Thursday, January 5, 2017

Nonton Dunia Terbalik



Persinetronan Indonesia akhirnya dapat bernapas lega dari drama lebay bin alay khas sinetron kita. Sorot mata tajam dengan backsound darr derr dorr dramatis setiap muncul pemeran antagonisnya menjadi ciri khas tak tergadaikan. Sehingga kemunculan sinetron seperti Tuyul dan Mbak Yul atau Jin dan Jun menjadi sesuatu yang dirindukan generasi 80-90an.



Tadi gak sengaja lagi nemenin Ibu nonton TV, muncul tayangan bapak-bapak (Agus Kuncoro, Sutan Simatupang, dan entah siapa satu lagi) lagi nyuci di kali. Iya, nyuci. Nyuci baju.
Saya penasaran, Ibu juga. "Apa nih? Baru. Orang baru semua. Ibu baru lihat. Bukan Tukang Bubur Naik Haji, Anugrah Cinta juga bukan." Sebagai anggota PSSI (Penonton Setia Sinetron Indonesia) Ibu menyampaikan buah pikiran, pendapat, dan gagasannya demi melihat saya yang terkikik mendengar beberapa dialog di tayangan itu. Semoga Ibu tidak perlu merasa bahagia hanya karena saya tidak mengerutkan kening atau tertawa meledek seperti saat melihat sinetron favorite Ibu biasanya. Kali ini memang saya tertawa karena lucu. Sinetron apa, sih, ini?

Ceritanya Bapak-bapak tadi ternyata memang bapak-bapak, maksud saya, mereka sudah beristri. Dan mengapa mereka mencuci baju sendiri di kali, karena istri-istri mereka lagi di luar negeri. Bekerja sebagai TKI. Istri Kang Dadang (atau Dadan, ya? Indra Birowo) dikabarkan meninggal di luar negeri sana. Tentu saja Kang Dadang sedih. Dengan wajah sedih dan memakai sun-glasses Kang Dadang keliling membagikan undangan tahlilan. Sampai di rumah salah satu tokoh yang dipanggil Pak Ustad Kang Dadang diceramahi mengenai hal yang wajib dan sunnah. Maksudnya kenapa sudah ngurusin tahlilan padahal jenazah sang Istri sampai Indonesia saja belum. Setidaknya Kang Dadang harus mengutamakan hal-hal yang wajiblah dulu, mengurus jenazah istrinya, memandikan, mengafani, menyalatkan, dan menguburkan. Itu salah satu adegan menarik menurut saya. Sangat menggambarkan kebiasaan kita orang Indonesia. Jika ada yang meninggal, keluarganya malah repot mengurusi bagaimana menjamu orang-orang yang datang melayat. Contoh lain yang lebih menyedihkan adalah orang yang meninggal biasanya tidak langsung diurusi (dimandikan, dll.) demi menunggu anggota keluarganya yang datang dari jauh. Mending kalau menunggu itu dalam waktu sehari, miris kalau ada yang harus nunggu sampai besok atau bahkan lusa. Duh, malem-malem kok malah bahas ini sih. Malem jumat pulak. Cukup, cukup.

Lucu lagi, dialog Kang Dadang yang bercerita ke bapak-bapak tadi kalau dia habis dirampok.

Ah, selain dialog-dialog sentilan itu, banyak hal-hal menarik dan mengundang tawa. Tapi, saya tidak terlalu pandai menceritakannya di sini. Kalian harus menontonnya sendiri.
Sampai adegan per adegan belum iklan-iklan juga biar tahu sinetron apa, sih, ini. Belum sempat saya membayar rasa penasaran, cenel diganti.

Akhirnya, dengan otomatis tangan saya meminta bantuan syaikh Googliyah dengan kata kunci "Sinetron terbaru Agus Kuncoro". Ketemulah judul sinetron "Dunia Terbalik". Semoga sinetron ini benar-benar bisa membayar kehausan kita akan tontonan keluarga yang menghibur, kritis, dan syukur-syukur mendidik. Sinetron sejenis ini juga pernah ada, salah satunya Para Pencari Tuhan. Salah duanya... hmm... apa ya? Saya belum lihat lagi.

p.s. pssst... nama Sutan Simatupang baru tahu ini tadi pas lagi gugling.

No comments: