Sunday, March 19, 2017

Yuk ah! (2)

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 21 jam. Sampailah kita di Pelabuhan Perak, Surabaya. KMP Legundi disambut dengan cuaca hujan di beberapa daerah dan kabut sore yang tidak dingin. Hangat. Itulah Surabaya.


Thursday, March 2, 2017

"Bila engkau melihat keindahan dan kesempurnaan di dalam dunia ini, hal itu bukan apa-apa melainkan pertanda dari-Nya. Makhluk yang indah hanyalah sekumpulan bunga dari taman Tuhan yang membentang luas. Jika engkau memiliki mata untuk melihat kesempurnaan, maka engkau juga harus memiliki ketajaman untuk melihat bahwa apa yang engkau lihat adalah semata-mata bayangan cerminan paras wajah-Nya. Rupaku juga gambaran keindahan Tuhan. Tetapi engkau harus tahu bahwa sebuah lukisan akan pudar, bunga akan mati, dan bayangan cermin akan pudar oleh Cahaya yang sebenarnya. Adalah Dia Yang Nyata dan akan tetap demikian selamanya. Dalam hal ini, mengapa engkau membuang waktumu atas sesuatu yang ada di sini hari ini namun besok akan sirna? Pergilah langsung menemui Sang Sumber, jangan ditunda."

*Hikayat: nasihat Yusuf kepada Bazigah.

Saturday, February 25, 2017

Yuk ah!


Sebenernya ini nekat dan nyari gara-gara. Berangkat ke Lombok bermotor. Cuma berdua. Dan hei... kalian itu sama-sama cewek. Lombok itu jauh, Nakk... kalo di jalan, di tengah hutan, di atas gunung itu ada apa-apa gimana? Setidaknya itu sepatah dua kalimat kekhawatiran Bapak dan Ibu. "Kenapa nggak naik pesawat aja, sih? Udah, nggak usah macem-macem, pake pesawat aja. Biar Bapak belikan tiket sekarang." Perfect! Sempurna sudah betapa nggak kerennya aku. Udahlah jadi anak setua ini nggak pernah ngasih apa-apa ke orangtua, sekarang malah minta dibelikan tiket. Anak macam apa itu?

Saturday, January 7, 2017

Bima Berguncang, Hatiku Juga. #eh

"Siapa yang tahu bahasa Inggrisnyaaa eeemmp...."

"Epu... epu.. epuuuu!!" Epu bukan bahasa Inggris, tentu saja. Epu bahasa Bima, artinya "gempa". Sontak semua anak berlarian. Aku? Aku juga ikut lari. Kami menuruni tangga dengan wajah panik, takut. Dalam hati aku merapal doa, apa saja, yang jelas meminta agar tangga ini nggak runtuh seperti runtuhnya hatiku saat tahu ternyata cintaku bertepuk sebelah tangan (Eeaaa...). Ya, baru saja Bima gempa lagi, tadi sekitar jam 5 sore. Kami yang sedang asik belajar angka bahasa Inggris dikagetkan dengan lantai, meja, kursi yang mendadak goyang zumba. Gempa itu kerasa banget karena kami sedang berada di lantai atas yang baru dua hari ini sengaja saya sulap jadi kamar baca.



Thursday, January 5, 2017

Nonton Dunia Terbalik



Persinetronan Indonesia akhirnya dapat bernapas lega dari drama lebay bin alay khas sinetron kita. Sorot mata tajam dengan backsound darr derr dorr dramatis setiap muncul pemeran antagonisnya menjadi ciri khas tak tergadaikan. Sehingga kemunculan sinetron seperti Tuyul dan Mbak Yul atau Jin dan Jun menjadi sesuatu yang dirindukan generasi 80-90an.

Thursday, December 29, 2016

Hayati lelah, Bang...

21 Desember 2016, di hari yang sama 28 tahun silam, juga jatuh pada hari Rabu, banyak kejadian menakjubkan menurut alkisah Ibunda tercinta. Begitu pun dengan hari ini. Mulai dari pagi hari yang tidak bermatahari a.k.a mendung. Gulungan awan seolah arakan kerajaan majapahit melewati sebuah pedesaan. Bedanya, menurut sinema kolosal Tutur Tinular, arakan kerajaan itu disambut oleh rakyatnya yang ikhlas keluar dari rumah masing-masing dan berdiri berjejer kepala tertunduk. Memberi hormat. Sedang arakan awan yang melintasi desaku pagi tadi, memang disambut rakyat yang ikhlas keluar dari rumah, namun dengan urusannya masing-masing. Mana sempat menyambut awan. Melihat ke atas saja mungkin tidak ada yang sempat. Lebih-lebih sambil memejamkan mata menghirup udara segar.

