Tuesday, October 1, 2013

Kenapa harus ada dua kubu?


Apa yang kalian bayangkan jika terdapat dua kubu yang tidak saling mendukung atau bahkan cenderung saling menyalahkan?
Perang dingin. Iya, itulah yang akan terjadi. Dan sesungguhnya perang dingin itu lebih membahayakan dan berpeluang paling besar mendatangkan perpecahan dari pada perang terbuka. Pertama, perang dingin bisa lebih lama daripada perang terbuka. Kedua, perang dingin sulit untuk melihat dengan jelas siapa lawan siapa. Ketiga, perang dingin lebih berpeluang menimbulkan sakit hati berkepanjangan.
Well, baiklah, kita cukupkan basa basinya.
Sebenarnya saya hanya ingin mengungkapkan kekesalan dan ke-tidak-habis-pikir-an, kenapa di tempat saya berpijak ini harus ada dua kubu yang seolah sedang perang dingin. Sungguh, saya lebih suka mereka berperang terbuka saja. Dengan begitu, suatu yang disengketakan (cailahh) atau yang dipermasalahkan akan terlihat jelas. Dan, oh, come on… mari kita sama-sama carikan solusinya.
Jadi, pemirsa, tersebutlah sebuah toko kue (emang sejak kapan saya dagangan kue? Hei, ini permisalannya, saya tidak berwenang menyebutkan kondisi asli, karena saya harus pasang tarif iklan jika menyebutkan merk), di dalam toko tersebut ada beberapa karyawan bagian dapur sebagai pembuat kue, dan ada karyawan bagian penjualan yang bertugas menjual kue-kue itu. Karyawan bagian dapur bekerja dengan dibantu mesin canggih membuat kue jenis biasanya, sering juga sesekali mereka ingin melakukan treatment untuk mencoba resep baru dan berbeda, dengan tujuan memperbanyak pilihan agar konsumen tidak bosan. Tapi, belum sempat matang kue tersebut, baru akan dimasukkan adonannya ke dalam mesin canggih tadi, tiba-tiba saja sang manager toko datang dan menghentikan treatment tersebut karena karyawan di bagian penjualan tidak yakin resep baru itu akan disukai pembeli. Jadi, dari pada kue itu nantinya tidak laku dan terbuang percuma, lebih baik kue yang biasanya saja, yang sudah pasti laris manis itu segera dibuat lagi.
Mereka berharap setidaknya jika memang merencanakan membuat kue dengan resep baru, karyawan dapur berdiskusi dulu dengan karyawan penjualan, karena mereka yang paling tahu bagaimana selera konsumen. Sayangnya, karyawan penjualan itu tidak pernah tahu bahwa karyawan dapur tidak selamanya di dapur, mereka tidak tidur di sana. Mereka sering berjalan-jalan untuk sekedar melihat dan meneliti jenis kue apa saja yang disukai penikmat kue dan laris di pasaran. Salah satu karyawan dapur yang paling penakut bertanya-tanya dalam hati, kenapa toko kuenya terlalu perhitungan? Dan tunggu, tunggu! Kenapa teman-temannya di bagian penjualan itu takut kuenya tidak laris? Bukankah tugas mereka untuk menyiasati bagaimana agar kue-kue itu laris? Bukankah mereka paling tahu bagaimana caranya menjual? Kue yang dulu dan sekarang laris manis itu juga kan dulunya melalui proses penjualan? Kenapa sekarang mereka tidak berani mengambil resiko? Bukankah sesuatu yang besar itu memiliki resiko yang besar juga? A big dream has a big risk, ya kalau tidak salah bahasa bulenya? Kalau misalnya jalan di tempat seperti ini terus, bagaimana kita bisa jadi toko kue yang besar? Ayolah teman, kita sama-sama berjuang. Kita hentikan perang dingin ini. Tak usah pedulikan siapa pun yang menjadi manager toko ini, yang terpenting adalah kita berjuang bersama. Mari kita hilangkan perkubuan ini, kita harus saling mendukung. Bukankah kamu bilang kita adalah satu tim?

No comments: