kegiatan membaca saat kita sedang tidak ingin membaca itu memang cobaan yang berat.
salah satu cara yang perlu dilakukan jika cobaan itu datang adalah dengan menghadangnya. kamu bisa menggunakan hobbi lain sebagai alat penghadangnya. yap! hobby menulis misalnya. seperti yang saya lakukan sekarang ini.
saya menggeser tab dan membuka blog karena mata saya cukup lelah membaca berisan naskah-naskah yang bermacam jenis, dari yang bagus sampe yang gak bisa dimengerti. entah karena saya yang bloon ato karena mata saya udah merem-melek, hal seperti ini yang harus saya hindari, karena kalo sambil merem-melek, naskah yang bagus bisa saja saya buang. semoga itu tidak pernah terjadi.
Tuesday, June 25, 2013
Wednesday, June 19, 2013
Hari ini
Duduk depan komputer, headphone di telinga
mengalunkan Seconhand Serenade se-album, buka internet; situs toko
buku, email, facebook, twitter, kbbi, google search., kubikel penuh
tempelan pengingat apa yang kudu dikerjain, buku-buku dan
kertas-kertas berserakan, kalo bosen kadang berdiri, jalan-jalan,
corat-coret nyari inspirasi, kadang kaki diangkat, makan, ngemil, de
el el, seterah deh mau ngapain, asal jangan kayang sambil bilang waow
aja, karena itu emang gak perlu. Satu lagi, yang pasti gak boleh
ketinggalan, ada malaikat yang selalu bisikin iqra..! iqra..!
bacalaah! Bacalah! Hedeh..
Yap, emang kayak gitu lah dunia saya sekarang, dunia
seperti ini yang sudah saya impikan sejak dulu. Dikelilingi bejibun
buku, tiada hari tanpa membaca dan membaca, menjalin hubungan dengan
penulis-penulis (bukan hubungan terlarang, kok…), mengoreksi
tulisan, mencoret yang gak bener, menghapus yang gak kepake,
mengganti yang salah tempat, ketawa kalo ada tulisan yang gokil,
sedih kalo ada tulisan yang menguras air bak mandi, eh, menguras air
mata, mengerutkan kening kalo ada tulisan yang aneh, stop, stop,
stoop… intinya, wajah saya yang imut ini jadi penuh ekspresi
deeh... :P
Akhirnyaaaaaa,,,, saya ngerasain juga otak mumet karena
harus membaca naskah mentah kiriman pengarang dan penulis
antah-berantah. Mulai dari penulis yang belum terkenal, penulis yang
gagal terkenal, penulis yang gak terkenal-terkenal (padahal
tulisannya bagus), penulis yang sudah terkenal di kaumnya, hingga
penulis yang jam terbangnya sudah tinggi dan sudah makan asam-garam
kepenulisan.
Bejibun naskah dengan bermacam karakter tulisan itulah
yang bikin galau, kadang ada tulisan yang sudah bagus, tapi gak bisa
terbit karena temanya lagi gak sesuai dengan agenda penerbitan saat
itu, kadang ada juga tulisan yang menarik dan unik, tapi harus masuk
ke folder ‘anda belum beruntung’ karena pertimbangan nilai
jualnya yang bakal bikin teman-teman di bagian marketing ketar-ketir.
Gak tega juga sih…. Iya, emang, semua itu harus dipertimbangkan.
Bukan penerbitan milik mbah saya soalnya. Emang mbah saya punya
penerbitan? Punya dong, penerbitan kambing dan bebek. Eh, oh, itu
peternakan… udah ganti nama rupanya.
Friday, June 7, 2013
Ekspedisi Menuju Pantai Selatan
Laporan Perjalanan:
Genre: Nonfiksi
Kamis, 13 Mei 2010
Jonggring Saloka, nama itu masih terasa asing di telinga. Keberadaan pantai di bagian selatan pulau Jawa, tepatnya di Desa Mentaraman, Kecamatan Donomulyo pinggiran selatan Kabupaten Malang, Jawa Timur ini tidak banyak yang tahu. Yang terkenal dan banyak dikunjungi adalah seperti pantai Sendang Biru, Balekambang, dan Pantai Ngeliyep. Padahal Malang masih memiliki banyak pantai dan pemandangan laut lepas yang indah lainnya, salah satunya adalah Pantai Jonggring Saloka ini.
Untuk mendapatkan pantai Jonggring Saloka ini membutuhkan tenaga yang kuat, waktu yang panjang, dan ke-nekat-an. Perlu jarak perjalanan yang berpuluh-puluh kilo. Saat ini, tidak ada yang mengunjungi pantai tersebut jika sekedar ingin rekreasi atau mengisi waktu libur. Orang-orang lebih memilih pantai Sendang Biru, Balekambang, atau Ngeliyep jika ingin berekreasi. Karena selain jaraknya yang sangat jauh, akses jalan menuju pantai Jonggring Saloka saat ini dalam kondisi yang sangat buruk. Akan sangat kesulitan jika ditempuh dengan kendaraan, karena kondisi jalan yang penuh dengan batu-batuan besar, licin, becek, dan sempit.
Genre: Nonfiksi
Kamis, 13 Mei 2010
Jonggring Saloka, nama itu masih terasa asing di telinga. Keberadaan pantai di bagian selatan pulau Jawa, tepatnya di Desa Mentaraman, Kecamatan Donomulyo pinggiran selatan Kabupaten Malang, Jawa Timur ini tidak banyak yang tahu. Yang terkenal dan banyak dikunjungi adalah seperti pantai Sendang Biru, Balekambang, dan Pantai Ngeliyep. Padahal Malang masih memiliki banyak pantai dan pemandangan laut lepas yang indah lainnya, salah satunya adalah Pantai Jonggring Saloka ini.
Untuk mendapatkan pantai Jonggring Saloka ini membutuhkan tenaga yang kuat, waktu yang panjang, dan ke-nekat-an. Perlu jarak perjalanan yang berpuluh-puluh kilo. Saat ini, tidak ada yang mengunjungi pantai tersebut jika sekedar ingin rekreasi atau mengisi waktu libur. Orang-orang lebih memilih pantai Sendang Biru, Balekambang, atau Ngeliyep jika ingin berekreasi. Karena selain jaraknya yang sangat jauh, akses jalan menuju pantai Jonggring Saloka saat ini dalam kondisi yang sangat buruk. Akan sangat kesulitan jika ditempuh dengan kendaraan, karena kondisi jalan yang penuh dengan batu-batuan besar, licin, becek, dan sempit.
Something about My Job
Genre: Nonfiksi
Pernah denger perusahaan Penerbitan dan Percetakan di kota Bandung, PT. Grafindo Media Pratama. Hadehh… penerbitan apalagi ini??? Yang aku tau itu Penerbitan Erlangga, Yudhistira, Balai Pustaka, Obor, Gramedia, Gagas Media, Bukune, Dar!mizan, Repulika. Ya yang itu-itu saja. Tapi, ini! Grafindo Media Pratama?? aku taunya Andika Pratama yang artis itu. Haish! benar-benar kuper nihh. Aku pernah mengirim lamaran sebagai Editor di perusahaan ini, meskipun tadinya aku tidak terlalu familiar dengan perusahaan ini. Setelah aku mendatanginya untuk mengikuti tes tulis dan proses interview, barulah aku melongo dengan suksesnya.
Pikirku penerbitan yang memanggilku ini paling hanya penerbitan kecil-kecilan di pojok kota Bandung. Bukan karena aku meremehkan penerbitannya, tapi karena aku mengenal siapa yang mereka loloskan untuk mengikuti wawancara. Siapa lagi kalau bukan diriku sendiri. Apa coba yang mereka lihat dari email yang aku kirim dulu?? Walaupun sebenarnya waktu mengirim itu aku berharap-harap cemas sambil komat-kamit baca doa semoga ada kelanjutan, berharap banget ada panggilan wawancara. Tapi, setelah mendapat panggilan wawancara dan tes tulis, aku malah jadi gak yakin dengan perusahaannya. Hewwh… --‘
Wednesday, June 5, 2013
Kereta Senja
Puisi:
Gedung-gedung berlarian
Rumah-rumah berjejer pergi
Pepohonan melambai
Sawah-sawah melintas anggun
Leladang menghampar terbirit
Di ujung pandangku
Di komplek gunung itu
Siluet jingga menabur bumi
Sungguh, keindahan yang kubenci
Kau tau kenapa?
Karena Senja s'lalu bercerita perpisahan
Tapi, tetap kunikmati
Hampar atap berpadu luap asap
Indah taman di muka
Dengan kapal-pecahnya halaman belakang
Semua terlihat olehku
Menjulangnya gedung ruko
Beradu rendah dengan gubuk-gubuk reyot
Itu juga tampak nyata
Tanpa perlu membuka mata
Ladang melerai Bintang timur
Karena mengejar Pengirim Senja
Lihat! Di sana ada Pak Tani
Sedang berjanji pada Padi
Akan membunuh Tikus-tikus pencuri
Hei, menurutmu haruskah aku melompat
Menghampiri Pak Tani itu
Lalu, mengisahkan dunia sejatinya saat ini?
Haruskah aku turun dan berlari
Menceritakan juga pada Padi
Untuk tak merasa senang dengan janji?
Namun, urung
Aku belum ingin mati
Kubuka tirai
Aku masih di atas kereta ini
Membawaku ke kota baru
Meraih mimpi biru
Seperti langit di esok pagi.
Nina Pradani
30 Mei 2013, 5:20 pm.
@ K.A Mutiara Selatan (perjalanan Surabaya-Bandung)
Saturday, May 18, 2013
Cerpen:
LANGIT ANDALUSIA 2
Awan’s Blog:
Posted by Awan at January, 11th 2013
Aku tahu
Kau melihatku
Kau buat ku
bertemu bidadari itu
Setelah Kau
biarkan luka
Perihnya
kutelan
Ya, aku
melihatnya
Tepat di atas
tebing indah ini
Jilbab yang
berkibar itu
Desau angin
memanggilku
‘tuk
mengganggunya
Yang tengah
membidik titik-titik fokus
“Pemandangan
yang bagus, bukan?”
Aku sadar,
aku sedang menjelma
Menjadi
perayu ulung
Basa-basi
yang tak biasa kulakukan
Bidadari itu
hanya tersenyum ringan
Ia tak
terganggu
Masih
membidik dengan kamera professional yang dikalunginya
Tapi, hei..
tunggu!
Wajah itu,
bukankah pernah kulihat?
Kenapa dia
begitu santai?
Kenapa dia
seolah tahu ini aku?
Dia tahu aku
mengenalnya?
Dan kenapa
dia bersikap biasa aja?
Seolah kami
datang bersama atau
Berjanji
bertemu di atas kota tebing ini?
Hei, siapa
dia sebenarnya?
Yang
terpenting, dimana aku pernah melihatnya?
***
Wulan’s
Blog: Posted by Wulan at April, 4th 2013
“Huft, gimana ini..?” aku
merunduk, kedua tangan kubiarkan menggantung seolah memeluk meja makan tanpa
hidangan itu. Karena merasa sakit di dahi dan hidungku, aku menempelkan pipi
kiri. Aku sedang stres.
“Ada
apa?” Suara pria dengan karakter sedingin es, bahkan lebih dingin dari beruang
kutub. Sialnya, suara itu tetap terdengar lembut di telingaku. Ya, dialah
suamiku, pria tertampan di dunia yang baru menikahiku sebulan lalu. Makhluk
paling dingin yang pernah kukenal. Maaf
sayang, lirihku dalam hati. Saat ini, untuk mendongakkan kepala pun aku tak
mampu, lelah. Padahal aku yakin dengan melihat wajahnya saja penatku pasti
hilang. Yah, meski wajah dingin yang selalu ditampakkannya. Aku tahu, justru
itu yang membuatku jatuh cinta. Tapi, aku tak mengerti kenapa setelah menikah,
wajah dinginnya melumer padaku, hanya padaku, tidak pada wanita lain. Aku tak
berharap itu terjadi. Tetaplah hanya tersenyum padaku.
