Sampai sekitar kurang dari jam 9 pagi, turunlah hujan tanpa merasa perlu repot-repot ngasih klakson, aba-aba, tanda gelegar guntur atau kilatan petir. Baiklah, mungkin arakan itu ingin memberi kejutan. Atau justru mereka jengah karena tidak ada yang memperhatikan? Karenanya mereka mengaliri bumi dengan air penuh kedamaian. Namun, tampaknya tidak damai bagi para rakyat yang merasa terhalangi kesibukannya. Salah satunya adalah kami yang mengagendakan tepat jam 9 pagi akan melangsungkan pernikahan. Bukan, bukan saya yang menikah. Sepupu saya. Mungkin Yang Di Langit hanya ingin mengabarkan bahwa ada arakan yang perlu disambut meski hanya dengan mengingat hakikat diri masing-masing sebagai apa. Tidak mampu berbuat apa-apa tanpa Sang Kehendak. Meski persiapan sudah teramat matang dan mendidih.
Alhasil, tunggu aliran penuh kedamaian tadi mereda baru rombongan keluarga mempelai pria berjalan menuju rumah mempelai wanita. Menakjubkan! Tepat pukul 9 lebih sedikit hujan reda. Mungkin banyak doa dan harapan terpanjat dari bibir, lisan, dan hati para rakyat. Tak lama, datanglah arakan keluarga yang akan mempersunting sepupu saya. Masih ada arakan awan yang mengiringi dari atas. Banyak yang tidak melihat hingga tetesan hujan mulai berjatuhan kembali. Ketakjuban kedua, hujan itu datang setelah semua iring-iringan memasuki tenda dan duduk di kursi-kursi yang tersedia. Acara pun sudah dimulai. Bagi sebagian ada yang merasakan kedamaian, sebagian ada yang merasa terusik, sebagian lagi ada yang merasa ngantuk, salah satunya saya. Saya menguap beberapa kali. Sungguh, Dia hanya ingin kita ingat.
Ketakjuban selanjutnya, daerah perkotaan terkena musibah banjir. Ya, kota Bima banjir! Adik yang kebetulan sedang di sana mengirim pesan: rumah udah tenggelam, gak bisa ke mana-mana.
Awalnya, saya kira dia sedang belajar menggunakan majas hiperbola. Lagipula tidak ada tambahan hestek #hiks di belakang. Kurang meyakinkan. Sampai kemudian saat membuka salah satu akun sosial media. Banyak teman yang mengunggah foto banjir bandang. Kota Bima diserang banjir bandang. Rumah-rumah mereka hanya tampak setengah bahkan sebagian hanya terlihat atap. Astaghfirulloh.. ternyata Adik saya tadi tidak sedang berlebihan. Lihat, saya lebih percaya sosial media ketimbang adik saya sendiri. Astaga...
Jelang sore, listrik mati. Tidak yakin juga listrik itu mati di desa ini saja atau di seluruh wilayah Bima. Yang jelas, koneksi jaringan telepon dan internet juga putus. Gak ada jaringan sama sekali. No service. Emergency calls only. Nggak bisa nelepon, sms, internetan, atau apa pun. Ditambah listrik mati. Untuk beberapa jam kami hidup seperti pada zaman sebelum Thomas Alva Edison menemukan bola lampu pijar. Hingga sekitar jam 9 malam, lampu akhirnya menyala. Rakyat mulai beraktifitas atau melanjutkan istirahat. Namun, koneksi internet tampaknya belum menemukan titik terang. Jangankan update status, nelepon sms aja masih no service. Dan Adik saya masih nggak tahu kabarnya di kota sana. Apakah dia selamat, terbawa arus, nyangkut di mana, makan apa. Nggak ada yang tahu. Adik yang satu lagi, yang disuruh nyusul sore harinya juga nggak pulang-pulang. Akhirnya, tanpa menunggu 3 x 24 jam, karena memang bukan kantor polisi, malam itu juga Bapa berangkat dengan beberapa orang untuk mencari dua anak nakal itu. Dan mereka juga tidak kembali. Ibu nggak bisa tidur. Ditambah lagi hujan yang semakin deras semaleman.
Hingga pagi hari, Bapa dan beberapa orang tadi akhirnya kembali, namun tanpa membawa kabar perihal dua adik saya. Dicari di rumah, mereka nggak ada. Tanya tetangga, ada yang bilang udah keluar nekat nerobos banjir sambil dorong motor. Astaga... jangan-jangan terseret arus? Berbagai dugaan dan spekulasi bermunculan. Kebanyakan hasilnya negatif. Saya yang berusaha menenangkan suasana dengan mengatakan mereka tidak akan kenapa-kenapa, paling lagi ngungsi di rumah temennya, dimarahi. Nggak ada yang tahu mereka lagi ada di mana. Ditelepon nggak bisa. Anehnya, udah tahu jaringan telepon mati, tetep aja kita nelepon berkali-kali. Tidak ada tanda-tanda kehidupan dari benda itu. Saatnya benda kecil yang sudah menjadi barang premier makluk di bumi ini tidak berguna. Oh, selamat kepada yang menemukan aplikasi senter a.k.a. flashlight di ponsel! Setidaknya sangat berguna saat listrik mati semalam.
Well, setelah sekitar jam 8 atau 9 pagi, muncullah mereka satu per satu. Dua anak itu. Alhamdulillah... meskipun lega, mereka tetep aja diomelin karena udah bikin panik orang sekampung. Tapi, cerita mereka perihal banjir bandang jadi konsumsi publik kampung. Saya sendiri entah mengapa sangat menyukai cerita-cerita seru menegangkan seperti ini padahal orang lain yang lagi menderita. Duh.
Dua hari yang tanpa koneksi saluran komunikasi itu, saya merasa kasihan dengan ponsel saya sendiri. Seonggok ponsel pintar ini akhirnya tetap saya usahakan memanfaatkannya untuk menulis. Biar dia tidak merasa sia-sia telah tercipta di abad ini.
Karena hampir dua hari nggak bisa tengok internet, nonton tipi juga enggak, saya ketinggalan berita "Om Telolet Om" yang ternyata kepopulerannya mampu menyaingi kasus pidana terhits tahun ini. Jadi, bagaimana mungkin banjir bandang yang "hanya" menenggelamkan dan meluluhlantakkan sebuah kota kecil di ujung timur pulau sumbawa--yang bahkan tak terbaca peta dunia, yang sering membuat kening orang Indonesia di pulau lain mengerut dan bertanya "Hah, itu di mana?"--bisa menjadi trending hestek. Ya, bagaimana bisa? Nama Bima sudah kalah pamor jika hanya berita banjir bandang, kecuali kalau ada pertikaian antar desa. Helikopter bahkan bakal diterjunkan, eh, diterbangkan.
Salah sendiri pula kota itu menjuluki diri "Kota Tepian Air", jadi wajar saja kalau kena cipratan air. Ya, cipratan. Tak apa, memang bencana itu hanya 'cipratan' bagi negara sebesar ini? Karena boleh jadi keberadaan kota ini tidak berpengaruh apa pun bagi negeri kita tertjinta. Tidak akan berpengaruh terhadap kebijakan ekonomi para pemegang saham. Tidak akan mengurangi jumlah fans Raisa dan Isyana. Tidak akan mengurangi jumlah pendemo yang berangkat ke Jakarta. Tidak akan mengurangi jumlah penonton Si Boy Anak Jalanan. Omong-omong perihal si Boy, memang sebagian rakyat Bima (penonton setia_red.) turut berduka mendengar kematian Si Boy, tapi mereka lebih berduka karena televisi buat nonton si Boy itu udah nggak bisa diselamatkan.
Jadi, mari kita bangkit dari kubur, eh, maksudnya bangkit dan berbenah untuk kota ini. Jangan terlalu berharap kepada pihak lain, pemerintah atau siapa pun. Karena yang paling mampu menolong kita adalah diri kita sendiri. Kalau memang ada bantuan, mari disyukuri, kalaupun tidak ada, mari bersyukur juga, tidak perlu menghabiskan energi mencaci-maki pemerintah. Setidaknya pemerintah sudah berusaha membantu. Gubernur, Mensos, bahkan RI 2 datang langsung. (Nggak usah berharap juga RI 1 yang datang, karena memang waktu pemilu prosentase di NTB tidak memilih yang itu. Hehe). Jangan ditanya lagi bantuan dari berbagai organisasi, lembaga, komunitas, bahkan perseorangan. Memang itu tidak seberapa jika dibandingkan rumah dan harta benda yang hilang, rusak, luluh lantak oleh banjir. Sungguh, tidak seberapa, tidak ada apa-apanya. Tidak pula dapat mengembalikan semuanya dalam waktu sekejap.
Tapi, apa itu semua salah pemerintah? Atau salah tetangga sebelah? Coba lihat, apa ada tanah atau pulau di sekitar kita yang direklamasi misalnya? Apakah ada tanah kita yang digusur dan dibangun gedung-gedung? Atau hutan yang ditebang sembarang? Hei, cukuplah saling menyalahkan itu. Mari melihat ke dalam diri masing-masing. Apa yang sudah kita lakukan untuk alam? Apa yang sudah kita lakukan agar alam tidak kelelahan? Kalo bisa update status mungkin mereka ingin bilang "Hayati lelah, Bang."
Mari, lihat lagi hikmahnya. Setelah banjir ini, sepertinya rumah, perabotan, dan kota kita akan lebih bersih dari sebelumnya. Wilayah-wilayah atau sudut rumah kita yang sebelumnya tak tersentuh sapu, akhirnya bahkan dipel sampai mengkilap setelah banjir. Kursi bahkan kasur yang sebelumnya nggak pernah dicuci akhirnya harus dicuci bersih. Baiklah... baiklah... memang tidak sedikit juga barang, harta benda, bahkan rumah yang rusak parah, hancur, dan hilang terseret banjir. Tapi lagi, nih... setidaknya Dia masih memberi kita kesempatan hidup. Setidaknya Dia masih mengizinkan kita berkumpul bersama keluarga. Bukankah peristiwa ini membuat saudara jauh datang mendekat? Bukankah bencana ini membuat keluarga yang tadinya tidak terlalu akrab datang menengok membawakan makanan? Bukankah bencana ini membuat tetangga yang tadinya tidak saling menyapa jadi membantu kita bersih-bersih? Atau minimal mendengarkan cerita kepanikan saat banjir? Bukankah orang-orang yang bahkan tidak kita kenal berdatangan mengulurkan tangan membantu dengan ikhlas tanpa pamrih? Ada, ada banyak yang bisa kita ambil hikmahnya. Baanyak.
![]() |
| Walopun keberadaan kalian (ternyata) tidak dapat menghalangi datangnya banjir, terima kasih sudah selamat. |

No comments:
Post a Comment