remember us praying at night
Teringatku saat kita berdoa di malam hari
And just dreaming about this together
Dan mimpikan ini bersama-sama
I'm so blessed to have you in my life
Kumerasa terberkati karena kumiliki dirimu dalam hidupku
And now we can enjoy these blessings forever
Dan kini bisa kita nikmati berkah ini selamanya
Paradise is where we are now
Surga adalah tempat kita kini
Paradise, a dream come true
Surga, mimpi yang jadi nyata
Paradise, O what a feeling!
Surga, betapa indahnya!
Paradise, thank You Allah!
Surga, terima kasih Allah!
Teringatku saat pertama berjumpa dirimu
I felt that God answered my call
Kumerasa Tuhan menjawab doaku
There was that one place I always thought about
Ada satu tempat yang selalu kupikirkan
And I just wanted to be there with you
Dan kuingin berada di sana bersamamu
The place that no eye has ever seen
Tempat yang tiada mata pernah melihatnya
The place that no heart has ever perceived
Tempat yang tiada hati pernah membayangkannya
I had a great feeling inside of me
Ada perasaan yakin dalam diriku
That one day I'll be there with you
Bahwa suatu hari nanti aku kan di sana bersamamu
CHORUS
And now that we're here, feeling so good
Dan karena kini kita di sini merasa sungguh bahagia
About all the things that we went through
Tentang segala yang tlah kita lewati
Knowing that God is pleased with us too
Tahu bahwa Tuhan juga meridhoi kita
It's not a dream, this is so true
Ini bukanlah mimpi, ini sungguh nyata
Feeling the peace all around
Rasakan kedamaian di segala penjuru
Seeing things we could never imagine
Melihat hal-hal yang tak dapat kita bayangkan
Hearing the sound of rivers flow
Mendengar suara sunga-sungai mengalir
And we know we'll be here forever
Dan kita tahu kita kan di sini selamanya
The feeling is indescribable
Perasaan yang tak dapat digambarkan
Knowing that this is our reward
Tahu bahwa inilah balasan untuk kita
Do you remember the hard times we went through?
Ingatkah kau dengan saat-saat sulit yang kita lalui?
And those days we used to argue
Dan hari-hari saat kita sering beradu
But there was not one thing that could bring us down
Tapi tak ada satu pun yang bisa hentikan kita
'Cause we always had in our minds
Kita di benak kita selalu terbayang
The place that no eye has ever seen
Tempat yang tiada mata pernah melihatnya
The place that no heart has ever perceived
Tempat yang tiada hati pernah membayangkannya
The place we've been promised to live in forever
Tempat yang tlah dijanjikan tuk kita tinggali selamanya
And best of all, it's just me and you
Dan yang terbaik, hanya kau dan aku
CHORUS
I remember us praying at night
Teringatku saat kita berdoa di malam hari
And just dreaming about this together
Dan mimpikan ini bersama-sama
I'm so blessed to have you in my life
Kumerasa terberkati karena kumiliki dirimu dalam hidupku
And now we can enjoy these blessings forever
Dan kini bisa kita nikmati berkah ini selamanya
Paradise is where we are now
Surga adalah tempat kita kini
Paradise, a dream come true
Surga, mimpi yang jadi nyata
Paradise, O what a feeling!
Surga, betapa indahnya!
Paradise, thank You Allah!
Surga, terima kasih Allah!
Monday, January 11, 2016
Drama Korea
Setelah beberapa kali menonton, menyaksikan, menelaah, mengikuti, dan menghayati cerita-cerita di drama korea, hampir ga ada bedanya dengan cerita-cerita dongeng. Agak-agak sulit diterima akal sehat. Terlalu membahagiakan. Tema ceritanya, sih, kadang memang beragam, macam-macam, lebih variatif lah ketimbang cerita sinetron--yang-pasti-ada-tokoh-antagonisnya-itu-antagonis-banget-nggak-ada-sisi-baiknya-sedikit-pun. Saya masih sulit percaya apa benar ada orang dengan sifat seperti itu.
Jadi, begini. Saya akan mengarang indah beberapa 'kekacauan' yang sering ada pada drama-drama korea di sini. Izinkan saya....
Jadi, begini. Saya akan mengarang indah beberapa 'kekacauan' yang sering ada pada drama-drama korea di sini. Izinkan saya....
love this one copy
Beautiful Words
Amorphous: indefinite, shapelessBeguile: deceive
Caprice: impulse
Cascade: steep waterfall
Cashmere: fine, delicate wool
Chrysalis: protective covering
Cinnamon: an aromatic spice; its soft brown color
Coalesce: unite, or fuse
Crepuscular: dim, or twilit
Crystalline: clear, or sparkling
Desultory: half-hearted, meandering
Diaphanous: gauzy
Dulcet: sweet
Ebullient: enthusiastic
Effervescent: bubbly
Elision: omission
Enchanted: charmed
Encompass: surround
Enrapture: delighted
Ephemeral: fleeting
Epiphany: revelation
Epitome: embodiment of the ideal
Ethereal: celestial, unworldly, immaterial
Etiquette: proper conduct
Evanescent: fleeting
Evocative: suggestive
Exuberant: abundant, unrestrained, outsize
Felicity: happiness, pleasantness
Filament: thread, strand
Halcyon: care-free
Idyllic: contentedly pleasing
Incorporeal: without form
Incandescent: glowing, radiant, brilliant, zealous
Ineffable: indescribable, unspeakable
Inexorable: relentless
Insouciance: nonchalance
Iridescent: luster
Languid: slow, listless
Lassitude: fatigue
Lilt: cheerful or buoyant song or movement
Lithe: flexible, graceful
Lullaby: soothing song
Luminescence: dim chemical or organic light
Mellifluous: smooth, sweet
Mist: cloudy moisture, or similar literal or virtual obstacle
Murmur: soothing sound
Myriad: great number
Nebulous: indistinct
Opulent: ostentatious
Penumbra: shade, shroud, fringe
Plethora: abundance
Quiescent: peaceful
Quintessential: most purely representative or typical
Radiant: glowing
Redolent: aromatic, evocative
Resonant: echoing, evocative
Resplendent: shining
Rhapsodic: intensely emotional
Sapphire: rich, deep bluish purple
Scintilla: trace
Serendipitous: chance
Serene: peaceful
Somnolent: drowsy, sleep inducing
Sonorous: loud, impressive, imposing
Spherical: ball-like, globular
Sublime: exalted, transcendent
Succulent: juicy, tasty, rich
Suffuse: flushed, full
Susurration: whispering
Symphony: harmonious assemblage
Talisman: charm, magical device
Tessellated: checkered in pattern
Tranquility: peacefulness
Vestige: trace
Zenith: highest point
Let the Word Do the Work
Here are some redundant combinations we’ve heard or read lately in the media. The careful writer will avoid such nonsense.
- return back
- progress forward
- forests of trees
- other alternatives
- continue on
- evacuated out
- regress back
- penetrate through
- speeding too fast
- refinanced again
- a human person
- charred black
- a baby nursery
- reiterate again
- fast forward ahead
- socialize together
- two twin towers
Friday, December 18, 2015
Hadiah ulang tahun
Jika Tuhan memberi 'hadiah' untuk kembali ke masa lalu. Saya ingin kembali ke tahun 2006. Tahun awal duduk di bangku perkuliahan. Saat itu, saya akan benar-benar belajar untuk bisa lulus SPMB--yang dulu gak diniatin banget karena masih jetlag dan kena pengaruh euforia masa SMA. Oke, ini saya sedang beralasan. Meskipun misalnya saya nggak berhasil lulus SPMB, toh saya akhirnya tetap berhasil mengambil jurusan yang memang sudah diidam-idamkan. Hanya saja kampusnya bukan yang diimpikan, bukan kampus negeri. Itu bukan masalah. Yang menjadi masalah, setelahnya saya tidak benar-benar serius belajar. Oh, tidak. Saya belajar. Jelas saya belajar. Tapi, belajar hanya apa yang diberikan oleh pengajar. Cukup tahu saja. Cukup sampai di situ. Saya hanya belajar, bukan menuntut ilmu. Tidak punya keinginan untuk menuntut ilmu. Tidak ada hasrat ingin mengetahui lebih dalam. Tidak ingin bertanya kenapa begini, kenapa begitu.
Thursday, December 10, 2015
Ingin ke Paris
Terlambat nggak, sih, kalau saya tiba-tiba ingin belajar ke Paris sekarang?
Bukan karena baru-baru ini abis nonton Tomorrowland yang membongkar misteri bahwa terdapat salah satu bagian menara Eiffel yang menyembunyikan pintu menuju sebuah negeri yang damai dengan berbagai kecanggihan teknologi, gedung-gedung yang megah, bangunan-bangunan unik, pelayanan serba cepat, ke-dinamis-an, modern, ajaib, dan lain sebagainya. Bukan karena itu. Bukan juga karena penasaran apakah korban bom Paris beberapa waktu lalu benar manusia atau boneka seperti yang digosipkan . Atau karena penasaran dengan siapa otak dibalik tragedi bom Paris itu. Bukan. Biarlah itu menjadi tugas para wartawan (wartawan, ya, bukan polisi).
Sekarang saya ingin menjadi penulis.
Bukan karena baru-baru ini abis nonton Tomorrowland yang membongkar misteri bahwa terdapat salah satu bagian menara Eiffel yang menyembunyikan pintu menuju sebuah negeri yang damai dengan berbagai kecanggihan teknologi, gedung-gedung yang megah, bangunan-bangunan unik, pelayanan serba cepat, ke-dinamis-an, modern, ajaib, dan lain sebagainya. Bukan karena itu. Bukan juga karena penasaran apakah korban bom Paris beberapa waktu lalu benar manusia atau boneka seperti yang digosipkan . Atau karena penasaran dengan siapa otak dibalik tragedi bom Paris itu. Bukan. Biarlah itu menjadi tugas para wartawan (wartawan, ya, bukan polisi).
Sekarang saya ingin menjadi penulis.
Wednesday, December 9, 2015
Dopamin
Ketika otak memerintahkan tubuh untuk mengeluarkan dopamin, neuropinephrine, dan oksitosin, akan ada kupu-kupu beterbangan memenuhi lambung, mengelilingi usus, mengitari seluruh alam perut. Aktivitas kupu-kupu itu dapat menyebabkan kaki melayang di udara, tangan memukul kepala berkali-kali, dapat pula mengembalikan berbagai ingatan yang membuat sudut bibir terangkat. Dan seolah semua itu belum cukup merepotkan, ditambah lagi air muka berubah menjadi sangat mencurigakan dan membuat siapa pun yang melihat bertanya "kamu kenapa, sih?"
-NP-
-NP-
Tuesday, December 8, 2015
Intervensi
Mendapat nilai tertinggi saat ujian akhir nasional
tidak selalu membahagiakan. Saat itu, hasil ujian--yang disebut NEM (Nilai
Ebtanas Murni)--saya tertinggi di sekolah. Saya kebetulan sekolah di Madrasah
Ibtidaiyah yang notabene tidak ada siapa-siapa di sana. Maksud saya seperti
ini, Ibu mengajar di SD ujung selatan desa, Paman mengajar di ujung barat desa, Bibi mengajar di SD sebelah, Bapak mengajar
SMP di kecamatan tetangga. Saya menduga mereka pasti ingin membuang saya.
Lupakan tujuan ingin menjadikan saya anak mandiri dan menghindari nepotisme.
Lupakan. Tapi, mungkin juga mereka menyekolahkan saya di sana untuk tujuan pendidikan
agama sejak dini karena mereka cukup sadar memiliki anak yang nakal. Sampai di
sini saya cukup bangga menjadi anak mereka.
Subscribe to:
Posts (Atom)