“Kenapa,
hm? Pulang-pulang langsung lemes gitu?” Suaranya pelan tapi terdengar sangat
jelas. Ah, dengar suaranya saja membuatku tenang. Tanpa dia membelai kepalaku
seperti ini pun, suaranya sudah membelaiku. Senyumnya mengembang sempurna
begitu aku mendongakkan kepala. Yah, kok senyum? Batinku aneh.
Thursday, May 9, 2013
Poem
Isa Alamsyah Nina Pradani kekuatan penulis adalah imajinasi, gak perlu nikah dulu untuk nulis ttg nikah
Demi kata-kata itu, gue pun menghabiskan malam ini dengan membuat puisi di bawah ini; (kayak bikin soal UN aja) Hemmz, kalau pun gak masuk list, tak apa, masuk di postingan blog aja. Gile! begadang semalem suntuk cuma berhasil bikin satu puisi doang??? imajinasi gue pada lari kemana ssih?? giliran ngomongin nikaah ajja pada kabur! ckck..
Tema: Menanti Suami (yang bertugas ke luar kota berbulan2)
JUST THE WIND
I stare the leafage falling
They're compliant flown
In the wind who no feelings
I'm here for a long waiting
I heard the rail snapping
Seems knocking that you're come
Make me running on. Then I know, it just the wind
I'm still here for waiting
I looked up to the sky, count the stars
Seems counting the day your return
I feel your shadow caress on. Again, it just the wind
And I'll be here though for a long waiting 'till I slept...
-Nina Pradani-
*ampuni saya ratu Elizabeth, kalo ada grammar yg salah*
Sebelum itu, gue buat puisi juga, TEMA: MERTUA
Tapi, masih belum qualified ternyata, hiks, it's not problem, Bukan Nina namanya kalo nyerah gitu aja.
Gamang
Lihat aku!
Siapakah bidadarimu?
Aku atau dia?
Senyumku pekat baginya
Tulusku kelabu tak diindahnya
Mengapa aku yang merampasmu?
Mengapa dia tak pernah bisa menerima baktiku?
Tuhan, dosakah aku?
Cemburu ini merantaiku.
TEMA: MERTUA
*ngepost sambil merem*
Isa Alamsyah Nina Pradani: isinya tidak menggambarkan temanya, baru tahu kalau dijelaskan> Masih kurang qualified
gue lupa kalo bikin puisi sama bikin cerpen itu beda, niatnya gue mau bikin pembaca penasaran dengan meng-ambigu-kan kata-kata pada puisi di atas, eh, ternyata tidak menggambarkan tema.
Belajar lagi!
Belajar lagi!
Sunday, May 5, 2013
Puisi
'Aku dan Jendela itu'
Kau selalu punya banyak cerita
Menyimpan sejuta rahasia
Tak ayal kau berkisah padaku
Kapan pun itu
Tak pernah kenal waktu
Setiap aku di dekatmu
Kau selalu mengadu
Menjelas, kadang menipu
Memaksa senyum tersungging
Kadang juga tawa tergelak
Sering kau buat keningku bertaut
Dengan senyum maut
Kemarahanku tetap kau sambut
Jika dengki membaut
Tekadku pun kau buat menciut
Tapi tahukah? mimpiku dan langit terpaut
Itu semua karena kamu, Buku.
Kau memang jendela itu.
Kau selalu punya banyak cerita
Menyimpan sejuta rahasia
Tak ayal kau berkisah padaku
Kapan pun itu
Tak pernah kenal waktu
Setiap aku di dekatmu
Kau selalu mengadu
Menjelas, kadang menipu
Memaksa senyum tersungging
Kadang juga tawa tergelak
Sering kau buat keningku bertaut
Dengan senyum maut
Kemarahanku tetap kau sambut
Jika dengki membaut
Tekadku pun kau buat menciut
Tapi tahukah? mimpiku dan langit terpaut
Itu semua karena kamu, Buku.
Kau memang jendela itu.
Thursday, May 2, 2013
Puisi
Kenapa KBM?
Ini gila!
Sumpah, ini benar-benar gila!