Sampai sekitar kurang dari jam 9 pagi, turunlah hujan tanpa merasa perlu repot-repot ngasih klakson, aba-aba, tanda gelegar guntur atau kilatan petir. Baiklah, mungkin arakan itu ingin memberi kejutan. Atau justru mereka jengah karena tidak ada yang memperhatikan? Karenanya mereka mengaliri bumi dengan air penuh kedamaian. Namun, tampaknya tidak damai bagi para rakyat yang merasa terhalangi kesibukannya. Salah satunya adalah kami yang mengagendakan tepat jam 9 pagi akan melangsungkan pernikahan. Bukan, bukan saya yang menikah. Sepupu saya. Mungkin Yang Di Langit hanya ingin mengabarkan bahwa ada arakan yang perlu disambut meski hanya dengan mengingat hakikat diri masing-masing sebagai apa. Tidak mampu berbuat apa-apa tanpa Sang Kehendak. Meski persiapan sudah teramat matang dan mendidih.

Friday, December 16, 2016

Kehilanganmu

Kukira saat melihat tubuhmu yang terbujur kaku kemarin adalah hari terberat. Namun,  ternyata aku salah. Kemarin masih banyak yang mengelilingimu. Keluargamu yang mungkin lebih merasa kehilangan, teman-temanmu, para sahabat, tetangga, kenalan, atau bahkan mungkin ada pengagum rahasiamu di antara mereka. Artinya, banyak yang merasakan hal yang sama denganku. Jadi, aku tidak sendiri. Dan kau pun tidak sendiri.

Thursday, December 15, 2016

14 Desember 2016

Kamu masih ingat? Dulu, kamu selalu juara satu, dan aku cuma sanggup bertahan di juara dua. Saat itu, pikiran anak-anakku tidak pernah mendefinisikan kata bersaing di antara kita. Selain karena aku yang memang malas belajar, alibiku sudah seperti itulah takdir kita. Kalau aku menganggapmu sebagai saingan, siapa lagi teman berangkat ke sekolah bareng? Siapa lagi yang akan jadi teman sebangkuku?

Tuesday, December 13, 2016

Malam + Hujan + Sendiri = Horor

Mungkin aku terlalu sering ge'er kepada Tuhan hanya karena selalu menurunkan hujan di saat hati sedang dikelebati awan komulonimbus. See, aku nggak salah, kan? Ada mendung dan ada hujan. Walaupun mendungnya di manaa, hujannya di mana. Akhir-akhir ini memang sering turun hujan, baiklah, hujan memang turun, yang naik itu harga sembako, harga bbm, naik jabatan, naik ke singgasana, naik ke pelaminan. Eeh? Masalahnya, setiap kali galau melanda atau sedang ingin melow, pasti selalu turun hujan. Selama ini, aku selalu berpikir hujan di drama-drama atau sinetron saat lakonnya sedang merasa sedih dan menangis itu sesuatu yang mengada-ada, lebay, dan nggak realistis. Tapi, sepertinya aku harus menarik kembali anggapan itu. Dan jangan-jangan, gumiho atau rubah yang mewujud manusia itu memang ada? Iya, ada, sih. Sepertinya tidak lama lagi Negara Indonesia yang akan mewujud jadi rubah. Pernah lihat judul buku yang ditulis bapak politisi yang lagi hits baru-baru ini? Merubah Indonesia.

Monday, December 12, 2016

International (Universe) You Day


Allahumma sholi alaa sayyidina wa maulana muhammad...

