Oh astaga, ternyata surat-surat dari distrik pada postingan sebelumnya belum selesai dibalas. Maapkan aku, wahai Blog. Mungkin kamu agak kecewa karena salah satu penggunamu ini tidak konsisten. Suka sekali membuat tulisan yang tidak selesai, setengah-setengah, ababil, sok sibuk. Ya, aku akan mengakui, akhir-akhir ini memang agak sibuk. Jangan bayangkan sibuk beneran. Sebenarnya, aku tidak sibuk, eh, sibuk ding. Eh, enggak sibuk. Aissh, sudahlah, yang jelas saat menulis di sini aku sedang lari dari empat naskah yang menunggu diutak-atik. Dan aku belum juga mau menyentuhnya. Selain karenanya nyantai belum dibayar di muka, aku terlanjur berada di zona nyaman. Males ngapa-ngapain.
Sunday, August 28, 2016
Saturday, July 23, 2016
Surat dari Distrik dan Balesannya
Sebelumnya, aku minta maaf karena baru membalas surat kalian sekarang. Dan kenapa aku mengunggahnya di sini, biar blog ini gak sepi tulisan karena aku yang terlalu sibuk dagang, ke kebun, memasak, makan, dan tidur. Padahal, kalian tahu surat kalian sudah aku baca di pesawat saat perjalanan pulang. Udah aku fotoin ya.. Kalian memintaku membacanya di pesawat biar dramatis, kan? Biar kayak di sinetron-sinetron itu, kan? Biar aku nangis sendirian dengan backsound lagu "let me go home..." trus orang di sebelah ngelirik sambil membatin "kirain cuma di sinetron ada adegan seperti ini. Dasar alay!"
Yang pertama surat dari yang paling senior dulu, ya, Kak Enta. Astaga, aku nggak nyangka Kak Enta bisa nulis sebagus itu. Maksud aku bukan bentuk tulisannya, melainkan isi tulisannya, rangkaian kata-katanya. Selama ini Kak Enta yang aku kenal itu emang orangnya cerewet, ramah, periang, dan kayak nggak pernah sedih. Oleh karena cerewetnya yang kebanyakan itu, aku pikir Kak Enta tidak terlalu suka menulis. Tapi ternyata tulisannyaa... terangkai indah. Aku harus ngasih bintang 4 buat surat Kak Enta. Kalo dikasih nilai, 85, deh. Inget, ini yang ngasih nilai mantan editor Salamadani lho ya, Kak.
Oya, mana, sih, suratnya Kak Enta itu? Bentar, aku unggah dulu.Monday, July 18, 2016
Perjalanan Tanpa Rencana
Adikku yang nomer 4, si Qorry Ainan, biasa dipanggil Kori atau Oi, dan Bapakku hari Sabtu kemarin sudah berbaik hati menemaniku ke Pelabuhan Bima. Aku janjian dengan seorang teman yang datang dari Makassar menuju Lombok dengan sebuah Kapal. Kapal itu ceritanya bakal merapat di Pelabuhan beberapa saat. Nah, aku dan temanku yang sudah lumayan lama tak berjumpa ingin mengambil kesempatan itu. Sampai di Pelabuhan ternyata kapal yang dinaiki temanku belum sampai. Untuk menghubungi temanku itu pun sulit, nomornya tidak aktif karena berada di tengah lautan. Jadi, sambil menunggu kedatangan kapal itu. Kami, aku, Kori, dan Bapak memutuskan untuk berjalan-jalan. Aku dan Bapak sepakat menyerahkan kepada Si Kori yang nyetir (aku bersumpah harus bisa nyetir juga. Masa kalah sama anak ingusan ini. Oke, oke, sekarang dia sudah mau SMA kelas 3) untuk membawa kami ke mana saja. Jadilah kami menempuh perjalanan yang lumayan atau kalau tidak bisa dibilang sangat jauh. Menuju arah utara Kota Bima. Sekalian biar keliatan kapal yang ditunggu karena kapal dari luar kota akan datang dari arah utara.
Sunday, July 17, 2016
Friday, July 15, 2016
Pisang
Bingung pisang di rumah banyak banget. Sampai-sampai mau bilang ke orang-orang yang ngasihnya "Om, Tante, Paman, Bibi, aku nggak pelihara monyet atau sejenisnya." Tapi, apalah daya, aku ditakdirkan sebagai anak yang baik dan lemah lembut. Jadi, cuma bisa bilang "Makasih banyak." Dengan senyuman termanis yang kupunya.
Sebagai mantan anak kos yang serba kekurangan, kurang asupan makanan bergizi, kurang minum jamu, kurang pengalaman memasak, kurang tidur, kurang kerjaan, dan kurang kurang lainnya, aku tidak terbiasa membuang-buang makanan. Aku pusing menghadapi pisang dan berbagai hasil kebun sebanyak ini. Kemarin aku sudah membuat pisang goreng, kemarinnya lagi aku bikin kolak dicampur labu, dan hari ini aku kehabisan ide. Cuma bisa digoreng begini aja. Lalu, seolah menemukan permata di sungai, aku menemukan keju di kulkas. Aku pun membubuhkan parutan keju di atasnya. Sambil memarut keju, iseng aku membaca tulisan di kemasannya. Ini kebiasaan burukku. Suka sekali membaca tulisan di kemasan. Kemasan apa saja. Kebiasaan ini terbawa bahkan sampai ke toilet. Karena toilet di rumah bukan toilet kering yang bisa sambil membaca koran, tanganku hanya mampu meraih botol shampoo atau sabun. Aku membaca tulisan dibalik kemasannya walaupun aku sudah membacanya berkali-kali. Harusnya kebiasaan ini bisa membuatku menguasai minimal tiga bahasa asing.
Kembali ke kegiatanku membaca kemasan keju tadi. Oh tidak! Kejunya sudah expired! Aku membaca lagi tulisan itu baik-baik. Benar saja, expired tahun 2015!! Duh, gustii. Pisang keju buatanku 😢ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Sebagai mantan anak kos yang serba kekurangan, kurang asupan makanan bergizi, kurang minum jamu, kurang pengalaman memasak, kurang tidur, kurang kerjaan, dan kurang kurang lainnya, aku tidak terbiasa membuang-buang makanan. Aku pusing menghadapi pisang dan berbagai hasil kebun sebanyak ini. Kemarin aku sudah membuat pisang goreng, kemarinnya lagi aku bikin kolak dicampur labu, dan hari ini aku kehabisan ide. Cuma bisa digoreng begini aja. Lalu, seolah menemukan permata di sungai, aku menemukan keju di kulkas. Aku pun membubuhkan parutan keju di atasnya. Sambil memarut keju, iseng aku membaca tulisan di kemasannya. Ini kebiasaan burukku. Suka sekali membaca tulisan di kemasan. Kemasan apa saja. Kebiasaan ini terbawa bahkan sampai ke toilet. Karena toilet di rumah bukan toilet kering yang bisa sambil membaca koran, tanganku hanya mampu meraih botol shampoo atau sabun. Aku membaca tulisan dibalik kemasannya walaupun aku sudah membacanya berkali-kali. Harusnya kebiasaan ini bisa membuatku menguasai minimal tiga bahasa asing.
Kembali ke kegiatanku membaca kemasan keju tadi. Oh tidak! Kejunya sudah expired! Aku membaca lagi tulisan itu baik-baik. Benar saja, expired tahun 2015!! Duh, gustii. Pisang keju buatanku 😢ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Wednesday, July 13, 2016
Cermin
Aku mematut diri di depan bayangan debu
Kurasa kaca yang ini sungguh besar
Lebih besar dari yang lain
Tak habis pikir
Mengapa tak juga tahu diri
Kaca sebesar apa lagi yang kuperlukan?
Andai bisa terbang
Aku akan berkaca di atas lautan
Atau di sepanjang sungai bening
Setelahnya, kupinta semesta menghalauku
Mengingatkanku
untuk terbang dan berkaca lagi
Kurasa kaca yang ini sungguh besar
Lebih besar dari yang lain
Tak habis pikir
Mengapa tak juga tahu diri
Kaca sebesar apa lagi yang kuperlukan?
