Saturday, January 7, 2017

Bima Berguncang, Hatiku Juga. #eh

"Siapa yang tahu bahasa Inggrisnyaaa eeemmp...."

"Epu... epu.. epuuuu!!" Epu bukan bahasa Inggris, tentu saja. Epu bahasa Bima, artinya "gempa". Sontak semua anak berlarian. Aku? Aku juga ikut lari. Kami menuruni tangga dengan wajah panik, takut. Dalam hati aku merapal doa, apa saja, yang jelas meminta agar tangga ini nggak runtuh seperti runtuhnya hatiku saat tahu ternyata cintaku bertepuk sebelah tangan (Eeaaa...). Ya, baru saja Bima gempa lagi, tadi sekitar jam 5 sore. Kami yang sedang asik belajar angka bahasa Inggris dikagetkan dengan lantai, meja, kursi yang mendadak goyang zumba. Gempa itu kerasa banget karena kami sedang berada di lantai atas yang baru dua hari ini sengaja saya sulap jadi kamar baca.





Beberapa hari yang lalu juga gempa, saat itu gempanya cukup besar. Menurut berita yang berseliweran di internet, gempa yang terjadi pagi-pagi itu mencapai 6 koma sekian hektar, eh, rikter, dengan pusat gempa di laut pasifik, laut yang gak begitu jauh sebelah selatan daratan tempat kami bernaung. Sebelum-sebelumnya saya nggak pernah mengalami ketakutan yang luar biasa jika ada fenomena alam, banjir, gunung meletus, gempa, kebakaran, kecelakaan, atau apa pun yang biasa disebut bencana. Belum pernah. Saya biasanya menyukai hal-hal menegangkan. Namun, gempa pagi itu sungguh berhasil membuat saya merinding dan bergetar di sekujur tubuh. Masalahnya, hari itu masih subuh dan saya masih tidur. Oh, bukan subuh, udah pagi, hari sudah mulai terang. Sudah lebih dari jam 6. Dan saya belum sholat subuh. Astaghfirullohaladziim...

Itulah. Itulah mengapa saya takut luar biasa. Selain gempanya memang besar, kasur tempat saya tidur benar-benar berguncang, gemuruh suara kaca jendela, dan lain-lain, ditambah entah suara apa berjatuhan dari atas. Saya takut malaikat maut datang bersama reruntuhan bangunan dan menghimpit serta membunuh saya yang belum sholat subuh. Itu artinya, saya akan meninggal dalam keadaan yang tidak keren. Saya tidak siap jika ditanya di dalam kubur mengapa belum sholat subuh. Dan saya menjawab ketiduran. Jika Atasan saya yang bertanya seperti itu saja masih punya berbagai pertanyaan susulan mengapa bergadang, siapa yang suruh tidur telat, dan lain-lain, bagaimana saya menghadapi pertanyaan susulan Mungkar-Nakir? Mereka pasti lebih memiliki stok pertanyaan mematikan ketimbang Atasan saya tadi.

Selain itu, kami juga masih agak trauma dengan banjir yang bahkan belum kering bekasnya. Saat itu, saya langsung berpikir mungkin kami akan mengalami seperti di Aceh baru-baru kemarin. Rumah dan semuanya roboh. Apakah kami benar-benar akan seperti itu? Kami tidak akan punya rumah lagi? Di mana kami akan tinggal jika selamat? Dan pikiran-pikiran mengerikan lainnya. Begitu merasakan tempat saya tidur yang berguncang hebat, saya tidak sempat berpikir dan spontan berlari keluar kamar. Ibu sama Bapak sudah lari ke arah belakang, mereka memanggil saya yang malah berlari ke pintu depan. Saya nggak mikir. Membuka pintu depan masih akan lama. Belum lagi buka pagar. Lari ke arah belakang memang lebih dekat, di bagian tengah rumah ada bagian terbuka yang biasa dipakai untuk menjemur pakaian. Mungkin di sana perlu diberi tanda Muster Area. Akhirnya saya ikut ke sana. Tak lama, suasana agak tenang, kami akhirnya ke luar lewat pintu depan. Tetangga depan rumah menyahut, "Kaka Nina, kok, baru keluar?" Lucu, memang. Gempa udah lama kelar, kami baru muncul di depan rumah. Saya nggak bisa jawab. Masih gemetaran. Dan saya baru sadar kalau di kepala ternyata ketutup rok mukena. Tak apa, yang penting masih sempet. Entah terlihat seaneh apa penampilan saya, saya nggak bisa mikir atau merasa malu. Masih gemetaran. Saya pun keinget belum shalat subuh. Astaga... ampun gustii.

Saat sholat yang terlambat itu, saya nggak khusyuk, biasanya juga enggak, sih. Saya kepikiran, lebih tepatnya kege'eran, jangan-jangan gempa itu tadi buat ngebangunin saya yang nggak bangun-bangun padahal hari sudah mulai terang. Jangan-jangan buat ngebangunin saya yang belum sholat. Oh... sungguh dahsyat, hanya demi biar saya bangun, alam berkonspirasi membuat orang-orang di belahan bumi ini panik. Baiklah... baiklah... meskipun kalau misalnya bukan itu sebenernya tujuan Tuhan ngasih gempa. Meskipun gempa itu memang sudah seharusnya terjadi atas izin-Nya, meskipun gempa itu memang fenomena alam yang sudah digariskan-Nya. Gak masalah, saya akan tetap menganggap gempa itu untuk saya, buat ngebangunin hamba yang tidak tahu diri ini sholat subuh. Ah, mengingat itu sungguh membuat hati ini berguncang.

No comments: