Thursday, October 10, 2013

Fighting!



Ketika kerjamu tidak dihargai, maka saat itu kau belajar tentang ketulusan,
Ketika usahamu dinilai tidak penting, maka saat itu kau belajar tentang keikhlasan,
Ketika hatimu terluka, maka kau sedang belajar memaafkan,
Ketika kau lelah dan kecewa, maka kau sedang belajar tentang kesungguhan,
Ketika engkau merasa sepi dan sendiri, maka kau sedang belajar tentang ketangguhan,
Tetap semangat! Tetap tersenyum!
(Agar Usia Tak Sekedar Angk4 – Kemas Mahmud Al Hanif)

Hei, bahkan ucapan terima kasih saja tidak ada. Ah, tidak, tidak… tak perlu ucapan terima kasih, itu terlalu muluk. Komentar atau kritik saja, deh. Atau mungkin marah langsung kepada saya, karena merasa tidak puas dengan usaha saya. Sungguh, itu lebih saya hargai daripada diam saja di depan saya, tapi merasa kecewa dalam hati, atau parah lagi kalau memberi komentar di belakang saya. Tell me I was wrong. Saya lebih menyukai orang yang mengkritik langsung di depan saya, daripada memuji di depan saya, tapi mengkritik di belakang.


Tuesday, October 1, 2013

Kenapa harus ada dua kubu?


Apa yang kalian bayangkan jika terdapat dua kubu yang tidak saling mendukung atau bahkan cenderung saling menyalahkan?
Perang dingin. Iya, itulah yang akan terjadi. Dan sesungguhnya perang dingin itu lebih membahayakan dan berpeluang paling besar mendatangkan perpecahan dari pada perang terbuka. Pertama, perang dingin bisa lebih lama daripada perang terbuka. Kedua, perang dingin sulit untuk melihat dengan jelas siapa lawan siapa. Ketiga, perang dingin lebih berpeluang menimbulkan sakit hati berkepanjangan.
Well, baiklah, kita cukupkan basa basinya.
Sebenarnya saya hanya ingin mengungkapkan kekesalan dan ke-tidak-habis-pikir-an, kenapa di tempat saya berpijak ini harus ada dua kubu yang seolah sedang perang dingin. Sungguh, saya lebih suka mereka berperang terbuka saja. Dengan begitu, suatu yang disengketakan (cailahh) atau yang dipermasalahkan akan terlihat jelas. Dan, oh, come on… mari kita sama-sama carikan solusinya.
Jadi, pemirsa, tersebutlah sebuah toko kue (emang sejak kapan saya dagangan kue? Hei, ini permisalannya, saya tidak berwenang menyebutkan kondisi asli, karena saya harus pasang tarif iklan jika menyebutkan merk), di dalam toko tersebut ada beberapa karyawan bagian dapur sebagai pembuat kue, dan ada karyawan bagian penjualan yang bertugas menjual kue-kue itu. Karyawan bagian dapur bekerja dengan dibantu mesin canggih membuat kue jenis biasanya, sering juga sesekali mereka ingin melakukan treatment untuk mencoba resep baru dan berbeda, dengan tujuan memperbanyak pilihan agar konsumen tidak bosan. Tapi, belum sempat matang kue tersebut, baru akan dimasukkan adonannya ke dalam mesin canggih tadi, tiba-tiba saja sang manager toko datang dan menghentikan treatment tersebut karena karyawan di bagian penjualan tidak yakin resep baru itu akan disukai pembeli. Jadi, dari pada kue itu nantinya tidak laku dan terbuang percuma, lebih baik kue yang biasanya saja, yang sudah pasti laris manis itu segera dibuat lagi.
Mereka berharap setidaknya jika memang merencanakan membuat kue dengan resep baru, karyawan dapur berdiskusi dulu dengan karyawan penjualan, karena mereka yang paling tahu bagaimana selera konsumen. Sayangnya, karyawan penjualan itu tidak pernah tahu bahwa karyawan dapur tidak selamanya di dapur, mereka tidak tidur di sana. Mereka sering berjalan-jalan untuk sekedar melihat dan meneliti jenis kue apa saja yang disukai penikmat kue dan laris di pasaran. Salah satu karyawan dapur yang paling penakut bertanya-tanya dalam hati, kenapa toko kuenya terlalu perhitungan? Dan tunggu, tunggu! Kenapa teman-temannya di bagian penjualan itu takut kuenya tidak laris? Bukankah tugas mereka untuk menyiasati bagaimana agar kue-kue itu laris? Bukankah mereka paling tahu bagaimana caranya menjual? Kue yang dulu dan sekarang laris manis itu juga kan dulunya melalui proses penjualan? Kenapa sekarang mereka tidak berani mengambil resiko? Bukankah sesuatu yang besar itu memiliki resiko yang besar juga? A big dream has a big risk, ya kalau tidak salah bahasa bulenya? Kalau misalnya jalan di tempat seperti ini terus, bagaimana kita bisa jadi toko kue yang besar? Ayolah teman, kita sama-sama berjuang. Kita hentikan perang dingin ini. Tak usah pedulikan siapa pun yang menjadi manager toko ini, yang terpenting adalah kita berjuang bersama. Mari kita hilangkan perkubuan ini, kita harus saling mendukung. Bukankah kamu bilang kita adalah satu tim?