Andai bisa terbang
Aku akan berkaca di atas lautan
Atau di sepanjang sungai bening
Setelahnya, kupinta semesta menghalauku
Mengingatkanku
untuk terbang dan berkaca lagi
Sajak Patah Hati
Aku patah hati
Hatiku patah lagi
Ini yang ke sekian kali
Jika memang tak ada obat,
Tolong pinjamkan aku perekat
Sejenis lem atau selotip
Jika memang masih tidak ada,
Benang pun tak apa
Aku akan mencoba menjahitnya
Mungkin akan sedikit terasa sakitnya
Tapi, aku harus tetap mencobanya
Jika tidak ingin hancur ianya
Yang aku percaya
Tuhan sedang bercanda
Agar aku tidak lupa
Karena setelahnya
Aku tidak tahan untuk tidak berairmata
Memanggil-manggil-Nya
Tidak jika di saat aku bahagia
Seringnya aku lupa
Dan tidak tahu diri rupanya
Terimakasih
untuk kamu yang mematahkannya
Aku tahu, kamu mungkin tidak menyadarinya.
^____^
Hatiku patah lagi
Ini yang ke sekian kali
Jika memang tak ada obat,
Tolong pinjamkan aku perekat
Sejenis lem atau selotip
Jika memang masih tidak ada,
Benang pun tak apa
Aku akan mencoba menjahitnya
Mungkin akan sedikit terasa sakitnya
Tapi, aku harus tetap mencobanya
Jika tidak ingin hancur ianya
Yang aku percaya
Tuhan sedang bercanda
Agar aku tidak lupa
Karena setelahnya
Aku tidak tahan untuk tidak berairmata
Memanggil-manggil-Nya
Tidak jika di saat aku bahagia
Seringnya aku lupa
Dan tidak tahu diri rupanya
Terimakasih
untuk kamu yang mematahkannya
Aku tahu, kamu mungkin tidak menyadarinya.
^____^
Friday, June 17, 2016
Cerdas Memanfaatkan Media Sosial
Media Sosial sebagai
lingkungan dan dunia baru tentu saja memiliki dampak positif dan negatif bagi
penggunanya. Lebih dari itu, media sosial kini menjadi semacam kehidupan lain
yang tidak terpisahkan dari manusia. Baca: Alam Gaib Punya Saingan Bernama Media Sosial . Kemajuan teknologi informasi serta
kebutuhan akan eksistensi diri membuat manusia sulit mengingkari pengaruh
lingkungan baru bernama media sosial. Itulah mengapa manusia perlu cerdas dan
bijak dalam memanfaatkan fenomena ini. Jika menghindarinya menjadi sesuatu yang
tidak mungkin, setidaknya kita harus menuai manfaat positif lebih banyak dan
meminimalisir dampak negatif, sebisa mungkin menghindari terjadinya hal-hal
yang tidak diinginkan. Lalu, bagaimana cara cerdas memanfaatkan media sosial?
Kira-kira apa saja triknya? Yuk, simak!
- Tabayyun
“Hai orang-orang yang beriman, jika
datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti
agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui
keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS 49 : 6)
Tabayyun
di sini artinya memeriksa dengan teliti. Pernah lihat link berita
tersebar di timeline atau home akun media sosialmu? Apakah kamu
tipe yang rajin membagi berita-berita itu? Jika iya, sebaiknya mulai sekarang
jangan terlalu rajin, jangan mudah percaya, dan jangan biasakan jarimu untuk
langsung meng-klik share. Jangan hanya karena ingin dinilai sebagai
orang yang selalu update informasi terbaru, kamu langsung meng-klik share
atau me-retweet tanpa memeriksa terlebih dahulu kebenarannya. Kamu harus
biasakan diri tabayyun, memeriksa terlebih dahulu dari mana asal berita itu,
siapa yang berbicara, kebenarannya bisa dipertanggungjawabkan atau tidak.
Dengan begitu, kamu akan terselamatkan dari menyebar berita hoax yang
tentu saja bisa merusak reputasimu secara tidak langsung.
Alam Gaib Punya Saingan Bernama Media Sosial
Abad ini, seorang anak
yang baru lahir—masih bayi merah—tidak hanya mengenal (baca: dikenal)
lingkungan keluarga untuk pertama kali. Ada lingkungan baru yang menyambutnya,
lingkungan virtual yang melingkupi penjuru bumi, tak berbatas, yang diberi nama
media sosial. Selang beberapa menit lahir, gambar si bayi sudah terpajang indah
pada salah satu akun media sosial ayah, ibu, paman, bibi, tante, teman
ibunya, teman ayahnya, atau anggota keluarga lain, atau bahkan yang tidak ada
hubungan keluarga tapi turut berbahagia dengan kelahirannya. Lebih hebat lagi,
para orangtua yang kreatif memberi caption dengan kalimat seolah-olah si
bayi itu sendiri yang menulis; Halo, Om, Tante…. Kenalkan namaku …. Aku
lahir dengan selamat tanggal ini, bulan ini, dan seterusnya. Betapa sejak
lahir dia sudah canggih dan pandai menulis. Wah, hebat, ya?
Melihat hal ini, kita bisa mengambil
kesimpulan sementara, bahwa sejak lahir, manusia sudah ‘hidup’ di dalam dua
dimensi sekaligus, bahkan saat dia sendiri belum menyadarinya. Apakah ada yang
salah dengan itu? Tidak, sungguh tidak ada yang salah, tulisan ini hanya
berusaha memaparkan sebuah fenomena yang mungkin saja ada yang tidak
menyadarinya.
Thursday, June 16, 2016
Ada yang datang dan pergi, tetap pergi.
Dalam hidupmu yang sementara di jagat fana ini akan selalu ada yang datang dan pergi.
Saat kamu pergi, orang-orang mungkin menangisi kepergianmu. Tapi, tangisan mereka paling tidak hanya hari itu, atau bahkan mungkin beberapa saat untuk menghiasi lambaian tangan perpisahan.
Besok...
Dan dua, tiga hari ke depan, orang-orang yang kamu tinggalkan akan bersedih, dan merindukan keberadaanmu.
Lima...
Enam...
Tujuh hari kemudian, masih banyak yang bertanya kabarmu sejak terakhir kali meninggalkan mereka.
Sebulan...
Dua bulan setelah kepergianmu masih ada satu atau dua orang yang bertanya terkait pekerjaan yang kau wariskan kepada mereka. Bertanya di mana kau menyimpan ini dan itu yang tidak berhasil mereka temukan.
Enam bulan...
Sembilan bulan...
Satu tahun berlalu, hanya sesekali kalian saling menyapa dan bertanya kabar. Kamu juga sudah mulai sibuk dengan teman-teman dan kegiatan barumu. Hubunganmu dengan mereka baik-baik saja, tidak ada masalah, hanya intensitasnya saja yang berbeda karena waktu telah membunuhnya.
Itulah se(tidak)jatinya kehidupan. Akan selalu ada yang datang dan pergi. Hanya waktu kebersamaannya saja yang berbeda. Ada yang sebentar, ada yang lama, ada juga yang selama-lamanya. Nah, ini... Ada. Ada yang terus menetap dan tidak pernah pergi walaupun waktu dan jarak berusaha membunuh kalian.
Pergi memiliki dua makna berbeda, benar-benar pergi dan menjadi tidak berarti atau pergi dan menjadi berarti.
Dia yang datang dan benar-benar peduli tidak akan pernah pergi meskipun kamu mengusirnya berkali-kali. Dia yang tidak hanya datang saat kau mencarinya. Dia yang tidak hanya menjawab saat kau menanyakannya. Dia yang selalu mengingatmu bahkan saat kamu mulai melupakannya. Dia yang seperti itu, jagalah ia, peganglah ia, jangan biarkan ia pergi dan menjadi tidak berarti. Jika pun dia harus pergi karena kehendak Tuhan, mintalah Tuhan untuk menjaganya, karena dia memang milik-Nya.
Tapi, bagi dia yang datang dan kemudian ingin pergi. Dia akan pergi meskipun kamu menggenggam erat tangannya, meskipun kamu memintanya, memohon-mohon untuk tetap tinggal. Karena itu, lepaskanlah. Jika pun dia harus kembali karena kehendak Tuhan, bersyukurlah, dan tetap saja, ingatlah, suatu saat dia akan tetap pergi. Maka, mintalah Tuhan untuk selalu menjaganya, karena dia memang milik-Nya.
Pada akhirnya, tidak ada yang benar-benar tetap tinggal, bahkan dirimu pun akan pergi meninggalkanmu dari dunia ini. Karena itu, mintalah Tuhan untuk selalu menjagamu. Walaupun tidak ada yang meminta hal itu untuk dirimu. Percayalah, Tuhan Maha Menemani. [NP]
Tuesday, June 7, 2016
Malaikat di Rumahku
Kali ini, besar keinginan di dalam hati untuk berkisah tentang keberadaan malaikat di rumahku. Sebenarnya ini rahasia dan bisa saja berbahaya jika terungkap karena yang orang lain tahu malaikat adalah makhluk gaib. Well, malaikat yang Tuhan ciptakan dari cahaya memang makhluk gaib. Tapi, tahukah kamu kalau Tuhan juga sempat menciptakan malaikat dari jenis lain? Baiklah, simak baik-baik ceritaku, ya!
Dia bukan sosok malaikat yang statis, melainkan dinamis.
Dia bukan sosok yang patuh, dia selalu mengikuti apa yang menurutnya baik.
Dia bukan sosok yang lemah lembut, melainkan sosok yang kuat dan mandiri.
Dia bukan sosok yang dermawan, melainkan sosok yang bijaksana.
Dia bukan sosok yang rupawan, melainkan menawan.
Dia bukan sosok yang cerdas, melainkan ahli menempatkan sesuatu.
Dia bukanlah sosok pemberi nasihat yang baik, namun segala katanya berbuah hikmah.
Dia bukan sosok pemaaf, namun bersahaja dalam amarahnya.
Dia bukan sosok yang pendiam, namun cerewetnya dirindukan.
Lihat, aku bahkan tidak dapat menyebutkan sifat-sifat negatif untuk menggambarkan yang bukan dirinya. Yap, sosok malaikat itu adalah Ibu. Pernah dengar malaikat jenis ini? Kurasa semua manusia di bumi ini memilikinya, kecuali Adam dan Hawa karena memang mereka berasal dari surga, bukan dari bumi.
Ibu, kau memang tidak pernah mengajarkanku bagaimana cara berterimakasih kepadamu. Jadi, jangan salahkan aku kalau tidak tahu caranya. Tapi, aku merasa berkewajiban untuk berterimakasih kepada Tuhan yang telah mengizinkanku lahir dari rahimmu. Maafkan aku yang belum pulang sekarang, tunggu, tidak lebih dari dua puluh lima hari lagi. Semoga Tuhan mengizinkan.
Saturday, May 21, 2016
My Housemate, The Girl Nextdoor.
Namanya Ruth, bukan Ruth Sahanaya tentu saja. Ruth Labdawati. Panggilan Utheee, kurasa biar kedengaran lebih imut. Ya, pasti karena itu. Dia adalah orang yang paling gak rela kalo ada anak kos yang lebih muda dari dirinya. Dan paling ga bisa tenang lagi kalo ada yang lebih tua, tapi kelihatan lebih imut, seperti aku, ehm.
Pintar, cantik, memiliki kulit eksotis, tapi baginya apalah arti semua itu kalau sampai sekarang, di usianya yang menginjak 23 tahun, dirinya masih menjomblo. Hei, apa kabar gue dong? Meski suka berdebat dan mudah percaya dengan apa saja yang dia baca, Uthe sangat sensitif, gampang tersentuh, gampang nangis hanya karena nonton film--yang menurut aku gak ada sedih-sedihnya--, dan dia sangat baik hati. Sekarang aja, saat menulis ini, aku sedang makan bubur buatannya sebelum berangkat ke kampus tadi. Dibuatkan bubur dan teh anget, aku langsung sembuh. Aku sungguh terharu dibuatnya. Anak itu memang menyebalkan. Kenapa, sih, dia baik banget. Padahal aku sering jahat ke dia.
Uthe anak yang taat, nggak pernah ketinggalan atau sengaja meninggalkan ke gereja setiap hari minggu. Setiap subuh, masih dalam kegelapan kamarnya, selalu terdengar sayup-sayup suara nyanyian yang merdu. Tidak begitu jelas. Mungkin dia tidak ingin mengganggu kami yang juga sedang beribadah subuh di kamar masing-masing. Kadang aku menjadi sangat terharu dengan suasana itu. Sementara di kamar lain, depan kamar Uthe, ada juga yang seiman dengan Uthe, tapi masih tertidur nyenyak. Bukan berarti dia tidak taat. Dia punya waktu sendiri. Ada lagi, di kamar sebelahku, ibadahnya cukup seminggu sekali dengan mengajak si Bleki ke gereja yang berbeda dengan Uthe. Untungnya si Bleki cukup ikut sampai parkiran, ga minta ikut masuk ke dalam.
Kembali ke masalah Uthe yang masih jomblo. Kenapa dia masih jomblo? Pernah dia cerita beberapa kali dekat dengan cowok, tapi masalahnya selalu sama, beda keyakinan. Kalopun ada yang seiman, kebanyakan orang batak. Dia tidak suka orang batak. Rasis, sih, ya. Tapi, untuk masalah cowok yang bakal seatap dengannya mungkin dia berhak menginginkan yang ideal. Kebanyakan teman juga mengalami hal yang sama. Putus-nyambung seperti menjadi hal yang biasa. Wajar, sih, emang, kan masih dalam proses pencarian. Kadang aku suka sedih kalau mendengar cerita mereka yang tidak jadi apa-apa dengan para cowok php itu. Rasanya pengen patahin satu-satu tulang cowok-cowok tidak tahu berterimakasih itu. Karena terlalu sedih dengan kisah mereka itu pula, jadinya aku tidak sempat menyedihkan diriku sendiri yang ternyata masih jomblo juga. Baiklah guys, percaya saja, jodoh nggak akan ke mana.
Astaga, heran, deh, kenapa sih ujung-ujungnya malah masalah jodoh yang dibahas. Ini pasti gegara teror Ibu yang dateng hampir tiap hari. Haha...
Uthe, lakum diinukum waliyadiin. Tapi, buburnya asin, nih...
Monday, May 16, 2016
Sunday, May 15, 2016
Pagi Berpuisi
Lantai itu masih dingin
Dinding itu masih membisu
Daun pintu masih dengan derit mencekam
Langit-langit masih menatap cemooh
Cicak pun masih tak berdecak risau.
Tapi, sejak saat itu, terbit mentari tak lagi sama
Semburatnya melukis namamu
Bulir embun mengkilau rindu untukmu
Sejuknya udara mengabarkan cinta padamu.
Sejak saat itu, sepenggalahan tak lagi sama
Meski masih merangkak menembus pikuk menemui sunyi
Mendengar hembus angin mengantar kata-kata cinta untukmu, bercengkrama denganmu
Ah, betapa bahagianya menjadi angin.
Sejak saat itu, terik matahari tak lagi sama
Melupakan santapan yang terhidang
Meninggalkan cuap-cuap teriring gurau tawa
Mencari sunyi yang menenangkan.
Sejak saat itu, bias jingga tak lagi sama
Awan tak lagi berarak kelabu
Cuaca tak lagi mendung
Meski masih dengan rintik dan deras
Perjalanan pulang tak lagi senyap
Selalu ada yang menemani.
Harusnya
Sejak saat itu
Begitu
Tapi, mengapa tetap saja
Lantai tak begitu hangat
Dinding pun belum ingin bicara
Daun pintu bahkan terbuka lebar tak berderit
Langit-langit menatap tanpa ekspresi
Cicak kini berdecak mengganggu.
Pasti ada yang belum selesai
Ada
Pasti
Apa?
Dinding itu masih membisu
Daun pintu masih dengan derit mencekam
Langit-langit masih menatap cemooh
Cicak pun masih tak berdecak risau.
Tapi, sejak saat itu, terbit mentari tak lagi sama
Semburatnya melukis namamu
Bulir embun mengkilau rindu untukmu
Sejuknya udara mengabarkan cinta padamu.
Sejak saat itu, sepenggalahan tak lagi sama
Meski masih merangkak menembus pikuk menemui sunyi
Mendengar hembus angin mengantar kata-kata cinta untukmu, bercengkrama denganmu
Ah, betapa bahagianya menjadi angin.
Sejak saat itu, terik matahari tak lagi sama
Melupakan santapan yang terhidang
Meninggalkan cuap-cuap teriring gurau tawa
Mencari sunyi yang menenangkan.
Sejak saat itu, bias jingga tak lagi sama
Awan tak lagi berarak kelabu
Cuaca tak lagi mendung
Meski masih dengan rintik dan deras
Perjalanan pulang tak lagi senyap
Selalu ada yang menemani.
Harusnya
Sejak saat itu
Begitu
Tapi, mengapa tetap saja
Lantai tak begitu hangat
Dinding pun belum ingin bicara
Daun pintu bahkan terbuka lebar tak berderit
Langit-langit menatap tanpa ekspresi
Cicak kini berdecak mengganggu.
Pasti ada yang belum selesai
Ada
Pasti
Apa?
Monday, May 9, 2016
Sin(cere)
Suatu hari saya diberi tugas nge-proof Juz 'Amma Super, ketemulah saya dengan kosakata sincere pada halaman sekian bagian suplemen kosakata. Di sana tertulis dengan huruf hijaiyah "ikhlaasun", bahasa Inggris "sincere", dan arti bahasa Indonesianya "ikhlas". Entah apa sebab saat melihat sepenggal kata itu saya seperti tertampar "plakk". Dan di kepala saya langsung muncul balon kata tertulis tanda buka-tutup kurung yang memisahkan kata "sin", tulisannya begini: sin(cere). Dan saya langsung merinding gak disko.
Tetap Positif Setiap Hari
1. Bangun pagi.
Menurut para ahli bangun pagi, bangun di pagi hari membuat tubuh terasa lebih segar dibandingkan bangun setelah matahari sudah terbit. Bangun pagi yang dimaksud di sini sekitar jam tiga, empat, dan lima pagi. Pada waktu-waktu tersebut udara masih segar, suhu udara mengandung lebih banyak oksigen karena hasil fotosintesis tumbuhan belum ternodai oleh polusi kendaraan. Mereka bisa kehilangan kesempatan menghirup udara segar jika kesiangan. Tidak hanya buruk bagi kesehatan, bangun siang juga dapat merusak mood, akibatnya kehidupan sosialmu pun terganggu. Contohnya, kamu bangun kesiangan, lalu terburu-buru berangkat ke kantor atau sekolah, takut terlambat sehingga tidak sempat sarapan, tidak ada asupan energi, tubuh menjadi lemas dan tidak bersemangat. Tidak cukup sampai di situ, sekarang buku PR-mu ketinggalan, tentu saja kamu kena hukuman. Ditambah lagi, beberapa alat tulis tidak dibawa, sebelum berangkat tadi tidak sempat memeriksa tas. Jangankan periksa isi tas, mandi aja kamu selesaikan dalam waktu kurang dari 5 menit. Kamu merasa gerah karena capek abis lari-lari ngejar bus sekolah, rasanya ingin marah pada semua orang. Itulah yang dimaksud dengan bangun siang dapat mengganggu kehidupan sosialmu. Mulai sekarang, biasakan diri bangun di pagi hari agar kamu bisa menjalani aktivitas dengan semangat, ceria, dan tetap positif.
Tuesday, May 3, 2016
Dongeng sebelum tidur
Pada suatu masa, seorang profesor berencana menciptakan sesuatu yang bisa (dan bersedia tanpa pamrih) mengerjakan apa yang dia inginkan. Lalu, diciptakanlah sebuah robot yang bisa bergerak sesuka mesin. Ya, seperti juga manusia yang bergerak sesuka hati, robot itu diberi kepintaran sehingga bisa melakukan apa saja sesuai kehendak mesinnya. Profesor sengaja membuatnya seperti itu agar ciptaan ini berbeda dari ciptaannya yang lain. Sekaligus ia ingin membuktikan sehebat apa ciptaannya.
Friday, April 22, 2016
Baper itu bikin Laper
Hari itu, kau melihatku, menatapku seolah-olah aku adalah makhluk terindah di bumi. Tadinya aku tidak ingin terlalu percaya diri, takut baper kalau kata abege zaman sekarang. Tapi, setelah kau menanyakan tentangku kepada wanita paruh baya itu, setelah kau menanyakan bagaimana cara membuatku senang, mau tidak mau aku harus bersiap-siap. Ya, apalagi kalau bukan bersiap-siap untuk kau bawa pergi. Hei, aku tidak menguping, kau memang menanyakan tentang diriku di depanku sendiri, dan itu sangat terdengar jelas. Apakah ini seperti sebuah acara lamaran? Aku tertawa dengan pikiranku sendiri.
Thursday, April 21, 2016
Kartini yang Gemar Baca dan Suka Menulis
Wat zijn
wij toch stom, toch dom, om een heel leven lang
een berg
schatten naast ons te hebben et het niet te zien, niet te weten.
(Alangkah bebalnya,
bodohnya kami tiada melihat, tiada tahu
bahwa sepanjang hidup ada gunung kekayaan
(Al-Quran) di samping kami).
Wij zochten
niet bij demenschen troost wij klemden ons vast aan Zijn hand.
(Kami tidak
perlu mencari pelipur hati pada manusia,
kami hanya
berpegang teguh pada Tangan Allah).
–Api Sejarah—
Raden Adjeng Kartini terkenang bukan karena dia berhasil
memenangkan nobel dalam bidang tertentu. Bukan pula karena menjadi ketua
organisasi, ketua PKK, ketua partai, anggota dewan yang terhormat, bupati, presiden,
atau apa pun sejenis itu. Disebutkan dalam deretan nama Pahlawan juga bukan
karena maju di medan perang melawan penjajah. Terkenal sebagai pelopor
kebangkitan perempuan juga bukan karena menjadi menteri pemberdayaan perempuan.
Bukan. Kartini justru terkenang karena tulisan angan-angan, cita-cita, pemikiran,
dan keinginan pribadinya.
Friday, April 15, 2016
belum berjudul
Abad ini, seorang anak yang baru lahir--masih bayi merah--tidak hanya mengenal (baca: dikenal) lingkungan keluarga untuk pertama kali. Ada lingkungan baru yang menyambutnya, lingkungan virtual yang melingkupi penjuru bumi, tak berbatas, yang diberi nama media sosial. Selang beberapa menit lahir, gambar si bayi sudah terpajang indah pada salah satu akun media sosial ayah, ibu, paman, bibi, tante, teman ibunya, teman ayahnya, atau anggota keluarga lain, atau bahkan yang tidak ada hubungan keluarga tapi turut berbahagia dengan kelahirannya. Lebih hebat lagi, para orangtua yang kreatif memberi caption dengan kalimat seolah-olah si bayi itu sendiri yang menulis; Halo, Om, Tante. Kenalkan namaku . Aku lahir dengan selamat tanggal ini, bulan ini, dan seterusnya. Betapa sejak lahir dia sudah canggih dan pandai menulis. (Hm, sepertinya tulisan ini terinspirasi dari beberapa teman yang akhir-akhir ini seolah janjian melahirkan bareng. Dan saya sirik).
Monday, April 4, 2016
Arema Cronus vs Persib
*Awas! Tulisan ini mengandung SARA.
Dilema, tentu saja. Apakah berhak seseorang yang sedang 'nginep' di tanah sunda tidak mendukung pemain dari tanah tersebut? Ternyata tidak masalah, dan justru perbedaan itu memang menyenangkan. Walaupun sambil nonton, sambil juga 'bergelut' dengan teman-teman kosan yang semuanya gadis sunda, kami sama-sama menikmati. Ditemani genderang botol air mineral, piring, sendok, bahkan sisir, sampai seabrek camilan, menyanyikan yel-yel yang tidak kami hafal liriknya. Suasana seperti ini yang disebut bahagia itu sederhana. Ditambah lagi bahagia dengan kemenangan Arema Cronus yang bahkan sudah membuat topi khusus bertuliskan UTAS, yang dibaca terbalik menjadi SATU. Karena itu, saya jadi mikir, betapa keyakinan itu memang penting. Lihat saja, mereka begitu yakin akan menjadi sang juara sampai sudah membuat dan menyiapkan topi itu sebelumnya. Atau mungkin mereka juga menyiapkan topi dengan tulisan AUD? Saya tidak yakin.
Subscribe to:
Posts (Atom)









