Apa yang kalian bayangkan jika terdapat dua kubu yang tidak saling mendukung atau bahkan cenderung saling menyalahkan?
Perang dingin. Iya, itulah yang
akan terjadi. Dan sesungguhnya perang dingin itu lebih membahayakan dan berpeluang
paling besar mendatangkan perpecahan dari pada perang terbuka. Pertama, perang dingin bisa lebih lama
daripada perang terbuka. Kedua,
perang dingin sulit untuk melihat dengan jelas siapa lawan siapa. Ketiga, perang dingin lebih berpeluang
menimbulkan sakit hati berkepanjangan.
Well, baiklah, kita cukupkan basa
basinya.
Sebenarnya saya hanya ingin
mengungkapkan kekesalan dan ke-tidak-habis-pikir-an, kenapa di tempat saya
berpijak ini harus ada dua kubu yang seolah sedang perang dingin. Sungguh, saya
lebih suka mereka berperang terbuka saja. Dengan begitu, suatu yang
disengketakan (cailahh) atau yang dipermasalahkan akan terlihat jelas. Dan, oh,
come on… mari kita sama-sama carikan
solusinya.
Jadi, pemirsa, tersebutlah sebuah
toko kue (emang sejak kapan saya dagangan kue? Hei, ini permisalannya, saya
tidak berwenang menyebutkan kondisi asli, karena saya harus pasang tarif iklan
jika menyebutkan merk), di dalam toko tersebut ada beberapa karyawan bagian dapur
sebagai pembuat kue, dan ada karyawan bagian penjualan yang bertugas menjual
kue-kue itu. Karyawan bagian dapur bekerja dengan dibantu mesin canggih membuat
kue jenis biasanya, sering juga sesekali mereka ingin melakukan treatment untuk
mencoba resep baru dan berbeda, dengan tujuan memperbanyak pilihan agar
konsumen tidak bosan. Tapi, belum sempat matang kue tersebut, baru akan
dimasukkan adonannya ke dalam mesin canggih tadi, tiba-tiba saja sang manager
toko datang dan menghentikan treatment tersebut karena karyawan di bagian
penjualan tidak yakin resep baru itu akan disukai pembeli. Jadi, dari pada kue
itu nantinya tidak laku dan terbuang percuma, lebih baik kue yang biasanya
saja, yang sudah pasti laris manis itu segera dibuat lagi.
Mereka berharap setidaknya jika
memang merencanakan membuat kue dengan resep baru, karyawan dapur berdiskusi
dulu dengan karyawan penjualan, karena mereka yang paling tahu bagaimana selera
konsumen. Sayangnya, karyawan penjualan itu tidak pernah tahu bahwa karyawan
dapur tidak selamanya di dapur, mereka tidak tidur di sana. Mereka sering
berjalan-jalan untuk sekedar melihat dan meneliti jenis kue apa saja yang
disukai penikmat kue dan laris di pasaran. Salah satu karyawan dapur yang
paling penakut bertanya-tanya dalam hati, kenapa toko kuenya terlalu
perhitungan? Dan tunggu, tunggu! Kenapa teman-temannya di bagian penjualan itu
takut kuenya tidak laris? Bukankah tugas mereka untuk menyiasati bagaimana agar
kue-kue itu laris? Bukankah mereka paling tahu bagaimana caranya menjual? Kue
yang dulu dan sekarang laris manis itu juga kan dulunya melalui proses
penjualan? Kenapa sekarang mereka tidak berani mengambil resiko? Bukankah
sesuatu yang besar itu memiliki resiko yang besar juga? A big dream has a big risk, ya kalau tidak salah bahasa bulenya?
Kalau misalnya jalan di tempat seperti ini terus, bagaimana kita bisa jadi toko
kue yang besar? Ayolah teman, kita sama-sama berjuang. Kita hentikan perang
dingin ini. Tak usah pedulikan siapa pun yang menjadi manager toko ini, yang terpenting
adalah kita berjuang bersama. Mari kita hilangkan perkubuan ini, kita harus
saling mendukung. Bukankah kamu bilang kita adalah satu tim?
No comments:
Post a Comment