Kamu masih ingat? Dulu, kamu selalu juara satu, dan aku cuma sanggup bertahan di juara dua. Saat itu, pikiran anak-anakku tidak pernah mendefinisikan kata bersaing di antara kita. Selain karena aku yang memang malas belajar, alibiku sudah seperti itulah takdir kita. Kalau aku menganggapmu sebagai saingan, siapa lagi teman berangkat ke sekolah bareng? Siapa lagi yang akan jadi teman sebangkuku?
Setiap hari pertama kenaikan kelas, pagi-pagi sekali, salah satu di antara kita harus sudah ada di sekolah. Kita konsisten mengkapling bangku deretan paling depan, paling ujung, dan paling dekat dengan meja guru.
Biarlah orang bilang persahabatan dan prestasi itu dua hal yang berbeda. Boleh bersahabat, namun tetap bersaing dalam berprestasi. Sialnya, aku tidak bisa untuk itu. Bukan. Aku tidak sanggup. Tidak sanggup mencapai juara satu. Jangankan mengalahkanmu, menyejajar nilai rapormu saja aku tidak mampu. Heran juga, terbuat dari apa, sih, otakmu padahal kita sama-sama makan nasi pake lauk ikan dan sayur.
Kamu ingat? Setiap ada anak-anak cowok yang menggangguku, kamu selalu belain dan ikut berantem bersama mereka. Walaupun kita tidak berantem secara fisik, kalau anak-anak cewek sudah bersatu, anak-anak cowok cuma bisa kesal seringai dengan ancaman kepalan tangan. Mereka cuma beraninya sampai di situ. Ngancem-ngancem doang nunjukin kepalan tangan sambil menggigit bibir bawah geram ala anak-anak, dan kita membalas dengan menjulurkan lidah sambil berlari, kabur. Geng cewek vs geng cowok kala itu, masing-masing puas dengan rentetan kalimat-kalimat olokan. Olokan yang nggak kreatif, cuma sebut-sebut nama orangtua. Entah apa salah orangtua kita, semoga mereka mengampuni kita.
Setelah aku ingat-ingat, kamu tidak pernah menunjukkan wajah kesal, marah, sedih, kamu selalu ceria, periang, dan suka tertawa. Ya, suaramu kalo bicara kecil, tapi kalau sudah tertawa, aku sering dibuat kaget. Hal kecil dan remen aja bisa membuatmu tertawa. Dan mau nggak mau siapa saja yang melihatmu ikut tertawa. Kamu punya penyakit yang tidak dimiliki bahkan oleh personel warkop atau para komika. Tertawamu menular.
Baru dua hari lalu kamu menceritakan mimpimu. Tumben-tumbenan juga kamu cerita dan minta ditafsirin mimpi itu. Astaga, aku malah mencandaimu dengan mengatakan sebentar lagi kamu akan menikah. Ya, akhir-akhir ini kita memang sering jadi bahan bully-an teman-teman, sama teman kita satu lagi yang masih konsisten menjomlo. Kita bertiga--sejak belum sampai seminggu terakhir ini kamu join di grup WA--selalu dibully di sana. Sekarang gimana?
Hari minggu besok kita berencana melahap kelapa muda ke pantai Wane bersama teman-teman. Tapi, kurasa kamu akan melahap kelapa muda paling enak dan tiada tandingannya di sana. Ah, kamu curang. Kapan hari kamu menantang teman kita yang jomlo satu itu ngajak bertualang ke Sambori yang tanjakannya mematikan itu demi mencari tempat yang indah-indah. Tapi, kurasa kamu lagi-lagi curang dengan bertualang duluan di tempat-tempat terindah yang bahkan tidak terbayangkan oleh kita sebelumnya.
Lalu, semenjak aku pulang ke Bima, kita sering jalan-jalan bareng lagi. Dan kamu selalu bersemangat setiap diajak, juga saat mengajakku. Jadi, pasanganmu saat kondangan juga, walaupun kita terlihat menyedihkan, tapi setidaknya ada pasangan. Haha. Terakhir, kita makan bakso kelapa yang lagi hits. Dan kamu bilang "kok, kayak ada rasa-rasa kelapa, ya?" Rasanya, aku pengen jitakin kepalamu.
Astaga, kenapa kau selalu membuat tertawa? Lalu, kenapa kau sering minta hpku buat selfie dan wefie, kenapa nggak pake hpmu aja? Ya Tuhan, mengapa aku baru tersadar selama kita jalan-jalan aku juga sering mengambil gambarmu sendiri. Well, aku tahu itu karena kamu narsis. Tapi, aku nggak bisa bohong, saat itu naluri fotografer amatiranku mengatakan kamu objek yang apik. Kamu bisa ekting sok candid yang terlihat alami. Dan dari hari ke hari walaupun aku tidak ingin mengakuinya, kamu terlihat semakin cantik.
Baiklah, nggak masalah. Tak apa, tak apa. Aku ikhlas kamu jalan-jalan duluan di sana. Sejak kelas 1 sampai kelas 6, hingga kemarin kita tidak terpisahkan. Dan aku sempat, ah tidak, sering. Ya, sering lupa kalau ternyata ada maut yang memisahkan.
Selamat jalan, sahabat.
Mimpimu melihat sekitar 50 orang berseragam hitam putih yang berbaris itu mungkin para malaikat yang menjemput dan menyambutmu di surga-Nya.
Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun...



No comments:
Post a Comment