Jadi Editor Itu…



                Saat jalan-jalan ke toko buku, pernahkah kalian melihat buku yang di covernya tertulis nama Nina Pradani? Belum pernah lihat, kan? Tenang, mata kamu belum minus, kok. Nggak usah khawatir kamu bakal dicap bukan pembaca yang baik hanya karena belum mengenal penulis bernama Nina Pradani. Karena memang Nina Pradani bukanlah penulis buku. Nina Pradani itu orangnya low profile. Walaupun sebenernya Nina Pradani sudah menulis berpuluh-puluh buku, dia tetep nggak mau terkenal. Ehm, masalahnya yang dia tulis itu buku diary.
Sampai detik ini, saya masih bertanya-tanya, bagaimana bisa saya bekerja sebagai editor buku, sedangkan saya sendiri belum menghasilkan sebuah buku pun. Jangankan sebuah buku, separohnya aja nggak ada. Gimana perasaanmu kalo misalnya kamu kerja sebagai editor, tapi kamu belum berhasil nerbitin satu buku pun? Malu. Ya, malu itu yang saya rasakan.
                Jadi, apa yang harus saya lakukan buat mengurangi rasa malu ini? Baca. Ya, membaca. Apa lagi? Saya hanya perlu banyak membaca, membaca, dan belajar. Menurut buku yang saya baca, hanya ada beberapa hal yang harus dimiliki oleh penulis buku anak, lho, kok penulis? Saya kan editor, bukan penulis. Sama ajalah, editor buku anak juga perlu ini; pertama, memiliki daya khayal tinggi; kedua, memiliki kenangan masa kanak-kanak; ketiga, ide yang segar; keempat, gaya menulis yang bagus; kelima, bahasa yang menganak; dan terakhir, mempunyai  tingkat keterbacaan naskah yang tinggi.
                Buat yang pertama, memiliki daya khayal tinggi. Saya rasa saya sudah memenuhi kriteria ini, sangat amat memenuhi malah.

Ntar lanjut lagi deh,,mau kerja dulu,,hee

Thursday, September 12, 2013

KSCC


KSCC? Itu singkatan yang baru saja kubuat. Kepanjangannya Kerja Santai Cepat Cerdas.
Kamu pilih mana? Terlihat begitu serius pelototin komputer, tapi kerjaan nggak kelar-kelar, atau kelihatan santai, dengerin musik, tapi kerjaan cepet kelar?
Kalo aku sih milih yang kedua tentu saja.
Eiiit, hasilnya kudu hasil kerja cerdas. Kalau cepet kelar tapi harus revisi lagi berkali-kali sih sama aja bo'ong.
Umm, well, mulai sekarang kita galakkan KSCC dimana pun berada. MERDEKA! Apa ssih?

Cerpen: I Could Feel

Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian, ataupun cerita,
itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.


 

