Wednesday, February 7, 2018

Jagalah hati!



Saat kamu dengan sengaja menunjukkan hal-hal baik dirimu dengan mengharap pujian dari orang lain. Katanya itu termasuk riya'. Pun tanpa kamu mengharap pujian dari orang lain, tapi kamu sudah merasa senang/bangga akan kebaikan yang kamu lakukan. Katanya itu ujub. Apalagi jika kamu meremehkan orang lain (walaupun dalam hati) yang tidak melakukan kebaikan yang sama. Itu namanya entah apa. Saya lupa. Jadi, ketika kamu sengaja menunjukkan kebaikan dengan menyembunyikan sisi burukmu. Katanya itu munafik. Tapi juga, kamu gak harus sengaja terlihat buruk hanya karena tidak ingin menyombongkan kebaikan. Keduanya sama saja sombong.
Jujur adalah yang terbaik.

Wednesday, January 31, 2018

Dilan dan Bulan

Rame, ya, fenomena Dilan ini. Sepertinya bakal ngalahin fenomena Super blue blood moon untuk durasinya. Kenapa? Super blue blood moon hanya terjadi malam ini. Seharian tadi hingga besok timeline hampir di semua media sosial dipenuhi foto bulan dari kualitas terburuk--karena keterbatasan kamera--hingga foto dengan kualitas terbaik layak dibeli majalah astronomi. Tapi, paling setelah besok udah hilang. Nggak ada lagi yang ngomongin bulan. Lain cerita dengan Dilan. Dari waktu novelnya terbit, baru sedikit yang baca, dan mereka yang sedikit itu udah mulai ngomongin Dilan, udah tergila-gila dengan Dilan. Waktu itu, saya menganggap kalangan mereka punya segmen bacaan yang unik. Apa pasal, sebelum Dilan terbit, pertama kali saya dikenalkan oleh Atasan saya waktu itu tulisan Pidi Baiq yang unik dan agak... bukan, sangat, sangat berbeda dan sangat gila. Agak-agak sedeng. Ingat betul waktu itu sedang hunting buku di Pameran Buku Bandung (atau IBF ya? Ya itu lah... yang jelas di Bandung), Atasan saya mengambil salah satu buku berjudul "Hanya Salju dan Pisau Batu" dan menunjukkan bagian belakang sampulnya. Kalau tidak salah ingat di sana tertulis beberapa testimoni mengenai buku itu. Yang unik adalah, kalau buku orang lain testimoninya ditulis oleh tokoh-tokoh terkenal, seperti penulis, budayawan, artis, presiden, ketua DPR, atau siapa saja yang relevan dengan tema buku. Lain cerita yang memberi testimoni untuk buku Surayah Pidi Baiq ini. Anda bisa menebaknya? Mereka adalah tetangganya, tukang kebun, Mamang penjual sayur yang lewat depan rumahnya, ketua RT, dan tokoh-tokoh tak terduga lainnya. See?

Saya melihat beberapa buku Pidi Baiq yang lain juga semuanya stres. Tidak ada satu pun yang menunjukkan ke jalan yang lurus. Akhirnya saya beli dua buku yang didiskon saat itu "Drunken Marmut" dan yang tadi "Hanya Salju dan Pisau Batu". Yang belum diskon belum saya beli, termasuk Dilan. Eh.

Sekitar tahun 2015 novel Dilan terbit, beberapa teman yang sudah baca langsung kena Dilan syndrome. Kutipan dialog-dialog (baca: gombalan-gombalan) Dilan yang memang berkelas (atau receh?) itu memenuhi hari-hari mereka. Menarik dan lucu, sih. Saya selalu suka baca kutipan-kutipan mereka. Tapi, belum juga tergoda untuk membaca novelnya. Mungkin takut kena Dilan syndrome juga. Hingga novel Dilan akhirnya best-seller pun, saya belum membacanya. Waktu Harbolnas udah order di Gramed, udah bayar juga. Eh, dapat email permohonan maaf, dana akan dikembalikan. Sepertinya belum bertakdir membaca novel itu. Selama ini, saya hanya mengikuti cuitan Surayah, juga cuitan follower yang selalu beliau balas dengan kata-kata khas, hingga berfoto dengan begron kutipan beliau di jalan Asia Afrika sana.

"Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi."_Pidi Baiq.

Dan Bandung bagi saya belum sejauh itu. Hanya saja, saya belajar keramahan dan bobodoran (ini bener ga si?) dari kota itu. Dari profesi OB, sekuriti, hingga direktur doyannya melucu. Bahkan seorang Ustadz pun sempat mengocok perut jamaah saat khutbah Idul Adha. Iya, itu pengalaman mendengar khutbah shalat Id pertama kali yang ngalahin stand up comedy, namun juga tidak menghilangkan esensi khutbah itu sendiri.

Segala sesuatu mengenai Bandung memang menyenangkan, nggak cuma orang-orangnya baik, akang-akangnya yang kasep, eneng-enengnya yang geulis, yang gak kasep biasanya lucu seperti Sule. Lebih jauh dari itu, sosok Dilan sepertinya akan dapat mengancam standarisasi gombalan dan rayuan di tingkat nasional. Jika gombalan kalian tidak berkelas dan unik seperti Dilan jangan harap akan ada yang tergoda. 😂

Tulisan-tulisan Pidi Baiq--yang imigran dari Surga ke Bandung ini--bagi saya seperti guru yang selalu mengajarkan muridnya untuk berpikir dan memiliki logika yang tidak biasa. Mengajarkan bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak hanya bisa dilihat dengan satu sudut pandang. Bahwa segala sesuatu itu memiliki sisi yang membahagiakan tergantung bagaimana kita menilainya. Tergantung bagaimana kita memilih untuk bersedih atau berbahagia. Semoga sosok Pidi Baiq tidak tenggelam oleh Iqbaal, eh, Dilan. Well, kebahagiaan penulis adalah saat karakter ciptaannya seolah nyata. Selamat, Ayah.

Tuesday, January 16, 2018

Berhala Subsidi

"Pupu ru'u masyarakat ke. Ne'em da mbei!" (Pupuk buat masyarakat, nih. Kok nggak dikasih!) Kalimat itu keluar dari seorang pemuda yang tidak saya kenal datang melemparkan 3 lembar rupiah bernilai 2 sak pupuk yang dia paksa ambil langsung dari buruh yang sedang sibuk menurunkan pupuk urea dari truk ke dalam toko. Saya tidak bisa menerima uang itu selain karena saya tidak mengetahui apakah namanya ada dalam daftar gapoktan atau tidak, juga karena caranya yang kasar, juga karena memang saya tidak diizinkan untuk menjual pupuk urea ini sementara pemilik tokonya (Bapak/Ibu.red) masih di sekolah.

Sebenarnya saya ingin membalas dan mendebat kalimat yang dia ucapkan tadi. Tapi, pemuda itu tergesa-gesa setelah 2 sak pupuk terangkut di atas sepeda motornya. Mungkin tanaman (entah bawang atau padi) di sawahnya sudah "kelaparan" harus segera diberi pupuk. Saya berharap dia benar-benar anak petani yang sedang membantu orangtuanya atau seorang suami yang menafkahi keluarganya dari hasil pertanian. Belakangan saya mengetahui kalau yang tadi itu ternyata preman. Itu kata warga lain yang sudah mengerubungi saya, mengerubungi pupuk maksud saya. Dan laporan dari buruh dan sopir yang bawa pupuk juga ternyata komplotannya tadi sudah menghadang truk itu di ujung desa. Mengancam untuk menurunkan 2 sak pupuk. Tapi, juga mereka memberikan uang. Ia mereka membayar harga 2 sak pupuk itu. Sungguh mulia, kan, mereka? Mereka tidak mencuri. Mereka hanya membeli pupuk bersubsidi itu di tengah jalan.

Thursday, January 11, 2018

Mafia Pupuk


Saya tinggal di sebuah Desa bernama Ngali. Sekali lagi, NGALI. Kenapa saya bahkan merinding menyebut nama Desa saya sendiri? Entahlah. Yang jelas, jika kalian menyebut nama Ngali di kawasan Bima dan Dompu, bahkan mungkin NTB, orang yang mengetahuinya tidak pernah tidak ingin memastikannya kembali. "Apah?? Ngali?", "Wah, dou (orang) Ngali?", "Ngali? Ngali yang di sana?", "Ngali?", "Oh, Ngali...". Itu yang terakhir biasanya komentar mereka yang memiliki sifat kul, cuek atau yang sedang pura-pura tahu Ngali padahal enggak. "Ngali?? Ngali yang sering perang itu?" Itu pasti komentar orang yang belum pernah ke Ngali dan hanya mengetahui Ngali waktu rame peristiwa perang. Ya, perang. Jika kalian membayangkan perang seperti zaman penjajahan. Itu enggak salah. Kami memang pernah berperang melawan penjajah, dulu. Dan itu jadi perkakas kesombongan orang Ngali. Dan berperang melawan desa sebelah. Perang sungguhan.

Tuesday, May 30, 2017

Sombong



"Ninaee... berangkat ke Pegadaian, ya! Kaka Nu gak ada, lagi ke Sumbawa. Ibu harus ke sekolah."

"Ke Pegadean? Ngapain, Buk?"

"Bayar kreasi."

"Oh, boleh..." saya menyahut sambil googling keyword "kreasi pegadaian"

Baiklah, saya akhirnya tahu kalau Bayar kreasi sama artinya dengan bayar utang. Tadinya saya ingin berpikir selama ini nggak nyangka Ibu punya hasil kreasi atau telah membeli hasil kreasi entah siapa yang harus dibayar.

Tapi, ke Pegadaian?

Jadi, pegadaian nggak cuma mengatasi masalah tanpa masalah. Ini masalah. Pertama, Pegadaian adalah tempat yang pernah saya berjanji pada diri sendiri, nggak akan pernah mau berurusan dengannya. Nggak ada alasan khusus, hanya tidak mau. Emm... mungkin juga ini karena dalam pikiran sempit saya, yang ke pegadaian itu kebanyakan ibu-ibu susah. Dan saya nggak mau susah atau terlihat susah. Kalo sampai saya ketahuan datang ke sana berarti, kan, saya lagi susah. Songong, ya?

Kedua, saya nggak mau kelihatan orang punya masalah finansial dengan datang ke Pegadaian, kalopun butuh uang saya akan bekerja, bekerja apa saja atau bisnis apa saja yang halal. Ke pegadaian saat butuh uang itu entah kenapa bagi saya kurang berkelas. Barang-barang yang mau digadaikan paling perhiasan, kendaraan, rumah, tanah, dan aset lainnya. Masalahnya, saya tidak punya itu semua. Haha...

Ketiga, dengan menggadaikan barang, mendapatkan utang, dan membayar cicilannya tiap bulan, bukankah membuat masalah semakin panjang. Jadi, sebaiknya dari sekarang saya akan rajin menabung saja (Baru sekarang? - -').

Poin pentingnya, dulu saya pernah memiliki tekat kuat nggak akan pernah menginjak kantor Pegadaian hanya karena ingin mengatakan pada dunia:

"Pegadaian? Tempat apa itu? Sorry, nggak pernah tuh ke sana."

Well, obat dari kesombongan ini, saya harus menebus dan membayarnya sekarang. Yah, walaupun ke sana karena disuruh orang lain, sih. Untungnya.

Kejadian lain yang sejenis adalah soal jilbab, hijab, atau berhijab.
Saya sudah memakai jilbab sedari kecil. Tidak ada seorang pun yang (bukan mahram) pernah melihat kepala saya, maksudnya tanpa ditutup sesuatu, meskipun itu sepupu yang sering datang ke rumah. Saya memegang teguh prinsip ini sampai dewasa. Sampai kuliah. Saya tidak ingin melepas jilbab saat keluar rumah atau saat ada orang yang bukan mahrom. Tidak boleh sama sekali. Saya harus suci dan terlindungi. Kelak, hal ini bisa menjadi kebanggaan saya.

Sampai suatu ketika, saat KKN, bercampur baur cewek-cowok. Walaupun tinggal di rumah yang berbeda (sebelahan), anak-anak cowok makan dan nonton tivinya di rumah yang kami tempati. Masih subuh, saya bangun tidur dan keluar dari kamar tanpa memakai jilbab, hanya ingin mengecek sudah jam berapa. Belum sempurna mata terbuka, saya dibuat kaget oleh salah seorang teman yang berdiri dengan santainya nyender di rak pembatas ruang tengah dan ruang tamu samping pintu kamar. Tanpa berkata apa-apa. Mungkin dia juga kaget. Saya tidak tau dia sedang apa. Masalahnya adalah... dia cowok! Ya, cowok. Dan saya... oh God! Kepala.. rambut saya, rambut! Saya spontan masuk kembali, membanting pintu, duduk terpaku di tepi ranjang, mengabaikan teman sekamar yang bertanya "Ada apa, Nin?",
Sedetik,
Dua detik,
Lima detik,
Sepuluh detik,
"Nin, kamu kenapa?"
Bukannya menjawab, saya malah menangis sejadi-jadinya. Bukan karena malu rambut acak-acakan atau iler yang masih nempel. Saat itu, entah kenapa saya merasa sudah tidak suci lagi.

Saya marah semarah-marahnya pada anak itu. Menyalahkan dia yang diam-diam berdiri di sana tanpa memberi kode atau aba-aba. Tapi, setelahnya saya tahu, ternyata dia sedang menunggu teman sekamar saya menggambilkan sesuatu entah apa yang ingin dia pinjam.

Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun, bahkan hingga kalau tidak gegara kasus pegadaian tadi, saya akan terus menyesali kejadian itu dan menyalahkan keadaan yang sudah membuat saya merasa tidak suci. Jadi, baru saja, baru hari ini, baru saat Ibu menyuruh ke Pegadaian, saya disentil bahwa selama ini saya sudah sombong. Sombong menganggap diri suci hanya karena tidak ada yang pernah melihat kepala saya. Bahwa sudah sejak saat itu saya ditegur dengan membuat teman saya tadi melenyapkan apa yang selama ini saya bangga-banggakan. Bahwa sejak saat itu hingga kapan pun saya memang tidak sebaik, tidak sesoleha, tidak seterpelihara, tidak sesuci yang saya pikirkan. Karena memang hanya Dia Yang Mahasuci.


Monday, May 22, 2017

Drama


Tidak ada gempa bumi
Tidak ada gunung meletus
Tidak ada komet atau meteor jatuh di atap rumah
Lalu, suara apa tadi, gedebuk?

Kemudian, aku malu
Saat menyadari itu suara dari dalam sana
Ya, dari jantung
Mungkin

Tidak, aku tidak punya riwayat penyakit jantung
Ini hanya terjadi sekali-sekali
Saat aku merasa.... bahagia
Oh, bukan, bukan bahagia yang biasa
Pernah merasa karena terlalu bahagianya
sampai membuatmu menangis?
Ya, seperti itulah.

[BMU22517]



















Wednesday, May 10, 2017

Ramaharamarahmahar #eh?

Mengapa manusia perlu bersikap ramah? Ya, sebaiknya manusia perlu bersikap ramah sebelum benar-benar menjadi zombie karena semua kebutuhan dipenuhi mesin. Sebelum mesin menjadi lebih hidup dari manusia. Sebelum manusia benar-benar digantikan oleh mesin.
Pernah lihat mesin penjual minuman dingin? Biasanya ada di stasiun atau terminal, terminal bandara tentu saja. Terminal bus sejauh ini masih dikuasai kaum bapak-bapak dengan kalimat andalannya "Yang aus... Yang aus... Akua... akua.... mijon... mijon.... dingin...dingin..."

Sunday, March 19, 2017

Yuk ah! (2)

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 21 jam. Sampailah kita di Pelabuhan Perak, Surabaya. KMP Legundi disambut dengan cuaca hujan di beberapa daerah dan kabut sore yang tidak dingin. Hangat. Itulah Surabaya.


Thursday, March 2, 2017

"Bila engkau melihat keindahan dan kesempurnaan di dalam dunia ini, hal itu bukan apa-apa melainkan pertanda dari-Nya. Makhluk yang indah hanyalah sekumpulan bunga dari taman Tuhan yang membentang luas. Jika engkau memiliki mata untuk melihat kesempurnaan, maka engkau juga harus memiliki ketajaman untuk melihat bahwa apa yang engkau lihat adalah semata-mata bayangan cerminan paras wajah-Nya. Rupaku juga gambaran keindahan Tuhan. Tetapi engkau harus tahu bahwa sebuah lukisan akan pudar, bunga akan mati, dan bayangan cermin akan pudar oleh Cahaya yang sebenarnya. Adalah Dia Yang Nyata dan akan tetap demikian selamanya. Dalam hal ini, mengapa engkau membuang waktumu atas sesuatu yang ada di sini hari ini namun besok akan sirna? Pergilah langsung menemui Sang Sumber, jangan ditunda."

*Hikayat: nasihat Yusuf kepada Bazigah.

Saturday, February 25, 2017

Yuk ah!


Sebenernya ini nekat dan nyari gara-gara. Berangkat ke Lombok bermotor. Cuma berdua. Dan hei... kalian itu sama-sama cewek. Lombok itu jauh, Nakk... kalo di jalan, di tengah hutan, di atas gunung itu ada apa-apa gimana? Setidaknya itu sepatah dua kalimat kekhawatiran Bapak dan Ibu. "Kenapa nggak naik pesawat aja, sih? Udah, nggak usah macem-macem, pake pesawat aja. Biar Bapak belikan tiket sekarang." Perfect! Sempurna sudah betapa nggak kerennya aku. Udahlah jadi anak setua ini nggak pernah ngasih apa-apa ke orangtua, sekarang malah minta dibelikan tiket. Anak macam apa itu?

Saturday, January 7, 2017

Bima Berguncang, Hatiku Juga. #eh

"Siapa yang tahu bahasa Inggrisnyaaa eeemmp...."

"Epu... epu.. epuuuu!!" Epu bukan bahasa Inggris, tentu saja. Epu bahasa Bima, artinya "gempa". Sontak semua anak berlarian. Aku? Aku juga ikut lari. Kami menuruni tangga dengan wajah panik, takut. Dalam hati aku merapal doa, apa saja, yang jelas meminta agar tangga ini nggak runtuh seperti runtuhnya hatiku saat tahu ternyata cintaku bertepuk sebelah tangan (Eeaaa...). Ya, baru saja Bima gempa lagi, tadi sekitar jam 5 sore. Kami yang sedang asik belajar angka bahasa Inggris dikagetkan dengan lantai, meja, kursi yang mendadak goyang zumba. Gempa itu kerasa banget karena kami sedang berada di lantai atas yang baru dua hari ini sengaja saya sulap jadi kamar baca.



Thursday, January 5, 2017

Nonton Dunia Terbalik



Persinetronan Indonesia akhirnya dapat bernapas lega dari drama lebay bin alay khas sinetron kita. Sorot mata tajam dengan backsound darr derr dorr dramatis setiap muncul pemeran antagonisnya menjadi ciri khas tak tergadaikan. Sehingga kemunculan sinetron seperti Tuyul dan Mbak Yul atau Jin dan Jun menjadi sesuatu yang dirindukan generasi 80-90an.

Thursday, December 29, 2016

Hayati lelah, Bang...

21 Desember 2016, di hari yang sama 28 tahun silam, juga jatuh pada hari Rabu, banyak kejadian menakjubkan menurut alkisah Ibunda tercinta. Begitu pun dengan hari ini. Mulai dari pagi hari yang tidak bermatahari a.k.a mendung. Gulungan awan seolah arakan kerajaan majapahit melewati sebuah pedesaan. Bedanya, menurut sinema kolosal Tutur Tinular, arakan kerajaan itu disambut oleh rakyatnya yang ikhlas keluar dari rumah masing-masing dan berdiri berjejer kepala tertunduk. Memberi hormat. Sedang arakan awan yang melintasi desaku pagi tadi, memang disambut rakyat yang ikhlas keluar dari rumah, namun dengan urusannya masing-masing. Mana sempat menyambut awan. Melihat ke atas saja mungkin tidak ada yang sempat. Lebih-lebih sambil memejamkan mata menghirup udara segar.

Sampai sekitar kurang dari jam 9 pagi, turunlah hujan tanpa merasa perlu repot-repot ngasih klakson, aba-aba, tanda gelegar guntur atau kilatan petir. Baiklah, mungkin arakan itu ingin memberi kejutan. Atau justru mereka jengah karena tidak ada yang memperhatikan? Karenanya mereka mengaliri bumi dengan air penuh kedamaian. Namun, tampaknya tidak damai bagi para rakyat yang merasa terhalangi kesibukannya. Salah satunya adalah kami yang mengagendakan tepat jam 9 pagi akan melangsungkan pernikahan. Bukan, bukan saya yang menikah. Sepupu saya. Mungkin Yang Di Langit hanya ingin mengabarkan bahwa ada arakan yang perlu disambut meski hanya dengan mengingat hakikat diri masing-masing sebagai apa. Tidak mampu berbuat apa-apa tanpa Sang Kehendak. Meski persiapan sudah teramat matang dan mendidih.

Friday, December 16, 2016

Kehilanganmu

Kukira saat melihat tubuhmu yang terbujur kaku kemarin adalah hari terberat. Namun,  ternyata aku salah. Kemarin masih banyak yang mengelilingimu. Keluargamu yang mungkin lebih merasa kehilangan, teman-temanmu, para sahabat, tetangga, kenalan, atau bahkan mungkin ada pengagum rahasiamu di antara mereka. Artinya, banyak yang merasakan hal yang sama denganku. Jadi, aku tidak sendiri. Dan kau pun tidak sendiri.

Thursday, December 15, 2016

14 Desember 2016

Kamu masih ingat? Dulu, kamu selalu juara satu, dan aku cuma sanggup bertahan di juara dua. Saat itu, pikiran anak-anakku tidak pernah mendefinisikan kata bersaing di antara kita. Selain karena aku yang memang malas belajar, alibiku sudah seperti itulah takdir kita. Kalau aku menganggapmu sebagai saingan, siapa lagi teman berangkat ke sekolah bareng? Siapa lagi yang akan jadi teman sebangkuku?

Tuesday, December 13, 2016

Malam + Hujan + Sendiri = Horor

Mungkin aku terlalu sering ge'er kepada Tuhan hanya karena selalu menurunkan hujan di saat hati sedang dikelebati awan komulonimbus. See, aku nggak salah, kan? Ada mendung dan ada hujan. Walaupun mendungnya di manaa, hujannya di mana. Akhir-akhir ini memang sering turun hujan, baiklah, hujan memang turun, yang naik itu harga sembako, harga bbm, naik jabatan, naik ke singgasana, naik ke pelaminan. Eeh? Masalahnya, setiap kali galau melanda atau sedang ingin melow, pasti selalu turun hujan. Selama ini, aku selalu berpikir hujan di drama-drama atau sinetron saat lakonnya sedang merasa sedih dan menangis itu sesuatu yang mengada-ada, lebay, dan nggak realistis. Tapi, sepertinya aku harus menarik kembali anggapan itu. Dan jangan-jangan, gumiho atau rubah yang mewujud manusia itu memang ada? Iya, ada, sih. Sepertinya tidak lama lagi Negara Indonesia yang akan mewujud jadi rubah. Pernah lihat judul buku yang ditulis bapak politisi yang lagi hits baru-baru ini? Merubah Indonesia.