Ketika rasamu terkikis dengan harapan kepada manusia,--Salah sendiri. Siapa suruh. Kena kau!--masih banyak yang menginginkan rasa itu di jagat ini, terserah rasa apa, cinta, simpati, kasih sayang, atau apa pun. Sementara menunggu cinta lain yang tumbuh di hatimu yang tidak tahu malu, tidak tidak tahu diri, dan tidak tahu diuntung itu, kamu masih bisa mencintai hewan. Oke, kamu sudah mempraktikkannya dengan memberi makan kambing yang melongok dengan wajah melas seolah nggak makan tiga puluh purnama itu, untuk ekting, harus kuakui mereka memang berbakat. Tapi, apa iya harus ngasih makanan nasi sisa kemarin yang sudah dikerumuni semut-semut nakal tanpa mau mengusir semutnya terlebih dahulu. Ya, kamu memang lagi kesal. Tapi, kan, nggak harus dendam sama kambing juga. Kasian, kan, kalau mulut mereka gatel-gatel. Mereka bukan manusia yang sudah mengerti semut gatal dan kalau kemakan otomatis menjadi peristiwa besar yang tidak tercatat dalam sejarah hidupmu. Ya, tentu saja, ketidaknyamanan yang ditimbulkan semut masih kalah dengan ketidaknyamanan yang kau timbulkan sendiri akibat membuka jendela lebar-lebar. Jendela hati. #eaaa

Saturday, December 10, 2016

Desember

"Assalamu'alaikum..."
Seseorang tiba-tiba membisiki salam dari arah belakang. Kaget? Tentu saja. Apalagi begitu berbalik, seorang wanita dengan pakaian serba hitam dan hanya mata yang terlihat, berdiri dengan manisnya. Dari sudut matanya aku bisa melihat dia sedang tersenyum lebar. Siapa?

Sunday, December 4, 2016

Balada Bapak-Anak Nonton TV



Bapak: Mana remote? Ganti, ganti! coba lihat inews!
Anak: Kenapa ganti inews? (Sbnernya dari tadi juga gonta-ganti cenel)
Bapak: Bapa suka inews, nih. Seneng lihat berita-beritanya. (sambil setengah mati pencet2 remote yang udah gak makan gak minum)
Anak: Kok bisa gitu?
Bapak: Berita-beritanya tepercaya, ulasannya bagus. Berimbang. Kayaknya cuma ini yang nggak berpihak.
Anak: Kayaknya susah, Pa, kalo nggak berpihak. Kayaknya. Hm... jangan-jangan justru karena mereka berpihak sama keinginan Bapa makanya Bapa seneng. Mereka, kan, harus bikin kita suka, biar ditonton terus.
Bapak: (diem, pandangan lurus ke tipi, mungkin dalam hati sambil berdoa, "ampuni anak hamba, ya Allah... biasanya dia gak durhaka gini.")

*untung si Bapak nggak tahu kalau anaknya malah suka lihat berita-berita di sosmed. :D

Friday, December 2, 2016

yang adil dan beradab

Kemarin lihat meme yang ngelarang nonton beberapa channel tv untuk siang tadi, salah satunya MetroTV. Tapi, saya jadi penasaran dan malah nonton channel tersebut.
Sekitar pukul 10-11 WITA, salah seorang reporter (laki-laki) tengah melaporkan situasi terkini. Di belakang reporter tersebut terlihat masa yang berlalu-lalang dengan tertib.

Thursday, November 17, 2016

Azan di Desa


Selama hampir 28 tahun saya hidup di dunia, baru kali ini menyadari satu hal tentang desa ini. Well, memang sih, dari 28 tahun itu jika ditotal paling hanya sekitar 7 atau 8 tahun saya bener-bener berada di desa ini. Utuhnya 6 tahun selama sekolah dasar, 1-2 tahunnya akumulasi kalo mudik pas liburan termasuk yang sekarang. 5 tahun pertama di tempat lahir. 15 tahun sisanya saya keluyuran. Hitung-hitungan semacam ini pasti terpengaruh faktor kesadaran akan usia yang semakin menua, namun belum juga melakukan hal penting, berguna, bermanfaat untuk bangsa, negara, dan agama? Duh, jauuuh... oke, setidaknya untuk diri sendiri lah. Menikah misalnya. (Eeaa...)

Wednesday, November 2, 2016

Pintu dan Jendela



Pernah denger ungkapan "Buku adalah jendela dunia"?
Sebuah rumah biasanya tidak hanya memiliki jendela. Ada juga yang namanya pintu. Jika buku adalah jendela. Lalu, di mana pintunya?

Tuesday, October 18, 2016

Ibu

"Ibu perhatikan... laju motornya selalu dipelanin setiap lewat depan rumah kita."
"Siapa?"
"Ya anak itu, yang kemarin Ibu cerita."
"Baiklah, Ibu memang memiliki kepercayaan diri tinggi. Tapi, itu namanya over PD."
"Lho apa? Emang bener, kok, wong dia sambil lirak-lirik ke sini."
"Ibu, plis, deh... jangan ge'er."

Di atas sebenernya hanya prolog yang tidak ada kaitannya dengan yang ingin saya tulis sekarang. Kalau biasanya tulisan di blog ini, awalnya ingin menulis tema berbobot, dan ternyata ujung-ujungnya selalu lari ke curhat jodoh. Kali ini, saya ingin melakukan sebaliknya.

Ibu, Ibu adalah makhluk Tuhan yang paling nggak ngebosenin buat diceritain.

Saturday, September 24, 2016

Wisdom

Satu hal yang paling saya ingat dari seorang dosen--yang pernah ngaku sebagai 'bapak angkat' saya :D --adalah kata-katanya yang senantiasa mengandung 'hikmah'. Pernah suatu ketika, saat bekerja part-time di lab. jurusan, saya diminta membuat surat permohonan pengadaan barang ATK-entah apa, opening surat yang saya buat kira-kira begini, "Sehubungan dengan tidak adanya bla..bla..bla.." kalimat tersebut mendapat coretan 'menyakitkan' khas beliau. Namun, 'bapak angkat' saya bukanlah seorang bos dalam novel yang saya baca yang mengkritik tanpa memberi penjelasan sehingga sekretarisnya harus mengerti segala keinginannya tanpa dia jelaskan. Bukan. Setelah mencoret, beliau menjelaskan bahwa dalam surat permohonan seperti ini jangan menggunakan kalimat negatif. Maksudnya kalimat negatif dalam aturan bahasa Inggris. Kalimat "Sehubungan dengan TIDAK adanya bla..bla..bla.." sebaiknya diganti dengan kalimat semisal "Sehubungan dengan adanya peningkatan kinerja bla..bla.. maka dibutuhkan bla..bla..bla..." ini contoh jeleknya saja, redaksional tepatnya saya tidak begitu ingat. Tentu saja kalimat yang beliau sarankan lebih bagus, lebih tertata teratur, lebih positif, dan lebih sopan.

Friday, September 9, 2016

Takjub

Sekitar 20 tahun lalu, tak sengaja seorang anak kecil menemukan buku cerita dengan ketebalan 1 cm berukuran kira-kira 6 x 18 cm di antara tumpukan rak buku ayahnya. Pada sampulnya yang usang tertulis judul "Wali Songo". Hanya itu yang terekam, kata atau kalimat sebelum dan sesudahnya dia sudah tak ingat. Saat itu, dia masih duduk di bangku madrasah setara SD, tepatnya kelas berapa dia pun sudah tidak mengingatnya. Satu yang jelas, buku itu sudah tidak ada sekarang, terakhir kali ia ingat sekali, buku itu dipinjam guru ngajinya. Beberapa kali minta dikembalikan, tapi guru yang juga mengajarkan ia dan teman-temannya shalawat keliling desa itu selalu menjawab, "Sebenernya saya sudah selesai membacanya, tapi, saya harus baca ulang lagi dua atau tiga kali agar bisa menghafal ceritanya untuk diceritakan ke teman-temanmu."

Sunday, August 28, 2016

Curhat Pengangguran

Oh astaga, ternyata surat-surat dari distrik pada postingan sebelumnya belum selesai dibalas. Maapkan aku, wahai Blog. Mungkin kamu agak kecewa karena salah satu penggunamu ini tidak konsisten. Suka sekali membuat tulisan yang tidak selesai, setengah-setengah, ababil, sok sibuk. Ya, aku akan mengakui, akhir-akhir ini memang agak sibuk. Jangan bayangkan sibuk beneran. Sebenarnya, aku tidak sibuk, eh, sibuk ding. Eh, enggak sibuk. Aissh, sudahlah, yang jelas saat menulis di sini aku sedang lari dari empat naskah yang menunggu diutak-atik. Dan aku belum juga mau menyentuhnya. Selain karenanya nyantai belum dibayar di muka, aku terlanjur berada di zona nyaman. Males ngapa-ngapain.