Sungguh, kemarin
Aku benci tak nyata
Aku muak dengan maya
Tapi, kenapa KBM?
Seolah nyata
Warna mereka ada
Tak hanya jingga
Mereka pelangi
Ya, pasti
Pasti karena mereka pelangi...
Kamis, 2 Mei 2013, 03:00 AM
Nina Pradani untuk Komunitas Bisa Menulis
Ini gila!
Sumpah, ini benar-benar gila!
Sungguh, kemarin
Aku benci tak nyata
Aku muak dengan maya
Tapi, kenapa KBM?
Seolah nyata
Warna mereka ada
Tak hanya jingga
Mereka pelangi
Ya, pasti
Pasti karena mereka pelangi...
Kamis, 2 Mei 2013, 03:00 AM
Nina Pradani untuk Komunitas Bisa Menulis
Perlu, selipin pasir diantara bebatuan*
Bila A adalah semua hal yang membuat kamu frustasi,
dan A = X + Y + Z,
Maka X = ditanya kapan wisuda? Y = ditanya kapan nikah?
Z = ditanya kapan aku bisa melamarmu?
(Nina Pradani, diadaptasi dari Albert Einstein)
Sesial-sialnya, satu jam cuma enam puluh menit. (Anonim)
Sesial-sialnya, satu jam cuma enam puluh menit kalau lagi online, dan
Sesial-sialnya, satu jam kenapa terasa seabad kalau di kantor dan di kampus. (Nina Pradani)
Aku tak bisa memperbaiki rem sepedaku,
maka kubuat bel sepedaku dua kali lebih nyaring. (Anonim)
Aku tak bisa memperbaiki tulisanku yang sudah dikritik,
maka kubuat tulisan baru atau menulis ulang dengan memasukkan kritikan-kritikan itu.
Sungguh, aku tak rela memangkasnya. (Nina Pradani)
Otak adalah organ tubuh yang paling menakjubkan.
Dia mulai bekerja begitu kamu bangun di pagi hari
dan hanya berhenti waktu kamu ada di kampus.
(Nina Pradani, diadaptasi dari Robert Frost)
Kamu bisa menyeret kuda ke danau,
tapi tak bisa memaksanya minum. (Anonim)
Kalau belum menang di lomba ke-99,
Kamu akan menang di lomba keseratus. (Anonim)
Nina Pradani
:) Diadopsi dari Teenlit Ken Terate -Dokter, Pelukis, & si Cowok Plin-plan-
*Perlu, selipin Teenlit ditengah novel atau bacaan berat
Sunday, April 14, 2013
Cerpen (finishing)
Langit Andalusia
“Saya terima nikah dan kawinnya
Langit Andalusiana binti Farhan Abdurrahman dengan mas kawin seperangkat alat
Sholat dibayar tunai.”
“Bagaimana? Sah?”
“Sah, sah, Sah…” terdengar suara
bersahutan dalam masjid itu.
“Alhamdulillah…” suara mereka
kemudian hampir bersamaan.
Setetes air mata mengkristal bagai
embun bening bergulir dari sudut mata gadis itu. Gadis yang sengaja didudukkan
beberapa jarak di belakang pemuda yang telah mengucapkan kalimat sakral penuh
penghargaan untuk calon bidadarinya. Bidadari itu mengenakan gaun semi gamis
berwarna putih, jilbab yang juga dihiasi payet-payet putih terbentuk sempurna
bak mahkota menutupi kepalanya. Cantik. Itu satu kata yang mampu menggambarkan keelokan
lukisan Sang Pencipta yang sedang duduk diapit oleh ibunda dan adiknya itu.
***
Sunday, April 7, 2013
Tulisan pertama (mau ikut lomba)
Tulisan pertama,
hm.. Tulisan pertamaku waktu SD, ya itu tulisan pertama. Waktu itu aku menulis
puisi. Apa judulnya? Aku sudah tidak ingat lagi. Jadi, tidak mungkin aku
ceritakan yang itu. Emm.. waktu MTs juga aku sebenernya sering nulis buat di
Mading. Tapi, aku juga lupa nulis apa saja waktu itu, yang pasti bukan resep
masakan atau tips mencontek yang baik, bukan. Well, aku akan menceritakan
tulisan pertamaku waktu SMA aja, sedikit banyak aku masih ingat, insya Allah. Waktu
itu aku lagi doyan-doyannya bikin cerita, lalu aku minta teman-teman di kelas
untuk membaca dan memberi kritik, tapi aku tidak pernah mau terima kritikan.
Terserah aku dong mau nulis kayak gimana, tulisan, tulisan aku sendiri kok, itu
pikirku dulu. Tapi, aku senang sekaligus malu, mereka mau membacanya sampai selesai,
pake ngantri malah. Sialnya, aku tidak tau mereka suka atau justru pengen
muntah baca cerita-ceritaku. Aku juga tidak tau itu novel atau cerpen, soalnya
kalo disebut cerpen terlalu panjang, kalo disebut novel juga terlalu pendek.
Tuh kaan, mulai deh galau lagi.
Karena itu pula
lah, waktu ada lomba membuat cerpen, teman-teman di kelas menyikut-nyikutku,
menyebut-nyebut namaku, “Nina aja Pak, Nina aja. Dia suka nulis-nulis cerita.
Ini kita udah baca lho pak. Pinter dia bikin cerita pak..” Kebiasaan yang susah
dihilangkan waktu jaman sekolah itu adalah menyebut nama teman, walaupun diri
sendiri pengen ditunjuk. “Siapa yang mau jadi ketua kelas?” “Joko pak, Joko
aja. Dia rajin.” “Siapa yang mau bantu saya nulis di papan?” “Rani pak, Rani
aja, tulisannya bagus.” “Siapa yang mau pulang duluan?” Naah.. kalo yang ini
nggak ada yang nyebut nama teman “Saya pak, Saya!” “Kalau mau pulang duluan,
jawab dulu pertanyaan saya!” Nah lho…
Oh, oke, kembali
ke topik. Jadi, saat itu Pak guru bahasa Indonesia yang sekaligus merangkap
wali kelas kami, langsung meminta ceritaku, katanya mau dibaca dulu. Wah, sial
nih anak-anak. Tahukah kamu, aku nulis ceritanya dimana? Ya dibuku tulis lah,
masa di buku gambar. Buku tulis yang cukup tebal dan sudah lecek itu akhirnya
terpaksa kuserahkan tapi sambil merem, malu.
Keesokan
harinya…
“Nina, ceritamu,
terlalu wah. Buat cerita setting lokal saja. Tokohnya tidak perlu kamu bawa ke
London.”
Gubrak! “Yah, tapi kan saya yang mau ke
sana pak..” dalam hati. “Baik pak. Saya akan tuliskan cerita latar dan setting
di kota ini saja.” Ini ucapan yang beneran keluar.
***
Tulisan saya
yang diikutkan lomba mewakili sekolah itu, Alhamdulillah… akhirnya tidak lolos!
Oke, mau cerita apalagi sekarang? Nggak ada, habis.
tiba2 buntu,,, :'(
Cerpen
“Saya terima
nikah dan kawinnya Langit Andalusiana bin Farhan Abdurrahman dengan mas kawin
seperangkat alat Sholat dibayar tunai.”
“Sah, sah, Sah…”
terdengar suara bersahutan dalam masjid itu.
“Alhamdulillah…”
suara mereka kemudian hampir bersamaan.
Setetes air mata
mengkristal bagai embun bening bergulir dari sudut mata gadis itu. Gadis yang
sengaja didudukkan beberapa jarak di belakang pemuda yang telah mengucapkan
kalimat sakral penuh penghargaan untuk calon bidadarinya. Bidadari itu mengenakan
gaun semi gamis berwarna putih, jilbab yang juga dihiasi payet-payet putih
terbentuk sempurna bak mahkota menutupi kepalanya. Cantik. Itu satu kata yang
mampu menggambarkan keelokan lukisan Sang Pencipta yang sedang duduk diapit
oleh ibunda dan adiknya itu.
Editan Cerpen sebelumnya "Badgirl itu Humairah"
Kesan pertama
“KAMU???!”
keduanya berujar hampir bersamaan.
Untuk yang entah ke berapa kalinya di
dunia ini, ungkapan bahwa Dunia hanya selebar daun kelor terbukti lagi. Aira
tentu tidak lupa dengan pria menyebalkan itu. Orang yang dulu pernah jadi lawan
duet dalam perjalanan karirnya sebagai badgirl.
Dan sekarang dia harus mewawancarainya, itu berarti ia harus berbaik-baik
padanya, dan sang menejer ini juga yang ternyata ditunggunya sejak tadi pagi,
hingga baru bisa ditemui sesore ini. Menyebalkan bukan? ‘Oh mai God.. mimpi apa aku semalam? apakah aku salah baca doa keluar
rumah tadi?’ Aira membatin.
Kalimat
yang terakhir itu bohong besar. Apalagi tentang doa itu, ia sedang berdusta
pemirsa. Doanya justru harus makin dimantapkan. Aira bukannya tidak senang bin
bahagia bertemu setan ganteng ini lagi. Setelah pertemuan pertamanya di Toko
Buku itu, setan ganteng ini terus saja menghantuinya, nggak pagi, nggak siang,
nggak malam, nggak lagi di kantor, di kos, di pasar, di jalan, sebelum tidur,
bangun tidur, lagi ngaca, lagi gosok gigi, bahkan lagi sholat pun setan ini
selalu datang menggodanya, menari-nari di otaknya sampai-sampai terkadang dia
lupa sudah tahiyyat awal atau belum,
parah kan?
Saturday, April 6, 2013
“Responsibility”
Tipe : Short Story (Cerpen,
Ina.edited)
Genre : Fiction
By : Nina Pradani
Judul di atas
bukan judul bab di buku Kewarganegaraan, atau nama lamanya PPKN, atau namanya
yang duluuuuu sekali PMP, bukan. Bukan pula sedang belajar adjective bahasa
inggris. Aku ingin menceritakan kisahku, itu saja.
Monday, March 25, 2013
Cerpen
“KAMU???!” keduanya berujar hampir bersamaan.
Untuk yang entah ke berapa kalinya di dunia ini, ungkapan bahwa Dunia hanya selebar daun kelor terbukti lagi. Aira tentu tidak lupa dengan pria menyebalkan itu. Orang yang dulu pernah jadi lawan duet dalam perjalanan karirnya sebagai badgirl. Dan sekarang dia harus mewawancarainya, itu berarti ia harus berbaik-baik padanya, dan orang ini juga yang ternyata ditunggunya sejak tadi pagi, hingga baru bisa ditemui sesore ini. Menyebalkan bukan? Oh mai God.. mimpi apa aku semalam? apakah aku salah baca doa keluar rumah tadi?
Kalimat yang terakhir itu bohong besar. Apalagi doanya, ia sedang berdusta pemirsa. Doanya justru harus makin dimantapkan. Aira bukannya tidak senang bin bahagia bertemu setan ganteng ini lagi. Setelah pertemuan pertamanya di Toko Buku itu, setan ganteng ini terus saja menghantuinya, nggak pagi, nggak siang, nggak malam, nggak lagi di kantor, di kos, di pasar, di jalan, sebelum tidur, bangun tidur, lagi ngaca, lagi gosok gigi, bahkan lagi sholat pun setan ini selalu datang menggodanya, menari-nari di otaknya sampai-sampai terkadang dia lupa sudah tahiyyat awal atau belum, parah kan?
Sunday, September 16, 2012
Jadi Manten
“aku pengen dadi manten, bu.”
Kata itu terucap dari mulut saya delapan belas tahun lalu, sewaktu ada karnaval
untuk murid TK di seluruh wilayah Kepanjen-Malang dulu. Dengan logat jawa yang
kental, kalimat itu selalu terucap setiap ada perayaan karnaval. Saat itu saya
tidak tau alasan kenapa kok pengen jadi manten, padahal banyak teman yang
pengen memakai baju dokter, insinyur, guru, suster, astronot, pramugari, pilot,
polisi, polwan, tentara, tukang sate, dan berbagai profesi hebat lainnya. Saya
beneran gak tau kenapa pengen jadi pengantin. Karnaval ini adalah ajang dimana seorang anak mengekspresikan dirinya, menjadi seperti apa yang mereka cita-citakan di masa depan kelak. Semua temen-temen saya punya cita-cita yang hebat, lha saya? jadi manten. ampuuuun...