Monday, December 12, 2016

International (Universe) You Day


Allahumma sholi alaa sayyidina wa maulana muhammad...

Ketika rasamu terkikis dengan harapan kepada manusia,--Salah sendiri. Siapa suruh. Kena kau!--masih banyak yang menginginkan rasa itu di jagat ini, terserah rasa apa, cinta, simpati, kasih sayang, atau apa pun. Sementara menunggu cinta lain yang tumbuh di hatimu yang tidak tahu malu, tidak tidak tahu diri, dan tidak tahu diuntung itu, kamu masih bisa mencintai hewan. Oke, kamu sudah mempraktikkannya dengan memberi makan kambing yang melongok dengan wajah melas seolah nggak makan tiga puluh purnama itu, untuk ekting, harus kuakui mereka memang berbakat. Tapi, apa iya harus ngasih makanan nasi sisa kemarin yang sudah dikerumuni semut-semut nakal tanpa mau mengusir semutnya terlebih dahulu. Ya, kamu memang lagi kesal. Tapi, kan, nggak harus dendam sama kambing juga. Kasian, kan, kalau mulut mereka gatel-gatel. Mereka bukan manusia yang sudah mengerti semut gatal dan kalau kemakan otomatis menjadi peristiwa besar yang tidak tercatat dalam sejarah hidupmu. Ya, tentu saja, ketidaknyamanan yang ditimbulkan semut masih kalah dengan ketidaknyamanan yang kau timbulkan sendiri akibat membuka jendela lebar-lebar. Jendela hati. #eaaa

Saturday, December 10, 2016

Desember

"Assalamu'alaikum..."
Seseorang tiba-tiba membisiki salam dari arah belakang. Kaget? Tentu saja. Apalagi begitu berbalik, seorang wanita dengan pakaian serba hitam dan hanya mata yang terlihat, berdiri dengan manisnya. Dari sudut matanya aku bisa melihat dia sedang tersenyum lebar. Siapa?

Sunday, December 4, 2016

Balada Bapak-Anak Nonton TV



Bapak: Mana remote? Ganti, ganti! coba lihat inews!
Anak: Kenapa ganti inews? (Sbnernya dari tadi juga gonta-ganti cenel)
Bapak: Bapa suka inews, nih. Seneng lihat berita-beritanya. (sambil setengah mati pencet2 remote yang udah gak makan gak minum)
Anak: Kok bisa gitu?
Bapak: Berita-beritanya tepercaya, ulasannya bagus. Berimbang. Kayaknya cuma ini yang nggak berpihak.
Anak: Kayaknya susah, Pa, kalo nggak berpihak. Kayaknya. Hm... jangan-jangan justru karena mereka berpihak sama keinginan Bapa makanya Bapa seneng. Mereka, kan, harus bikin kita suka, biar ditonton terus.
Bapak: (diem, pandangan lurus ke tipi, mungkin dalam hati sambil berdoa, "ampuni anak hamba, ya Allah... biasanya dia gak durhaka gini.")

*untung si Bapak nggak tahu kalau anaknya malah suka lihat berita-berita di sosmed. :D

Friday, December 2, 2016

yang adil dan beradab

Kemarin lihat meme yang ngelarang nonton beberapa channel tv untuk siang tadi, salah satunya MetroTV. Tapi, saya jadi penasaran dan malah nonton channel tersebut.
Sekitar pukul 10-11 WITA, salah seorang reporter (laki-laki) tengah melaporkan situasi terkini. Di belakang reporter tersebut terlihat masa yang berlalu-lalang dengan tertib.