            “Do you expect me to believe I was the only one to fall?
I could feel I could feel you near me, even though you're far away
I could feel I could feel you baby, why
It's not supposed to feel this way
I need you, I ne….”
“Naik!” tiba-tiba, lagu Avril yang tengah berdendang di telingaku diganti suara berat dan dingin. Siapa? Penculik? Bukan tentu saja. Penculik tidak akan memerintah seperti itu, tapi langsung membekap mulut incarannya. Lagipula siapa yang mau menculikku, mereka tidak akan mau rugi.
“Eh?” reflek kepalaku tertoleh, samar-samar aku masih mendengar lagu yang diallirkan handsfree dari ponsel yang bersembunyi di saku jaketku, “kemana?” tanyaku setelah tahu yang menghadangku di tengah jalan bukan penculik, melainkan sebuah motor hitam metalik yang di atasnya ada makhluk tertampan di dunia, ehm, duniaku maksudnya.
“Ikut aja,” ujarnya sambil memakaikan helm di kepalaku, masih dingin.
“Ikut kemana, sih? Kenapa nggak bilang dari tadi? Aku sibuk nih, abis ini mau ke…”
“Gak usah bawel!”
Kurasa aku perlu tarik kembali kata-kataku tadi. Ini jelas-jelas penculikan, kan? Dan taukah kamu, kejadian ini cukup sering terjadi dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir ini. Cukup lamalah. Tapi, tenang, tidak perlu telepon polisi, pengecualian, karena penculiknya ganteng. Dan dengan terpaksa tapi seneng juga akhirnya aku menurut saja duduk diboncengan. Kali ini kemana lagi?
***
            Sebentar, sebentar! Aku belum pernah lihat, lebih tepatnya belum pernah tahu, kalau di tengah hutan yang tidak terlalu seram ini ada waduk yang airnya hijau. Hijau karena pantulan dari bayangan pohon-pohon di sekitarnya. Pemandangan yang menakjubkan.
            “Huwaaaaaaaa… Apa ini? Kita belum mati, kan? Ini bukan di surga, kan? Waaaaaaaaa… Keren bangeeeeet….” Tidak ada yang menjawab pertanyaanku atau pun menyahut perasaan excited-ku. Aku tak peduli. Aku berlari ke tepi waduk dan merasakan betapa dingin airnya. Berdiri di tepi waduk, memanjakan mata dengan pemandangan indah. Aku membentangkan tangan, memejamkan mata, perlahan menghirup udaranya. Ahh…. segar sekali. Sudah cukup lama paru-paruku yang telah digrogoti polusi kota ini tidak diisi dengan udara segar. “Ck!” mataku menatap sebal, menyebalkan sekali, tanganku ditebas begitu saja. Siapa lagi kalau bukan makhluk dingin yang sekarang dengan santainya berdiri di sebelahku.
            “Aku ketemu tempat ini dua hari yang lalu, waktu cari alamat rumah temen lama Papa, nyasar.”
            Aku tak menyahut, hanya mengangguk sambil menggosok-gosokkan telapak tangan. “Bwwrrr … dingin ternyata.”
“Jaketmu kenapa juga kamu taro di motor tadi?”
“Abiiis tadi gerah, siiih…” Mimpi aja kalo orang ini mau bersikap romantis, jaketnya dilepas terus dipakein ke aku misalnya. Kalau itu sampai terjadi, besok pasti sudah mau kiamat.
Aku langsung berdiri merapat, aku bisa merasakan tatapan setengah melototnya saat kumasukkan tanganku di saku jaketnya. Lalu, memperlihatkan senyum termanisku, nyengir mungkin. Tak apa meski hanya sebelah tangan. Sedikit bisa mengurangi rasa dingin di sekujur tubuhku.
“Eh?” dia malah ikut-ikutan memasukkan tangannya ke saku jaket, dan menggenggam tanganku minus tatapan atau senyum romantis pastinya. Tapi, hangatnyaaa. Belum hilang senyuman bahagia menghias wajah manisku, ehm, tak pelak sebuah jitakan mendarat di kepala yang membuatku mengaduh, pertama, kaget. Kedua, sakit beneran.
“Buat ngilangin pikiran kotor yang nongol di kepalamu.” Jelasnya menjawab gerutuanku.
Karena capek berdiri, kami akhirnya duduk di atas rerumputan, bisa lebih menikmati pemandangan indah itu, sambil ngobrol seperti biasa, membahas apa saja.
“Tanganmu satu lagi? Sini!” dia meraih tanganku yang sebentar lagi bakal membeku, dan menggenggamnya, meniupkan udara hangat dari rongga mulutnya. Jenis romantis yang dianut makhluk di sebelahku ini memang berbeda. Tak terduga dan selalu mengharukan. Aku selalu berkaca-kaca dibuatnya. Kusandarkan kepala di bahu kokohnya. “Ini hadiah buat calon anak kita.” Imbuhnya kemudian. “Besok besok kita bakal sering ke sini, nggak banyak yang tau tempat ini selain penduduk lokal. Dan jangan pernah bilang kamu sibuk kerja lagi!”
Yah, meskipun dia dingin, dia dingin yang hangat. Terima kasih, suamiku.


Nina Pradani 
 

Thursday, August 29, 2013

Kenapa aku harus peduli?

Ketika Orion dan Scorpio berperang
menghancurkan bumi
Aku tak pernah peduli
Atau ketika Elnina dan Elnino meraung
menjajah bumi
Aku masih tak peduli
Dan lagi ketika topan dan tornado menagih upeti
Aku pun masih tak peduli
Tapi, sialnya, ketika hanya sebuah nama terdengar di udara
Sekali lagi, hanya sebuah nama!
Kenapa aku begitu peduli?

Tuesday, July 30, 2013

Hikmah




Surat Yang Tersembunyi


Dear Cewek abad ini,

Hai, namaku Julaikha. Kalian masih ingat aku? Yaps! Benar sekali. Aku adalah wanita yang kalian kenal dalam cerita nabi Yusuf. Aku hanya ingin meluruskan sedikit kesalahpahaman ini. Kalian salah jika mengatakan aku merayu nabi Allah. Hei, aku mencintainya. Apakah itu salah? Bukankah kalian juga pernah mencintai seseorang? Oke, baiklah, kalian ingin mengingatkan aku yang sudah bersuami. Karena itu, kalian tetap bersikeras aku lah yang salah. Kalian menyalahkanku yang tidak bisa mengendalikan diri.