Simple Plan ngedangdut.
Simple Plan nyanyi dangdut koplo!
Aaha,,belom pernah denger kan??
Hm, saya baru saja mendengarnya, di bis lagi. bukan dari sound atau radionya bis yang sedang saya tumpangi. Tapi dari mp3 yang di telinga saya digabung sama bunyi gendang koplonya sang pengamen. Entah kenapa kok nge-pas iramanya, jadinya saya ketawa-ketawa sendiri, dan kagak tahan pengen nge-note.
Sebelum itu, saya sudah di kagetkan oleh suara gak terdeteksi dan sulit untuk ditemukan iramanya, aliran musiknya pun sepertinya belum mendapat label SNI, emang helm?
Iya, seingat saya belum pernah diajarkan di pelajaran kesenian baik itu di SD, SMP, atau pun SMA. beneran gak ada.
Wednesday, September 12, 2012
Kerontang
Ternyata
kata 'kerontang' terasa aneh ya tanpa bestfriends-nya? terasa hambar
seperti sayur tanpa garam. terasa pahit seperti kopi tanpa gula, terasa
'sepet' seperti teh tanpa air (berhubung gula udah kepake), ga berasa
seperti sambel tanpa cabe, dan berbagai perumpamaan sejenis lainnya.
're u know what i mean?
Yup, it's 'Kering'.
Jika digandeng terbentuklah sebuah anak kalimat yang cukup memilukan dan lumayan mengiris hati, ''kering kerontang.''
're u know what i mean?
Yup, it's 'Kering'.
Jika digandeng terbentuklah sebuah anak kalimat yang cukup memilukan dan lumayan mengiris hati, ''kering kerontang.''
Thursday, August 23, 2012
kapan lagi? dotcom
Besok bener-bener sudah lebaran?? Hari ini ramadhan terakhir?! Kenapa cepet sekali???
Hari kemenangan seharusnya dirayakan dengan bahagia dan suka cita, tapi dosakah saya karena entah kenapa saya merasa sedih sekali? Dosakah karena bersedih?
Sebenarnya saya kurang lebih sedikit menyadari penyebab kesedihan itu.
Pertama, ngajinya belum khatam.
Kedua, rasanya waktu satu bulan terlalu sebentar, gak terasa.
Ketiga, beli baju lebaran aja lupa.
Keempat, ga ada lagi bangun sahur rame2.
Hari kemenangan seharusnya dirayakan dengan bahagia dan suka cita, tapi dosakah saya karena entah kenapa saya merasa sedih sekali? Dosakah karena bersedih?
Sebenarnya saya kurang lebih sedikit menyadari penyebab kesedihan itu.
Pertama, ngajinya belum khatam.
Kedua, rasanya waktu satu bulan terlalu sebentar, gak terasa.
Ketiga, beli baju lebaran aja lupa.
Keempat, ga ada lagi bangun sahur rame2.
Monday, August 13, 2012
Positif
Positif hamil???
Tunggu, itu berita baik buat yang sudah menikah, tapi tidak buat yang belum.
kalimat pembuka yang sedikit heboh bukan? :D
Tapi, itu gak akan jauh juga dari yang akan dibahas kali ini.
Di dunia ini ada dua partikel yang selalu bergandengan, meski sifat keduanya bertolak belakang, kemana-mana selalu bersama, tergantung otak manusia mau menggunakan yang mana.
Mereka adalah partikel bernama positif dan negatif.
ahli bahasa memberi mereka istilah ''positive thinking'' dan ''negative thinking'', tema ini kepikiran ketika melihat/mendengar/membaca orang yang menyalahkan orang lain karena hanya masalah status facebook yang berbunyi doa pada Tuhan.
Subscribe to:
Posts (Atom)










